Kamis, 10 Juli 2008

Kreatif vs Taat Prosedur (?)

Kemarin Minggu saya membeli ceiling fan di toko material. Itu lho kipas angin di plafon yang banyak dipasang di masjid-masjid. Saya lihat di ujung sangkutannya ada karet berbentuk katrol, juga di gambarnya ada tulisan bracket segala. Tapi waktu saya tanyakan ke penjualnya, dibilang pasang aja pakai kawat dan paku. Dan waktu saya tanyakan tentang bracket yang tertera di gambar, dia bilang, "Udah panggil aja tukang, biasanya kan tukang lebih pinter".

Hmmm ... sedikit tercenung dan sedikit 'tersinggung' :D, segera kipas angin saya bawa pulang. Kemudian semua peralatan dari tool box saya keluarin untuk memasang kipas angin tersebut. Bener-bener semua keluar, mulai gergaji, obeng, tang, palu, kunci ..... nyam3x. Alhamdulillah terpasang juga, walau sempat khawatir jangan-jangan gak kuat. Akhirnya saya tambah prosedur ke orang rumah, "Kalau kelihatan bergoyang saat dipakai, segera matikan dan laporkan :D"

Orang yang dilahirkan dalam keterbatasan biasanya hanya punya dua alternatif, mati atau menjadi kreatif untuk tetap bertahan hidup. Di Indonesia ada banyak keterbatasan. Kesimpulannya, di Indonesia juga ada banyak orang kreatif yang mampu memanfaatkan apa yang ada, untuk memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapinya. Termasuk dalam memasang fan di atas, sebagian besar tukang akan mampu memanfaatkan apa yang ada untuk memasangnya, tanpa harus tergantung pada design dan bracket bawaan pabrik.

Kelemahannya, karena tidak mengikuti standar, produknya bisa menjadi sub standar (bisa tidak kuat, bisa terlalu kuat). Saya saja sempat khawatir terhadap kekuatan support fan yang saya pasang. Apalagi kalau tidak mengikuti standar sekedar demi efisiensi dan penghematan, akan ada banyak produk yang cepat rusak.

Negeri belum kaya lainnya - seperti Cina - kelihatannya juga 'mengidap penyakit' yang sama, harus mampu memanfaatkan yang ada - bahasa positifnya kreatif. Pernah di sebuah site, seorang teknisi Cina memerlukan data pressure pada gas yang masuk ke gas engine. Berhubung pressure gage belum terpasang, akhirnya dia cukup memasang selang dan memanfaatkan prinsip manometer terbuka untuk mengetahui tekanan gas tersebut. Kata kunci, memanfaatkan apa yang ada. Hasilnya, barang kualitas Cina. :D - sadly saying.

Orang dari negara kaya, seperti negara Barat, tidak menghadapi permasalahan finansial dan ketersediaan barang. Oleh karena itu mereka tidak terkondisi untuk kreatif memanfaatkan apa yang ada. Dari segi user mereka menjadi user yang taat pada prosedur dan standar. Mereka tidak berani ambil resiko mengakali standar. Tidak heran, pilot Garuda disebut-sebut sebagai pilot pemberani, mungkin karena keberaniannya mengambil resiko.

Secara tiba-tiba, terbersit ide untuk menuliskan level kreativitas seperti di bawah ... mmm debatable juga sih.

Pertama, level meniru. Orang yang berada pada level meniru ini membutuhkan banyak pengalaman, untuk dapat bekerja dengan baik. Solusi-solusi yang dapat dia berikan terhadap masalahnya, hanyalah solusi berdasarkan apa yang sebelumnya telah ia lihat atau ia alami. Jadi orang dengan kemampuan ini dapat terlihat pintar, jika telah banyak berpengalaman.

Kedua, level menganalogikan. Orang yang berada pada level ini mampu memberikan solusi terhadap masalah baru, berdasarkan analogi terhadap hal yang ia alami.

Ketiga, level abstrak. Orang yang berada pada level ini mampu menciptakan hal-hal baru yang sebelumnya, belum pernah ia alami.

Jadi ada dua hal yang mampu membuat orang menjadi problem solver, yang pertama kemampuan otaknya (seharusnya ada cara mengasahnya), sehingga dia tidak sekedar pada level satu di atas, tapi naik ke level dua atau tiga. Dan yang kedua adalah pengalamannya. Orang yang benar-benar mendapat anugerah otak luar biasa, tetap akan sulit membuat sesuatu tanpa pengalaman atau pemahaman prinsip dasarnya. Tapi orang yang cerdas, akan mampu memanfaatkan pengalamannya yang paling tidak relevan sekalipun untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Hmmm saya jadi teringat buku The Practice of Machine Design karangan Yotaro Hatamura. Buku termahal yang pernah saya beli, harganya hampir 20,000 yen (8 tahun lalu). Di sana ditulis beberapa metode untuk menemukan ide-ide baru (baru dibuka lagi nih), seperti

Horizontal expansion method, mungkin mirip level analogi di atas. Menerapkan pengetahuan pada satu domain ke domain lain. Kalau pengalaman saya, domain yang benar-benar mirip adalah antara aliran listrik dengan aliran fluida. Arus dengan aliran, tegangan dengan pressure, resistor dengan damper/valve, dioda dengan check valve, fan dengan sumber tegangan (battery), dst. Coba aja terapkan IC pada domain elektronika ke domain fluida .... kalau ketemu kira-kira jadi alat apa ya :D:D

Conversation method, tertulis ini adalah metode diskusi untuk mempertajam ide.

Operation method, nah ini adalah proses tukar posisi (input jadi output, dan sebaliknya), ubah antara seri/paralel, operasi aritmetika tambah, kurang, kali, bagi, operasi mapping, operasi simetri, pencerminan, rotasi, penyekalaan (memperbesar, memperkecil), deformasi. Dengan operasi-operasi tersebut - dicontohkan pada disain mesin - dapat ditemukan hal baru dari hal yang sudah ada. Penulis buku tersebut menyatakan, operasi-operasi di atas biasanya dilakukan pada alam bawah sadar - mungkin saya yang malas menelusuri langsung menyebutnya di atas sebagai level abstrak.

Tapi pertanyaannya, kenapa orang Barat yang terbiasa serba ada dan prosedural - kalau install barang tinggal buka manual dan semua spare part tinggal dipasang - bisa mempunyai industri yang sangat kreatif ? Mengapa mereka justru mampu menciptakan barang dari tidak ada menjadi ada, tidak sekedar mengakali. Apakah ada perbedaan culture antara user di rumah yang di'manja'kan, dengan industri dan fabrikan di sana ? Ataukah kemajuan itu hanya karena ketersediaan dana - ingat fenomena brain drain ? Next to be discussed ...

.:aer:.
http://aer-reborn.blogspot.com

0 komentar: