Sabtu, 04 November 2017

Jalan-jalan: Liburan ke Papua


Saat pertama kali mendengar adanya 'kerjaan' di Wamena, hati mulai mendua. Antara keinginan untuk mengunjungi tanah kelahiran dan keengganan karena banyaknya hal lain yang perlu dituntaskan. Namun akhirnya diputuskan berangkat juga, walaupun sempat mengajukan untuk mundur. Tapi kepergian kali ini tidak dipersiapkan dengan baik, karena memang banyak hal lain yang mengganggu konsentrasi. Sebelum pergi, seorang teman yang sudah pernah ke sana berpesan, jangan sampai menabrak babi, karena ganti ruginya besar. Wah sempat terfikir, apakah Wamena begitu 'primitif' sehingga babi masih berkeliaran di jalan.

Kita berangkat hari Kamis malam (26 Okt) naik GA656, terjadwal terbang jam 22:55 malam dan mendarat di Jayapura jam 06:10 keesokan harinya. Sepanjang penerbangan, cukup lelap tertidur, hanya sayangnya kenapa juga tengah malam dibangunkan hanya untuk makan 'larut' malam. Lebih nyaman bagi penumpang kalau makanannya diberikan pagi hari untuk sarapan, walaupun pasti crew nya akan kerepotan karena sudah bersiap untuk landing. Di Jayapura kita hanya sempat sarapan untuk kemudian menunggu penerbangan lanjutan ke Wamena, naik Wings Air dengan pesawat ATR. Dijadwalkan berangkat jam 10:40 dan sampai jam 11:40. Ada sedikit delay untuk penerbangan ini.

Sebenarnya kakak adekku menyarankan untuk menengok rumah yang dulu pernah ditinggali di Jayapura waktu kecil, alamatnya di Dok V Atas. Saat di googling, kira-kira perjalanan ke sana akan menempuh waktu 1 jam 40 menitan, tapi memang sejak awal gak berniat berkunjung ke sana, karena waktu transit di Jayapura juga hanya beberapa jam.

Setelah mendarat di Wamena, kita diantar ke Hotel Rainbow, hanya sekitar 10 menit perjalanan. Jelas saja cepat, karena Wamena hanyalah sebuah kota kecil dengan lalu lintas yang tidak terlalu sibuk. Setelah check in, kita masuk ke kamar untuk beristirahat, hari ini memang dihabiskan hanya untuk beristirahat. Di hotel ini tidak ada wifi, dan perlengkapan kamar sangat standar, yah hotel rasa motel. Kelebihan hotel ini adalah staf nya yang ramah dan helpful, termasuk bersedia mengantar ke tempat makan dan tempat beli suvenir. Sebenarnya ada satu lagi hotel di Wamena yang kelihatannya memiliki fasilitas lebih baik yaitu Hotel Wamena Baliem, buktinya Jokowi dulu memilih menginap di hotel tersebut.

Jalan-jalan ke Wamena, mirip dengan jalan-jalan ke luar negeri :D. Beberapa kesamaannya adalah jetlag karena perjalanan yang panjang, harga makanan yang mahal (di rumah makan pinggir jalan, teh manis dihargai 10 ribu, nasi goreng 35 ribu, dan menu lain lebih mahal), provider 3, XL tidak bisa digunakan (yang bisa hanya Telkomsel dan Indosat sehingga seorang rekan terpaksa membeli kartu perdana baru untuk sarana berkomunikasi), dan ada rasa berhati-hati dan sedikit khawatir saat memilih makanan, terkait kehalalannya. Untuk makanan kita selalu membeli di warung dengan penjual muslim, namun yang lebih mengkhawatirkan (dari segi kehalalannya) justru makanan yang disediakan hotel karena pegawainya kelihatannya tidak ada yang muslim :(

Selama di Wamena kita hanya sesekali menemui penduduk Papua yang memakai koteka, kemungkinan orang pedalaman yang sedang masuk kota, selebihnya berpakaian seperti layaknya orang-orang di kota lain. Babi juga gak pernah kita temui, paling sesekali kita ketemu anjing, mirip dengan dulu saat di Bali. Intinya kota Wamena sudah cukup beradab, tidak seperti yang dibayangkan karena pesan teman sebelum berangkat. Di kota ini juga cukup banyak pendatang, dan bandaranya cukup sibuk dengan pesawat yang take off dan landing, kemungkinan membawa beras, semen, dan bahan-bahan lain. Jangan salah, di tahun 70an kota Jayapura juga lebih ramai dibanding daerah di pulau Jawa, bahkan snack dan jajanannya banyak yang impor dari Australia. Mangkanya kakakku yang kemudian sekolah di Jawa sempat keki saat temannya bertanya, apakah di Irian ada sabun.

Pernah suatu ketika belasan warga asli berkumpul di depan hotel tempat aku tinggal, ini mau demo atau ada apa ya. Ternyata mereka sedang menonton pertandingan Persipura melawan Arema. Memang hotel yang aku tinggali sepertinya cukup akomodatif terhadap warga sekitar, dengan memberikan akses ke televisi. Keesokannya dari berita, aku tahu Persipura menang 3-1. Horeee, sejak kecil aku memang mendukung Persipura karena lahir di Jayapura :D, saat zamannya Mettu Duaramuri, Panus Korwa, dkk. Sedikit banyak juga mendukung tetangganya Perseman Manokwari yang sempat berjaya di zaman Adolf Kabo. Kalau Persiwa Wamena, dulu belum ada.

Di sekitar hotelku ada empat masjid dalam radius 500-1000 meter, kalau dilihat dari Google Map. Saat magrib hari pertama di Wamena, masih terdengar shalawat tarhim sebelum adzan dan kumandang adzan Magrib. Sempat melayang ingatan masa kecil di Jayapura saat sering mendengar shalawat tarhim sebelum adzan. Sayangnya aku gak menyempatkan diri sholat di masjid. Hari pertama masih waswas untuk sholat Magrib/Isya di masjid, karena suasananya gelap dan sepi. Hari berikutnya saat Magrib turun hujan, dan sempat juga saat Subuh mau keluar, ternyata pintu hotel dikunci. Saat minta pegawai hotel membukakan, disarankan untuk tidak berjalan kaki ke masjid karena khawatir ada orang mabuk sehingga tidak aman. Semoga Allah mengampuni, dan ke depannya selalu dimudahkan untuk melangkahkan kaki ke masjid dan memenuhi panggilan Nya.

Cuaca di Wamena cukup sejuk dan selama tinggal di sana kita gak ketemu nyamuk, jadi aman dari malaria. Pegunungan Jayawijaya dengan puncak Trikora terlihat jelas dari kota Wamena menambah cantik suasana kota. Tak terasa dua hari kita berada di sana, akhirnya hari Senin (30 Okt) kita pulang dengan rute Wamena - Jayapura - Makasar - Jakarta. Berangkat jam 6:15 pagi dari Wamena dan baru sampai di Cengkareng jam 15:55 sore, demikian jadwalnya. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan dan memuaskan sedikit kerinduan pada tanah kelahiran. :)

.: aer :.
http://www.aer-reborn.blogspot.com








Sabtu, 21 Oktober 2017

Jalan-jalan: Liburan ke Amsterdam

Akhirnya kesampaian juga menjejakkan kaki di daratan Eropa, setelah sebelumnya cuma pernah ngelewatin udaranya pake Qatar Airways. Namanya rezeki gak ke mana-mana, walaupun gak ngincer ataupun ngarep, malah dikasih kesempatan ngeliat-liat pesawat Dreamliner sambil sekalian menghirup udara di sekitar Bandara Schipol.

Perjalanan kali ini seluruhnya diatur kantor, dari mulai pengurusan visa di Kuningan, pengurusan tiket hingga booking hotel, jadi relatif gak ada drama. Kita berangkat naik GA088 dari Terminal 3 Soetta yang baru, berangkat hari Sabtu malam (23 Sep) jam 21:05, dan sampai Schipol hari Minggu paginya, plus minus jam 8.30 pagi. Ada perbedaan waktu lima jam, sehingga sebenarnya perjalanan total sekitar enam belas setengah jam, termasuk transit di SIN. Yang sedikit menyebalkan, di SIN kita harus menurunkan seluruh bawaan cabin (cuma satu tas gemblok sih :D), dan saat boarding kembali, security nya gak dikendorin - termasuk harus buka sabuk. Padahal kita cuman turun, nunggu dan naik kembali, gak pake ke mana-mana. Selama di SIN kita membunuh waktu dengan nge-net. Ada dua cara untuk konek internet di Changi, pertama dengan password yang berlaku selama satu jam (ndapetin password bisa dengan scan paspor di mesin atau via SMS), kedua dengan menginstall aplikasi iChangi. Kalau pake aplikasi ini, durasi ngenet bisa diperpanjang.

Untuk pemilihan kursi, seperti biasa untuk perjalanan jauh saya memilih kursi dekat gang, dengan mempertimbangkan kemudahan ke toilet. Sebelumnya saya selalu memilih kursi dekat window dengan pertimbangan bisa melihat pemandangan, terutama yang menarik saat akan landing. Namun keuntungan melihat pemandangan ini harus dibayar dengan kesulitan karena harus mengganggu penumpang di kursi sebelah saat akan ke toilet. Jadi sekarang by default, saya pilih kursi di gang, kecuali untuk perjalanan dekat durasi satu dua jam. Untuk memudahkan, saya check in online via aplikasi Garuda Indonesia.

Sampai di Schipol, kita dijemput perwakilan kantor di AMS. Ngobrol dan foto-foto sebentar (lokasi legendaris tentunya tulisan I Amsterdam, basically setelah foto sebenarnya kita boleh langsung pulang ke CGK karena mission accomplished :D), kita lanjut ke hotel Dorrint. Keuntungan menginap di sini, ada free shuttle bus dari hotel ke bandara pp. Saat jam padat - artinya banyak penumpang turun naik - perjalanan dari hotel ke bandara bisa memakan waktu 30 menit. Istirahat sebentar, makan dan mandi, sorenya kita jalan-jalan ke Amsterdam Centraal. Oh iya, sebagai prosedur standar jalan-jalan, kita membawa rice cooker, beras, abon dan indomie untuk mempermudah urusan perut. Selain murah, juga bisa dipastikan kehalalannya.

Untuk sampai ke Amsterdam Centraal, kita ke Bandara Schipol dulu naik shuttle bus, di sana kita membeli tiket terusan "Amsterdam & Region" yang warna merah seharga 33.5 Euro berlaku untuk tiga hari. Sebenarnya ada juga tiket warna biru seharga 26 Euro, namun hanya berlaku untuk area Amsterdam. Tiket ini berlaku untuk semua moda transportasi, walaupun yang kita coba hanya kereta dan bus.

Di Amsterdam Centraal kita hanya sekedar menikmati suasana kota Amsterdam di sore hari, sekalian membeli sedikit suvenir. Kita membeli suvenir di area jalan Nieuwendijk (see map). Yang unik, di sini kita bebas membeli ganja dalam berbagai bentuk (permen, es krim, dll) dan beberapa bentuk suvenir yang dijual cukup vulgar (baca: porno). Hal lain yang juga belum kita elaborasi lebih lanjut, saat keluar masuk stasiun, sepertinya tiket tidak perlu digunakan. Umumnya di negara lain (termasuk Indonesia) kita harus tapping tiket, baru pintunya membuka. Di sini pernah kita coba lewat tanpa tapping tiket, ternyata pintu tetap membuka dan tidak bermasalah.

Yang kurang user friendly, tidak ada satu peta komplit berisi rute dan jam keberangkatan yang akan memudahkan pengaturan perjalanan. Jadi biasanya kita mengecek layar display, kereta mana yang paling awal berangkat ke tujuan, karena antara Schipol-Amsterdam Centraal ada banyak kereta yang bisa dinaiki dan berada pada line yang berbeda-beda. Saat awal mencoba, pernah kita pindah line karena baru sadar di line seberang ada kereta yang akan berangkat dari Centraal ke Schipol. Dan saat sampai di line tersebut, kita sudah ketinggalan kereta sehingga terpaksa kembali ke line semula.

Hari Senin kita memulai tujuan utama perjalanan ini, yaitu jalan-jalan ke KLM sambil ngeliat-liat pesawat Dreamliner. Instrukturnya orangnya asyik, seorang Rasta berdarah Aruba. Di KLM kita sempat bertemu beberapa orang Indonesia yang kerja di sana, termasuk pegawai kantinnya punya sangkutan dengan Indonesia, sehingga menyengaja membuat memu ala Indonesia. Bahkan di hari Kamis, istrinya instruktur (berdarah Manado) sengaja menyiapkan menu Indonesia tanpa daging untuk makan siang, tempe orek, tempe goreng, tahu goreng, nasi goreng. Superb lah penyambutannya, walaupun most of the time saya masih setia dengan bekal yang dibawa.:D

Senin sore kita niatkan istirahat saja, namun Selasa sore kita mencoba jalan-jalan. Dari hasil diskusi, kita putuskan ke Zaanse Schans untuk melihat kincir angin. Karena kita harus ke Amsterdam Centraal dan dari sana masih sekitar satu jam naik bis ke Zaanse Schans, akhirnya kita sampai di lokasi kincir angin tepat saat matahari terbenam, sekitar jam 19.30. Kurang optimal, tapi lumayan lah ada foto-foto koretan walaupun agak remang-remang. O iya, sekedar info, di Amsterdam Centraal, stasiun bus nya di lantai 2 tanpa perlu keluar gedung. Kita sempat keluar stasiun dan mencari-cari rute bis yang akan dinaiki di beberapa halte di luar, tapi malah gak ketemu. :D

"Meditation center" yang dihapus
Hari Rabu sampai Jumat, kita pulang sekitar jam 20.00 - 21.00 sehingga jelas gak sempat ke mana-mana lagi. Nah hari Sabtunya saya sempatkan keliling-keliling sekitar hotel menikmati suasana perumahan khas Eropa. Sempat iseng-iseng mampir Rumah Makan Padang "Selera Anda" - sekitar 15 menit dari hotel - namun ternyata buka-nya siang sampai malam, sehingga hanya lewat saja.

Siangnya kita naik GA089, penerbangan berangkat jam 16:45. Agak menyebalkan antrian check in untuk GA di AMS ternyata cukup
semrawut, mirip antrian gerbang tol, dua tiga jalur berubah menjadi satu di ujungnya. Dan walaupun sudah check in online, tidak ada benefit yang didapat, karena sepertinya banyak juga yang check in online. Setelah melewati proses check in, imigrasi, saya mencoba mencari
mushola. Sebelumnya saya sudah memastikan via googling ada "Meditation Center" yang bisa dipakai untuk sholat. Namun saat ke lokasi, ternyata tulisan "Meditation Center" sudah dihapus, dan akhirnya terpaksa sholat jamak Zhuhur dan Ashar di pesawat - walaupun kurang recommended. Saya sudah gak seperti dulu waktu di Tokyo, yang pernah langsung gelaran di pojokan stasiun untuk sholat. Apalagi sekarang sebagai musafir, masih ada rukhshoh untuk melakukan sholat jamak.

Kita sampai CGK hari Minggu (1 Okt) sekitar jam 11.40, tanpa transit. Jadi perjalanan sekitar empat belas jam. Walaupun tidak banyak yang dikunjungi selama perjalanan ini, tapi cukup memberi gambaran untuk kapan-kapan persiapan tour bersama keluarga. Untuk area Amsterdam, selain ke Centraal dan Zaanse Schans mungkin ke depannya bisa ke Smalltown Harbours untuk foto-foto ala Belanda tradisional, ke Flowers of Amsterdam untuk menikmati bunga tulip atau menikmati museum di area Amsterdam.

.: aer :.
http://www.aer-reborn.blogspot.com

Rabu, 05 Juli 2017

Jalan-jalan: Liburan ke Kuala Lumpur

Petronas Twin Towers
Tahun ini kembali kita merencananakan liburan bersama, menyambut kakak yang pulang dari pesantren. :D  Setelah berdikusi, akhirnya kita putuskan liburan ke Malaysia, dengan pertimbangan kemudahan pengurusan karena tanpa visa dan kemudahan mencari makanan di sana - karena asumsinya banyak yang halal seperti di Indonesia. Sebenarnya ayahnya tidak terlalu excited karena membayangkan Malaysia tidak jauh berbeza dengan Indonesia, tapi gak masalah karena inti dari liburan adalah kebersamaan dengan keluarga.

Persiapan dilakukan dengan mode 'padat merayap'. Karena bulan puasa dan ayahnya selalu masuk
View dari balkon apartemen
kerja, akhirnya tidak dilakukan persiapan secara detail hingga ke lokasi yang dituju, biayanya, rute transportasinya dan rencana perjalanan dari jam ke jam. Ibunya hanya meng-kolek lokasi-lokasi yang kemungkinan akan dituju di hari pertama hingga hari terakhir, dan nantinya menyerahkan ke sikon saat liburan. Oke deh, kita nikmati saja waktunya, tidak usah menggunakan jadwal ketat seperti saat liburan di Jepang dulu. Kelemahannya mungkin nanti ada waktu yang tidak termanfaatkan dengan baik atau biaya yang tidak efisien.

Di dalam KLIA Express
Packing-packing dilakukan oleh ibu dan anak-anak beberapa hari sebelum keberangkatan. Penukaran Ringgit Malaysia dilakukan malam sebelum keberangkatan - kebetulan di seberang Summarecon Mal Serpong ada penukaran uang yang buka 24 jam. Check in juga dilakukan secara online supaya duduknya tidak terpisah. Dan akhirnya kita berangkat ke bandara besok paginya menggunakan grab. Penerbangan yang kita gunakan GA820, berangkat jam 08.35 dari Terminal 3 (first time departure from Terminal 3 :D). O iya, untuk jasa akomodasi, lagi-lagi kita menggunakan airbnb. Kemarin kita dapat apartemen dengan biaya harian 'hanya' USD 34 (plus one time biaya kebersihan), fasilitas lengkap (kompor, microwave, wifi, kecuali mesin cuci hanya ada yang berbayar), lokasi dekat dengan public of interest (jalan kaki hanya sepuluh menit ke KLCC) dan pemandangan balkon yang indah.

Kita tiba di Kuala Lumpur jam 11.50. Urusan imigrasi dan bea cukai di KLIA cukup santai. Kita
Awana SkyWay
melewati loket imigrasi "ASEAN Lane" kemudian bea cukai dilalui tanpa melewati X-Ray dan tanpa mengisi lembaran 'custom declaration' yang biasanya diisi kalau pergi ke negara lain. Antrian panjang hanya terjadi di loket imigrasinya, macam ramai pelancong nak persiar. Selesai semua urusan administrasi, mulailah kita agak bingung masalah transportasi :D. Rencana awal pakai Grab, tapi koneksi internetnya agak susah karena sinyal wifi bandara jelek. Ya sudah kita putuskan naik KLIA Express saja ke KL Sentral. Biaya tiket untuk dewasa RM55 dan untuk anak-anak RM25. Hana sudah terhitung dewasa karena di atas 12 tahun. Belakangan kita 'ngeh' pilihan ini ternyata mahal, repot (harus transit), dan lelah karena harus jalan dari stasiun terakhir ke apartemen. Tapi sebagaipelipur lara, kita anggap saja sebagai wisata naik KLIA Express. :D

Kedinginan di Snow World
Di KL Sentral kita sempatkan mampir membeli tiket bis ke Genting Highland (pp) karena besok kita berencana pagi-pagi ke Genting Highland. Sebenarnya kita berencana langsung membeli tiket gondola Awana Skyway, tapi ternyata tidak dijual di KL Sentral. Biaya tiket bis berlima RM38.6 (dewasa RM4.3, anak RM3.2 sekali jalan).  Lokasi counter yang jual tiket ke Genting ada di ujung belakang KL Sentral di lantai basement. Lepas tuh, kita beli tiket LRT ke Stasiun Dang Wangi. Dan dari stasiun Dang Wangi kita harus jalan ke apartemmen. Sebenarnya di Google Map ditulis jaraknyacuma 650 meter, namun karena harus menggeret koper, jadi lumayan berasa juga.


Snow World
Sampai apartemen sekitar jam 2 an kita leyeh-leyeh sebentar, dan dilanjut dengan jalan-jalan sore ke KLCC. Nah kalau rute ini di Google Map ditulis 1,1 km, tapi kita niatkan sebagai jalan-jalan menikmati suasana Kuala Lumpur. Setelah puas berpose-pose di sekitar jalan Ampang, kita menikmati makan siang setengah sore di restoran NZ dengan menu nasi goreng kambing. Sebenarnya tidak ada tulisan halal, tapi karena di restoran tersebut banyak kaligrafi, bismillah saja, insya Allah halal. Setelah makan, kita tengok sebentar area Suria KLCC, dan karena sudah sore - beberapa area yang sempat menjadi opsi untuk dikunjungi sudah tutup - kita putuskan pulang ke apartemen.

Pulangnya kita sempat menunggu free bus service di halte, namun anehnya tidak berhenti. Mungkin supir bis tidak melihat kita yang sedang duduk-duduk di halte. Akhirnya kita pulang jalan kaki, dan sekedar mampir membeli makan malam di Restoran Nasi Kandar Pelita.

Box telephone, Snow World
Hari kedua kita sudah membeli tiket (kemarin) untuk berangkat naik bus ke Genting Highland jam 8. Karena di sini Subuh jam 6 kurang sedikit, tidak banyak waktu berleha-leha di pagi hari. Untuk kali ini kita memutuskan naik Grab ke KL Sentral. Kebetulan di apartemen disediakan wifi gratis. Tetapi untuk memudahkan mencari informasi, akhirnya Nasri memutuskan membeli paket data seharga RM8.

Kita sampai di KL Sentral sekitar jam 7.40 dan segera menuju tempat pemberhentian bus menuju Genting Highland. Petugas bis cukup strict melarang makan di dalam bus karena khawatir ada yang mual karena bau makanan. Alhasil Afnan belum berhasil menyelesaikan sarapannya. Perjalanan bus sekitar satu jam, dengan pemberhentian terakhir di Awana Station. Dari situ kita naik Awana SkyWay dengan biaya RM8 per orang sekali jalan. Kita membeli tiket round trip dan karena masih pagi, langsung bisa naik tanpa ada antrian panjang.

Latar belakang Chin Swee Temple
Awana SkyWay, walaupun sebenarnya adalah sarana transportasi alternatif (di luar mobil) menuju puncak Genting Highland,merupakan salah satu tujuan wisata kita ke Genting Highland. Rutenya cukup jauh, sekitar 10 menit, dengan pemandangan di bawah yang seronok. Sempat terlihat juga Chin Swee Temple di kejauhan. Di beberapa tempat, gondolanya sedikit bergoyang, menambah daya tarik tersendiri.:D

Btw walaupun unplanned ternyata kita timingnya pas, karena mulai besoknya selama beberapa hari Awana SkyWay akan menjalani maintenance dan tidak beroperasi.

Bukit Bintang
Sampai di tujuan akhir (SkyAvenue Station) kita agak bingung arah yang hendak dituju.Berbagai restoran dengan nama yang cukup asing bertebaran seolah mengajak segera makan siang.Namun akhirnya kita putuskan ke Snow World  sebagai tujuan wisata di Genting Highland. Sampai Snow World sekitar jam9.45, 15 menit sebelum buka. Kita membeli tiket untuk berlima seharga RM 161,7 (family packetuntuk empat orang RM129.20 + satu tiket anak RM32.50). Setelah memakai jaket dan sarung tangan, kita masuk ke dalam. Lumayan dingin, di display yang ditempel di luar arena terterasuhu -6C. Di dalam area kita berfoto-foto, naik luncur-luncuran, naik perosotan ban, danmenikmati sensasi udara dingin. Waktu bermain yang diperbolehkan sekitar satu jam, sebelumkemudian giliran batch berikutnya. Sebenarnya kita bertiga pingin lanjut, walaupun Afnan danibunya sudah menyerah karena kedinginan.


Digital City of Light, i-City
Dari Snow World kita mencari restoran untuk makan siang. Dari google sekilas, kita mendapat informasi salah satu tempat makan yang halal di Malaysian Food Street. Cukup jauh kitaberjalan, karena lokasi tempat makan tersebut di salah satu ujung mall Sky Avenue, terpisahdari tempat makan lainnya. Dan ternyata setelah sampai di sana, ada tulisan "Non Halal".Walaaah, sudah jauh-jauh berjalan. Akhirnya kita putuskan turun ke Awana Station menggunakanAwana Skyway. Perjalanannya masih tetap menarik dan bisa dinikmati. Sampai di Awana Station, masih sekitar jam 12.30, sedangkan kita booking jadwal bis ke Kuala Lumpur untuk jam 14.00, masih cukup banyak waktu tersisa. Saat turun tangga dari Awana Skyway menuju tempat bis kita
sudah celingukan mencari tempat makan, tapi gedungnya terlihat kosong. Namun saat menunggu bis, terlihat pelancong lain sedang makan nasi (take away). Akhirnya setelah mencari,ternyata gedung sebelah adalah mal Genting Highlands Premium Outlets, dan kita bisa membelimakanan Wendy's yang sudah mencantumkan logo halal resmi. Selamatlah kita dari deritastarving.

Jembatan, Taman Tasik Perdana
Pulang ke Kuala Lumpur kita naik bis ke KL Sentral, dilanjutkan dengan grab menuju apartemen.
Di apartemen kita istirahat sebentar, dan perjalanan sore hari dilanjutkan ke Bukit Bintang dengan naik free bus service. Karena hari kerja (mungkin jam pulangkerja), bis cukup penuh sehingga kita melewatkan beberapa bus. Di Bukit Bintang kita cukupbingung di mana orang-orang biasa membeli oleh-oleh, apakah Lot 10, Sungei Wang Plaza atauyang lain. Akhirnya kita putuskan membeli oleh-oleh sekedarnya di Sungei Wang Plaza. Dan pulangnya kembali kita naik Grab sampai ke apartemen. O iya di Bukit Bintang, kita sempat harus menukar uang lagi ke Ringgit Malaysia karena perbekalan sudah menipis :D. Selesailah hari kedua perjalanan di Kuala Lumpur.

Bamboo Playhouse, Taman Tasik Perdana
Hari ketiga, pagi-pagi dapat 'wangsit' pingin mencoba sholat Subuh di masjid yang terlihat dari balkon, mumpung hari ini jadwalnya gak ketat. Dari Google Map, masjid ini namanya Masjid Jamek Kampung Baru, dan jaraknya 1,2 km. Tapi begitu mbuka pintu lobby apartemen, ini apartemen kok becek, siapa yang nyiram-nyiram air. Ternyata pagi ini hujan :), gak terasa di kamar apartemen. Ya udah kita nunggu agak cerahan di apartemen sebelum kemudian berangkat ke restoran Nasi Kandar Pelita untuk sarapan. Selesai sarapan kita lanjut naik Grab ke Taman Tasik Perdana. Sampai daerah taman tersebut, supirnya bingung, turunnya di mana. Kita juga sama-sama bingung, karena sepertinya taman tersebut luas dan tidak ada biaya masuk, jadi bisa turun di mana saja. Akhirnya kita turun di salah satu taman dengan play ground, dan akan-anak sejenak menikmati permainan di sana, perosotan dan kawan-kawannya.

Berenang di apartemen
Kita keliling-keliling taman dengan tujuan ke arah Taman Burung. Sebenarnya kita juga bermaksud ke Planetarium dan Masjid Negara, namun dari hasil googling, ternyata Planetarium tutup di hari Senin (note: PetroSains juga tutup di hari Senin). Cukup banyak view yang menarik di Taman Tasik Perdana dan kita berfoto-foto ria. Setelah berjalan sekian kilo meter (mmm... mungkin gak sampai dua kilo meter sih), sampailah kita di Taman Burung. Dan saat akan membeli tiket, ternyata harga tiket dewasa RM67 dan tiket anak RM45, lebih mahal dari tempat wisata lainnya :(. Karena total akan menghabiskan RM291 dan kaget karena belum survey sebelumnya, akhirnya kita cancel. Selain itu kita juga bukan penggemar burung. :D Pemerintah Malaysia hebat juga, untuk pemegang Mykad hanya dikenakan biaya untuk dewasa RM27, dan anak-anak RM13, artinya ada policy subsidi silang dari turis asing ke warga negara Malaysia. Ini juga berlaku di tempat-tempat wisata lainnya.

'Nabrak' salju, i-City
Dari area Taman Burung, kita pulang ke apartemen naik Grab, dan sekedar melewati Planetarium (yang tutup) dan Masjid Negara. Gak jadi deh mampir sebentar di sana. Sampai apartemen, setelah istirahat sebentar, kita berenang di kolam renang indoor. Kedalaman kolam renang cuma 120cm, pas lah untuk anak-anak bermain. Setelah ujung-ujung jari mulai mengeriput, kita kembali ke kamar apartemen dan beristirahat kembali. Malamnya kita berniat ke i-City, namun agak was-was karena cuaca sangat mendung. Sayang kalau sudah sampai sana ternyata turun hujan.

Setelah confirmed dari salah satu web bahwa malam ini tidak hujan, kita berangkat makan malam ke Quill Mall City, dilanjutkan naik grab ke i-City. O iya memang disarankan ke i-City di malam hari karena lebih seronok oleh permainan cahaya. Karena berangkat di jam sibuk, ongkos grab ke i-City cukup lumayan menghabiskan RM72 termasuk biaya tol. Padahal pulangnya kita hanya menghabiskan ongkos grab termasuk tol RM29 (plus 10 point). Di i-City kita keliling-keliling, foto-foto dan naik beberapa wahana outdoor theme park. Banyak juga wahana yang tidak kita coba, tapi karena sudah malam, capek dan juga jatuhnya jadi mahal, kita skip saja :D.


Hari terakhir akhirnya sempat juga sholat Subuh di masjid, eh salah sebenarnya hanya di Surau Kampung Baru Madrasah yang jaraknya sekitar 700 meter dari apartemen (refer to Google Map). Jama'ahnya sekitar 10 orang dengan kapasitas surau mungkin cukup untuk 100 orang. Pulang sholat, pagi-pagi kita beres-beres karena harus check out. Sekilas melihat airbnb sepertinya check out diperbolehkan hingga jam 14.00. Akhirnya kita rencanakan ke Petrosains dan kalau masih sempat dilanjutkan ke Planetarium sambil menengok Masjid Negara.


Collecting marble with shadow, Petrosains
Pagi-pagi kita berangkat ke Suria KLCC, sarapan di Wendy's, tukar uang (again :D) dan lanjut ke Petrosains. Petugas di tempat pembelian tiket menjelaskan bahwa saat ini Geotime Diorama (aka dinosaurus) sedang tutup karena maintenance. Sedikit kecewa, tapi karena tanggung kita lanjutkan saja. Kebetulan ada Mid Year Promo, buy 1 adult ticket get free 1 child ticket. Jadi kita hanya membeli tiga tiket dewasa, dan karena ada maintenance, dapat korting RM6. Total kita membayar RM84.

Space, Petrosains
Di dalam Petrosains banyak obyek yang cukup menarik, ada mengenai space (ruang angkasa), mengenai kecepatan (mobil formula), mengenai kilang minyak, dan juga ada teater 3D. Banyak item yang bisa dicoba oleh anak-anak sehingga cukup menghabiskan waktu. Tak terasa sudah lewat dari jam 1 siang, dan saat mengecek HP, ternyata ada message dari pemilik apartemen bahwa waktu check out jam 12 siang. Waks, terburu-buru kita pulang ke apartemen dan akhirnya berhasil check out jam 14.00. Ternyata tadi pagi salah baca, check out memang seharusnya jam 12.00 bukan jam 14.00. :(

Setelah check out kita lanjut makan siang ke restoran Nasi Kandar Pelita (di sini lagi....hehehe), dan dilanjutkan naik grab ke bandara. Ongkos grab ke bandara berikut tolnya cuma RM75, jauh lebih murah dibandingkan naik KLIA Express :D. Sampai di bandara, antrian check in Garuda cukup panjang, tapi karena kita naik GA817 jam 19.05, masih cukup waktu, sehingga gak nervous. Sebenarnya kita juga sudah check in online dan hanya perlu drop baggage, tapi antriannya tetap panjang juga (sepertinya tidak dibedakan).

that's all folks
Selesai check in, kita lewat imigrasi dan boarding dengan lancar. Dalam perjalanan ke Cengkareng, beberapa kali goyangan pesawat cukup terasa (kita naik PK-GFF), tapi alhamdulillah semua selamat sampai ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Karena ini pertama kali mendarat di Terminal 3, terlihat lumayan bagus, dibanding suasana di Terminal 1 dan Terminal 2. Ada free Wifi, ada tempat nge-charge HP dan petunjuk jalan dalam lima bahasa. Dari terminal 3 kita naik taxi ke rumah dan istirahat dengan tenang sebelum kembali ke dunia nyata esok harinya. :)

O iya ada yang aneh di toilet di Malaysia. Baik di airport, di Genting Highland, di restoran, rata-rata ujung semprotan air di toilet dilepas sehingga jika kerannya dibuka, air langsung mengucur. Tidak ada semprotan seperti biasa yang digunakan untuk cebok. Kalau dibilang vandalisme, sepertinya gak, karena terkesan disengaja. Mungkin dianggap air terlalu kencang kalau menggunakan semprotan.

.: aer :.
www.aer-reborn.blogspot.com

Sabtu, 20 Mei 2017

Jalan-jalan: Liburan ke Tokyo

Shinjuku gyoen
Setelah galau beberapa lama, akhirnya kita putuskan "jadi" untuk jalan-jalan sekeluarga ke Tokyo, sekalian perpisahan sebelum kakak Hana masuk pesantren (note: masuk pesantrennya masih bulan Juli sih :)). Mulailah kita (tepatnya saya) 'riset' mencari obyek-obyek wisata di Tokyo yang potensial dikunjungi. Setelah terkumpul beberapa lokasi, bersama-sama kita sortir tempat mana yang paling ingin didatangi. Ibunya pingin melihat Sakura, salju dan gunung Fuji - permintaan yang bisa saja dipenuhi kalau budget dan waktu un-limited - sayangnya kali ini not the case :D. Kakak Hana dan adek Qonita dianggap ke Jepang saja sudah senang :), sedang Afnan diiming-imingi berbagai museum yang kira-kira disukai anak laki, dinosaurus, robot, pemadam kebakaran. Terkumpullah beberapa tempat wisata, dan mulailah ayahnya menyusun itinerary. Sempat juga muncul diskusi apakah kita pergi dua malam atau tiga malam, sebelum akhirnya diputuskan dua malam saja. Kimatta. :)


Di depan apartemen
Kegalauan berlanjut tentang mana yang akan dilakukan duluan, apakah pesan tiket, booking hotel atau mengurus visa. Akhirnya kita memesan hotel duluan, karena khawatir makin ke sini hotel makin penuh atau harganya naik, karena musim turis. Kita memesan hotel melalui aplikasi airbnb, dan mendapatkan apartemen di dekat stasiun Higashi Nakano, area Shinjuku (biayanya 240 Euro untuk dua malam). Sengaja kita memilih apartemen karena saat mengecek hotel, rata-rata mengharuskan sewa dua kamar untuk jumlah keluarga yang kita submit. Apartemen yang kita pilih lumayan enak, full furnished (ada mesin cuci, rice cooker, microwave, kompor, kulkas dan peralatan dapur) dan boleh ditempati maksimal hingga delapan orang - sehingga untuk dua orang dewasa dengan tiga bocil tentunya cukup lega. Selain itu host menyediakan portable wifi (lumayan bermanfaat untuk konek internet di apartemen maupun waktu jalan-jalan), memperbolehkan waktu check in dan check out yang fleksible, dan ini yang cukup penting "not cost restricted", artinya boleh cancel atau ganti hari. Menjadi penting karena kita belum yakin apakah akan mendapatkan tiket dan visa sesuai waktu yang diinginkan.

Rencana itinerary
Saat booking tiket tanggal 8-11 April, benar saja tiketnya penuh, sehingga kita geser ke tanggal 7-10 April. Sebenarnya mungkin memang lebih pas tanggal 7-10 April, karena kita cukup khawatir saat datang, musim Sakura sudah lewat. Selain itu, kalau berangkat hari Jumat (tanggal 8) sepertinya jalanan bandara akan macet. Terpaksa bookingan kita geser harinya, dan kena biaya tambahan USD 24. (kalau kita pilih yang restricted, sepertinya uang akan hangus). Untuk pengurusan visa, kita memilih dibantu mengurus lewat kantor dengan biaya Rp. 500,000 per orang. Selain tidak repot, hampir dipastikan bisa mendapatkan visa tanpa masalah.

Untuk menyusun itinerary, berbagai web kita buka, terkait biaya, waktu dan kondisi tempat yang akan dikunjungi. Beberapa yang bermanfaat:
-web tempat wisata jepang (googling aja, karena posting ini sudah setahun yang lalu, saya lupa web apa dulu yang paling bermanfaat menambah informasi, sepertinya sih www.japan-guide.com)
- web jorudan - untuk mengecek rute, biaya dan waktu untuk transportasi di Tokyo (beberapa internet menyarankan menggunakan hyperdia, tetapi saya memakai web ini karena sejak awal 2000-an lebih familiar dengan jorudan - nostalgia mode on)
- web Shinjuku Gyoen, taman di Tokyo yang kita anggap paling representatif untuk dikunjungi, dalam rangka hanami (padahal dulu tiga tahun tinggal di Tokyo, gak pernah ke situ :p)
Playground di Bandara Soekarno Hatta
- web Ueno Park
- web Tokyo Fire Musem
- web National Museum of Nature and Science Ueno
- web The National Museum of Emerging Science and Innovation (Miraikan)
- web Tokyo Tower
- web area odaiba
- web area ueno
- web area shinjuku
- web area shibuya, termasuk Tokyo Metropolitan Building
Dan tentunya google map yang selalu membantu mencarikan lokasi. Pokoknya di internet ada banyak web, yang bisa membantu membuat itinerary precisely, minute by minute :D. Dan jadilah sebelum berangkat, kita sudah punya detail jadwal selama tiga hari dua malam, dengan biaya sekeluarga sekitar 25,000 yen, di luar makan dan penginapan.

Perjalanan Bandara Haneda- Apartemen
Beberapa hari sebelum keberangkatan, kita juga rajin mengecek internet memperhatikan cuaca dan lokasi sakura berbunga (kapan sakura pertama berbunga, apakah hujan sehingga sakura nya rontok, di setiap taman berapa persen sakura sudah berbunga, dll), karena perjalanan ini considered failed kalau tidak berhasil melihat sakura :D. Kita bersiap geser lokasi yang dikunjungi, jika ternyata bunga sakura sudah rontok di taman yang akan dikunjungi. Koper dan isinya juga sudah dipersiapkan dengan baik, termasuk lauk kering (rendang), beras, indomie, beberapa cemilan, minuman susu dan teh kotak. O iya lain kali perhatikan fasilitas yang tersedia di apartemen, karena ada mesin cuci, seharusnya baju yang dibawa tidak perlu terlalu banyak. Tapi karena kemarin kurang perhatian, dibawalah baju dengan asumsi tanpa mencuci.

