Sabtu, 10 Desember 2011

'Berlibur' ke Australia (Part 1 of 2)

Alhamdulillah, akhirnya dapat juga kesempatan 'berlibur' ke Brisbane :D. mmmm ... sebenarnya bukan benar-benar berlibur sih, aku dikirim ke sini untuk mengikuti training Aircraft Structural Repair for Engineers (SRE) nya Boeing, tanggal 24 Okt sampai 4 Nov 2011. Lumayan tuh, bayangin, ikut training Boeing aja sudah bagus, ini sekaligus ikut dua training SRE Part 2 dan Part 3. Udah gitu yang dikirim dua orang (bareng Johannes), jadinya gak lonely banget.

Sebelum berangkat, seperti biasa kita cari-cari info, mulai dari penginapan dan petanya, rute bandara - penginapan - tempat training, dan tentunya gak ketinggalan mencari info barang apa saja yang gak boleh dibawa masuk ke Australia. Aku udah pernah ke Sydney sih dulu, tapi waktu itu gak kefikiran bawa macem-macem, jadi gak terlalu aware. Nah kalau sekarang kefikiran mau bawa makanan macem-macem. Selain ngirit, juga khawatir sulit mencari makanan yang halal.

Akhirnya kita googling, dapat di situs AQIS Website ditulis barang-barang yang harus di-declare apa aja, seperti makanan, produk tumbuhan (beras), produk hewan, dll. Kalau gak di-declare bisa kena denda AUD 200 atau bisa juga di-jailed. Udah gitu kita juga sempat googling blog orang yang tinggal di Australia, sempat ngimel temen juga, intinya dibilang Australia ketat. Tapi iseng-iseng kita tetap bawa rice cooker, beras, Indomie, sarden, kornet, abon, biskuit, kecap, saos, walaupun jumlahnya terbatas karena khawatir juga kalau direject malah kebuang nantinya - takut mubazir.

Sebelum berangkat kita juga sempat mikir, mau nuker uang di Jakarta atau di Australia. Nasri (istriku - red) sempat ngecek di Thamrin, katanya dari USD harus exchange ke Rp terus ke AUD, jadinya dari USD 1800-an mungkin cuman dapet AUD 1700-an. Difikir-fikir kayaknya rugi dua kali, akhirnya kita batalin nuker uang.

Akhirnya berangkat juga hari Sabtu malem. Aku mesan taxi Express by phone, tapi operatornya bilang baru bisa konfirmasi 15 menit sebelum keberangkatan. Jadinya gambling juga, beda dengan Blue Bird, yang kalau kita telfon bisa langsung confirm. Sepuluh menit sebelum jadwalnya aku nelfon taxi Express lagi dan dibilang belum dapet, akhirnya aku cancel dan hunting taxi di jalan. Next time kayaknya 'gak banget deh' mesen taxi Express via phone kalau jam nya strict.

Pesawat berangkat hari Sabtu jam 11.30 dari Cengkareng. Kita naik GA-712, pesawat A330-200, PK-GPL. Di pesawat mainly tidur aja, diselingi makan, minum dan sedikit ngetes entertainmentnya. Sampai Sydney hari Minggu pagi jam 10, terus kita lanjut naik Qantas ke Brisbane, pesawatnya B767. Berangkat dari Sydney jam 13.30 sampai Brisbane jam 14.00, semuanya waktu lokal. Agak aneh kalau di peta, Brisbane sedikit lebih ke timur dari Sydney, tapi beda waktu hanya 3 jam dari Jakarta, sedang Sydney beda waktu 4 jam. O iya, di pesawat Qantas di pojok bawah entry door ada repair-an doubler, dan ternyata diberi label, misal FL-06, jadi inget redelivery :D.

Waktu di Sydney, sedikit deg-degan barang apa aja yang bakalan harus dibuang. Kita udah centrang kartu "Incoming Passenger Card" di item "food", "plant", "animal", "soil" ... begitu sampai ke petugas Quarantine, aku tanya perlu buka koper gak ? Karena dia gak nanggepin - mungkin gak denger - langsung aku masukin koper ke X-Ray. Petugasnya kayaknya asyik ngobrol, gak terlalu merhatiin mesin x-ray. Alhasil, semua barangku selamat gak ada yang direject. Kalau tahu begitu aku bawa lebih banyak bekal deh, dan lebih variatif.

Di Brisbane kita sampai di bandara domestik, langsung ambil bagasi dan turun ke lantai satu. Terus kita celingukan nyari money changer, agak susah nemunya, ternyata adanya di lantai dua - harus balik ke security check lagi, terus naik elevator. Kita nuker di Travelex, uang USD 2600 dapet AUD 2342. Gak tau deh, mending nuker di bandara atau di Thamrin.

Dari bandara kita naik kereta Air Train, bayarnya masing-masing AUD 15, langsung sampai stasiun Central. btw orang australia mannernya tidak terlalu baik - untuk ukuran negara maju. Menyeberang jalan gak nunggu lampu hijau, di kereta/bis banyak yang santai duduk di kursi disable/elder/pregnant, malah di kereta sempat ada yang ngangkat kaki ke kursi di depannya. Informasi di kereta juga tidak terlalu informatif dibanding di Tokyo, tahun 1999. Tidak ada peta di stasiun, mungkin karena Brisbane bukan ibukota negara.

Dari stasiun Central, jalan kaki kira-kira setengah kilometer, sampai ke Oxygen Apartment. Karena kita datang hari minggu sore, gak ada receptionist, kita cuman bicara via phone ditunjukkan tempat mengambil kunci kamar. Masuk kamar, apartmentnya lumayan juga, at least kita bisa self service, ada kitchen lengkap dengan peralatannya, mesin cuci, setrika. We can survive ... :D with minimum cost ... hehehe.

Malamnya kita sempat jalan-jalan sebentar ke pinggir Brisbane River, kita jalan sampai Story Bridge, gak terlalu jauh dari rumah. Tapi karena udah rada capek, kita cuman sebentar menyusuri sungai. Ada tempat jogging dan track sepeda di sepanjang pinggir sungai. Di kejauhan ada keramaian, belakangan kita tahu itu daerah di sekitar Waterfront Place, Eagle St Pier.

Hari Senin, hari pertama training. Berbekal rute kereta yang kita akses di internet dan petanya ada di stasiun-stasiun, kita berencana naik Eagle Junction-Myrtletown Railbus. Ternyata rute tersebut sudah tidak beroperasi, sehingga kita terpaksa naik bus. Yang menyebalkan tidak ada peta rute bus di stasiun/halte, sehingga kalau tidak bisa mengakses internet di jalan, bakalan susah nyari rute - kecuali kalau udah hafal. Alhasil hari pertama kita harus jalan kaki ke tempat training lebih dari satu kilometer, melewati gudang militer tempat naro mobil-mobil, dan daerah kosong - berasa lost in the city. Tapi akhirnya berhasil juga sampai tempat training on time. Parahnya lagi kita cuman beli tiket one way, jadi pulangnya terpaksa minta tolong instruktur nganterin sampe rumah. (note: kayaknya sebenarnya bisa beli tiket langsung di atas bis)

.: aer :.
www.aer-reborn.blogspot.com

0 komentar: