Belum lama ini Lembaga Survei Indonesia (LSI) kembali merilis hasil survey terakhirnya. Sebelum kita bicara hasilnya, pertanyaan yang muncul adalah, apakah hasilnya dapat dipercaya ?
Memang kemunculan berbagai lembaga survei dengan hasil yang bervariasi telah memunculkan kecurigaan terhadap independensi lembaga survei. Berbagai aturan kemudian coba diusulkan untuk menjaga integritas lembaga tersebut. Namun yang paling masuk akal dan tampaknya akan disetujui adalah transparansi sumber dana untuk melakukan survei. Dengan diketahuinya penyandang dana, diharapkan dapat diketahui afiliasi lembaga survei tersebut.
Tentang survei LSI, dikatakan survei tersebut dilakukan pada tanggal 8-18 Februari 2009 dengan jumlah responden 2455 di 33 provinsi se-Indonesia. Survei dilakukan dengan metode wawancara tatap muka dan memiliki tingkat kepercayaan 95 persen. Sementara margin error sekitar 2,4 persen. (source: http://pemilu.detiknews.com/read/2009/02/27/141010/1091603/714/jika-pemilu-digelar-sekarang-demokrat-menang)
Bersih kan ? tidak ada cacat di sana. Secara statistik memang selesai. Tingkat kepercayaan 95%, margin error 2,4% .... sudahlah, tidak mungkin disangkal.
Eits, tapi jangan lupa subyek di sini adalah manusia. Apalagi metodenya wawancara tatap muka. Ada beberapa catatan di sini.
Pertama, metode wawancara tatap muka hanya akan memberikan hasil obyektif, jika pewawancara memang tidak ada kepentingan apa-apa. Gesture dan preferensi dari pewawancara akan sangat mempengaruhi opini obyek yang diwawancara. Apalagi manusia Indonesia biasanya sangat menjaga perasaan lawan bicaranya - tidak terbiasa untuk bicara secara blak-blakan. Tapi, okelah kita anggap pewawancara benar-benar obyektif dan bahkan secara tersirat pun tidak ada niatan untuk mempengaruhi obyek wawancara.... jadi kita lanjut ke yang kedua.
Catatan kedua adalah, pertanyaan-pertanyaan apa yang diajukan. Jika anda tanyakan, "tahukah anda bahwa si A memperbaiki jalan di kampung ini", kemudian anda lanjutkan dengan "apakah anda mendukung si A". Akan berbeda hasilnya jika pertanyaannya adalah "tahukah anda si A pernah mengkorupsi tanah desa" yang dilanjutkan dengan "apakah anda mendukung si A". Walaupun mungkin realitanya Si A adalah orang yang pernah mengkorupsi tanah desa dan juga pernah memperbaiki jalan kampung.
Yaps, anda telah mengetahui maksudnya. Pertanyaan yang menggiring. Dengan pendeknya ingatan masyarakat Indonesia, cukup dengan menanyakan beberapa pertanyaan positif berkaitan dengan obyek tertentu (misal pemerintah), maka responden akan cenderung memiliki penilaian positif (tentang pemerintah). Tetapi jika pertanyaan pendahuluan yang diajukan adalah hal-hal negatif (tentang pemerintah), maka responden akan cenderung memiliki penilaian negatif (tentang pemerintah).
Celakanya, hal itulah yang dilakukan oleh LSI. Mereka seperti 'sengaja' menggabung survei tentang partai dan capres, dengan survei tentang awareness masayarakat terhadap program bantuan pemerintah (BLT, BOS, PNPM), seperti dikatakan oleh penelitinya Burhanuddin Muhtadi (source: http://inilah.com/berita/politik/2009/02/28/87091/hasil-survei-lsi-menggelikan/).
Jadi siapa yang percaya LSI tidak main mata dalam kasus ini ?
Parahnya lagi, kita cenderung lebih nyaman bersama golongan mayoritas. Jarang yang berani untuk tampil beda. Akibatnya, survei akan menggiring opini masyarakat untuk mengikuti. Dan akhirnya survei itupun menjadi kenyataan. Setelah itu bersoraklah lembaga survei tersebut, "tuh betul kan hasil survei saya, kenapa tidak percaya ...". Dan dalam catatan sejarah, lembaga survei tersebut akan dikenang sebagai lembaga dengan tingkat akurasi survei yang tinggi.
Jadi solusinya, bikin lembaga survei sendiri lalu publikasikan hasil survei anda secara masif melalui media massa. Maka opini masyarakat akan seperti apapun yang anda inginkan.
.:aer:.
http://aer-reborn.blogspot.com
Perlu relawan mahasiswa ...
1 hari yang lalu

1 komentar:
sebenarnya lembaga survei itu hanya menguatkan tujuannya saja, sbenarnya lembaga survei itu yang independet ada pada BPS, karena BPs tidak pernah mendukung salah satu parpol yang ada.BPS bekerja sesuai dengan tuujuan survei itu dan tidak pernah meminta itu baik apa tidak yang penting sesuai dengan kondisi di lapangan tidak menambah atau mengurangi hasil wawancaranya
Poskan Komentar