Sebelum keberangkatan, kita mencoba nelfon untuk online check in, namun ternyata dijawab harus tunggu 24 jam sebelumnya. Akhirnya sekitar 24 jam sebelum keberangkatan kita mencoba nelfon lagi, namun lagi-lagi gagal, dijawab untuk penerbangan luar negeri harus check in di counter. Dan ternyata saat di counter, petugasnya memberitahukan bahwa bisa online check in. Gak tau nih, mana yang bener, tapi kita bertekad pulangnya kita pastikan online check in dulu. Soalnya tanpa online check in, khawatir tempat duduknya jadi terpencar-pencar.

Sakura di pinggir sungai
Akhirnya hari keberangkatan tiba. Ayah pulang kantor teng-go dan langsung pulang ke rumah. Setelah bersih-bersih dan bersiap-siap, habis sholat Magrib kita berangkat ke bandara - lebih cepat lebih baik. Sampai di bandara, seperti biasa ayah nge-drop ibu dan anak-anak di terminal, kemudian memarkir mobil di GMF, dan lanjut naik ojek ke terminal. Berbeda dari biasanya, kali ini (mungkin semenjak ada pekerjaan di M1) sangat sulit menemukan ojek di depan GMF di malam hari, sehingga terpaksa jalan sampai M1, baru mendapat ojek. Check in di bandara cukup lancar, tidak ada drama seperti waktu jalan-jalan ke Singapura dulu. Kemudian melalui gate imigrasi dan tinggal menunggu waktu boarding.

Setelah sholat Isya, kita cukup kesulitan mencari tempat duduk kosong di area sekitar tempat boarding. Pintu menuju ruang tunggu boarding juga belum dibuka. Untunglah gak sengaja kita menemukan play ground tempat bermain anak di sisi kanan, dekat Gate E1, sehingga anaknya bisa nyaman bermain, dan ayah ibunya bisa duduk-duduk santai di kursi yang tersedia di sana.

Taman dekat apartemen
Setelah ruang tunggu boarding dibuka, kita pindah ke sana. Semuanya tidur menunggu di kursi (kecuali ayahnya dong :)) karena waktu keberangkatan masih cukup lama. Baru jam 11.30 pesawat siap diberangkatkan. Kita naik pesawat Airbus, PK-GPx (lupa registrasinya).

Hari pertama di Tokyo, Jumat tanggal 8 April 2016, kita mendarat dengan selamat di Bandara Haneda. Kemudian mengikuti saran yang pernah di-share di FB, kita mendaftar internet di bandara. Ada mesinnya untuk register, scan paspor, dan kita dapet kertas berisi kode premium untuk akses internet. Selanjutnya donlod aplikasi Travel Japan Wi-fi untuk akses internet gratisan. Namun karena terlalu banyak pindah tempat, hotspot ikut pindah-pindah, sehingga kurang reliable dan gak kita pake selama jalan-jalan di Tokyo. Alasan (utama) lainnya, apartemen yang kita sewa menyediakan pocket wireless yang ON di manapun. :)

Shinjuku gyoen
Setelah ndaftar internet, kita membeli Suica, bukan untuk cost saving, tapi untuk pertimbangan kemudahan perjalanan, karena jadi gak perlu banyak beli tiket di stasiun. Kita membeli Suica karena rute yang dituju tidak hanya dicover JR atau hanya subway, tapi campuran, termasuk monorail. Ada pilihan kartu yang khusus untuk JR, atau yang khusus untuk subway. Memang kerugian untuk pembelian Suica, kita kena biaya 500 yen, yang nantinya bisa dikembalikan 350 yen jika tidak habis. Jadi rugi 150 yen, tapi worth it lah kenyamanannya.
 
Sesuai rute yang sudah dipersiapkan di itinerary dengan seksama :D, kita harus pindah kereta dua kali untuk mencapai stasiun Higashi Nakano, stasiun terdekat menuju apartemen. Yang kurang diperhatikan saat membuat itinerary adalah, apakah saat perpindahan kereta harus berjalan jauh, naik turun tangga, atau harus pindah stasiun lewat jalan raya, kurang terlalu diperhatikan. Tapi overall itinerary nya cukup membantu. Saat pindah-pindahan kereta, sempat salah satu tas yang dibawa tertinggal di kereta, untungnya sebelum pintu kereta menutup, kita sudah sadar, sehingga sempat mengambil kembali tasnya. Otherwise, repot deh harus ngelapor ke petugas stasiun, ngabisin waktu .....

Tokyo Fire Station
Akhirnya kita sampai di Higashi Nakano, dan eng ing eng.... HP lobat :((. Padahal kita gak nge-print peta apartemen tujuan, dan rencananya rely on video yang di-share oleh pemilik apartemen di airbnb. Tapi HP nya mati, dan videonya gak bisa disetel. Untunglah kita gak culun2 amat di Jepang, jadi faham bahwa di setiap stasiun ada peta area sekitarnya. Berbekal alamat apartemen dan memperhatikan peta di stasiun, kita berhasil mengidentifikasi arah yang dituju.

Dalam perjalanan menuju apartemen (mungkin sekitar sepuluh menitan), kita ketemu bunga sakura di dekat sungai. Yey MISSION ACCOMPLISHED :)) Jadi kita anggap tujuan sudah beres - ngeliat sakura :D, selebihnya anggap aja bonus. :)   Sampai apartemen kita istirahat sebentar, masukkin teh kotak ke freezer biar agak dingin, persiapan untuk perjalanan berikutnya. Hari ini kalau di itinerary tujuannya Shinjuku Gyoen, Tokyo Fire Station dan Tokyo Metropolitan Building, sekalian ngeliat suasana area Shinjuku.

Di depan Tokyo Daigaku
Perjalanan pertama ke Shinjuku Gyoen, pemandangannya cukup indah, banyak aneka jenis sakura bermekaran, pokoknya beyond expectation, dan timingnya pas :). Ada satu kejadian unik, saat kita lagi kepikiran bagaimana caranya foto berlima, ada orang tua yang menawarkan untuk mengambilkan foto. Bahkan saking antusiasnya, beliau sampai naik ke kursi taman untuk mengambilkan foto dengan view terindah. Arigatou ojii-san. :)  Orang-orang Jepang memang ramah. Dalam perjalanan dari apartemen ke stasiun juga seorang bapak berumur ngajakin ngobrol di dekat sungai, dan ujungnya kembali kami minta tolong diambilkan foto. Berbeda dengan di Hongkong (dahulu kala), pernah saya meminta tolong diambilkan foto, tapi mereka malah menghindar.


National Museum of Nature and Science
Dari Shinjuku gyoen, kita lanjut ke Tokyo Fire Musem. Di perjalanan Afnan ketiduran dan harus dibangunin untuk menikmati museum tersebut. Karena sayang kan, tujuan ke museum ini sebenarnya hanya untuk Afnan :D. Museumnya lumayan lengkap, koleksi pemadam kebakaran dari zaman Tokyo dahulu sampai sekarang, termasuk yang masih ditarik kuda sampai helikopter. Ada beberapa lantai di sini. Tapi sayangnya agak sepi dan agak gelap, sehingga terasa kurang semarak. Dari museum ini tiba-tiba terbersit niat, bagaimana kalau mampir ke kampus ayahnya dulu, Tokyo Daigaku ..... hehehe pamer ke anak-anak. :D Kalau masalah rute perjalanan ke kampus, aman lah, walaupun gak ditulis di catatan itinerary. Di Tokyo rute keretanya sangat informatif dan lengkap sehingga insya Allah gak kesasar. [Note: Di perjalanan hari kedua juga sempat salah naik kereta (maksudnya beda dengan itinerary), namun bisa cepat recovery, karena rute kereta di Jepang sangat interconnected dan mudah difahami]. Namun sayangnya sampai di gerbang kampus, ayahnya gak pede untuk masuk kampus karena melihat tulisan Jepang yang sepertinya artinya "yang tidak berkepentingan, dilarang masuk". Sebenarnya gak terlalu yakin artinya sih, karena saat ini kemampuan membaca kanji masih tertatih-tatih. Tapi ya sudahlah, gak jadi ke gedung jam, cukup sampai di depan pintu. Setelah sampai apartemen baru ingat, ternyata ini bukan pintu utama, masih pintu masuk ke Agriculture (Nogakubu), Yayoi campus, pantesan agak kecilan :D

Di depan Nature and Science Museum, Ueno
Tapi sayangnya hari pertama ini kita gagal ke Tokyo Metropolitan Building dan area Shinjuku karena sudah kemaleman dan capek. Sebenarnya gak terlalu malam sih, tapi capeknya itu yang gak bisa dilawan. Oh ya, di Tokyo biaya kereta untuk anak-anak hanya setengah harga, dan untuk Afnan malah gratis.

Hari kedua di Tokyo, teh kotak yang dicari saat mau jalan-jalan di hari pertama ketemu juga, ternyata kita lupa kalau disimpan di freezer. Niatnya cuma sebentar, namun karena kelamaan akhirnya jadi beku deh. :D  Hari kedua rencananya sesuai itinerary kita akan ke Ueno, museum science, Odaiba, Miraikan, Megaweb Toyota City, Tokyo Tower dan Shibuya termasuk Hachiko. Rencananya kita makam malam di Shibuya sambil menikmati suasana area Shibuya. Kenyataannya ?!? ......hehehehehe.......yappari tsukareta nee

Modul ruang angkasa di Miraikan
Pagi-pagi perjalanan lancar sampai ke Ueno. Berbeda dengan di Shinjuku gyoen, kalau di Ueno Park bunga sakura sudah banyak yang rontok, namun pengunjungnya justru lebih ramai. Masyarakat Jepang banyak yang gelaran tikar sambil minum-minum menikmati bunga sakura. Kita keliling taman, termasuk ke Shinobazu pond, lokasinya gak terlalu jauh dari Tokyo Daigaku, dan dulu cukup sering dikunjungi :). Sebenarnya kita kelilling taman sambil menunggu museum science buka, karena itu salah satu tujuan utama kita. Setelah buka, kita masuk ke National Museum of Nature and Science Ueno, dan ternyata dapat potongan harga karena bisa menunjukkan booklet turis Tokyo (booklet itu bisa diambil di bandara). Lumayanlah sedikit ngirit :), padahal masuk museum ini juga gak mahal. Ternyata museum ini salah satu yang terbaik yang kita kunjungi di Tokyo kali ini. Di dalam kita bisa melihat replika fosil dinosaurus, replika berbagai binatang dalam berbagai ukuran, pameran diorama peradaban Jepang, dan yang paling menarik teater 4D. Pokoknya gak rugi deh ke sini.

Patung 'Liberty' di Odaiba
Dari Ueno, kita lanjut ke Odaiba. Di sini ada taman bunga tulip dan museum Miraikan. Di The National Museum of Emerging Science and Innovation (Miraikan) kita bisa melihat pertunjukan robot Ashimo, gerakannya luwes baik waktu berjalan maupun bermain bola. Selain itu kita melihat modul ruang angkasa, dan banyaklah hal-hal terkait sains lainnya. Kekurangannya, pada saat kunjungan beberapa area tidak bisa dikunjungi karena sedang renovasi, misalnya area robot, dan juga sepertinya museum ini  agak terlalu teknis sehingga perlu waktu yang lama - termasuk menerangkan ke anak-anak - kalau mau mengunjungi dengan lebih bermakna.

Dari Miraikan kita lanjut melihat patung Gundam, replika patung Liberty dan rainbow bridge. Agak tumben ayahnya ngerasa pegel waktu ngedorong stroller Afnan, padahal biasanya cukup terlatih jalan jauh :D. Mungkin karena sendalnya kurang pas sehingga cepat pegel. Ke depannya - kalau diulang - disarankan pakai sepatu kets biar lebih nyaman dan gak cepat capek. Di area patung Liberty anginnya kenceng banget. Semuanya kedinginan, tapi masih untung gak terbang, hehehe. Kita menyempatkan sholat di mall dekat loker. Kalau untuk makanan, kita sudah membawa bekal dari apartemen (masak nasi sendiri dong), dan tadi sudah dimakan di Ueno.


Yappari, Tokyo Tower
Dari Odaiba kita lanjut melihat Tokyo Tower. Seperti sudah dibayangkan, Tokyo Tower ya seperti itu, istilahnya kita ke sana untuk 'menggugurkan kewajiban' hehehe. Kita naik ke atas untuk menikmati pemandangan Tokyo dari ketinggian. Biasanya untuk melihat Tokyo dari ketinggian, kalau nyari yang gratisan, orang pergi ke Tokyo Metropolitan Building instead of Tokyo Tower. :D  Tapi kemarin kita gagal ke Tokyo Metropolitan Building, dan lagipula Tokyo Tower udah masuk di list itinerary. Ada lagi alternatif gedung tinggi lainnya, Tokyo Skytree. Tapi kalau ke sana mestinya digabung dengan jalan-jalan ke Asakusa dan menikmati wisata Sumida river. Alternatif itu udah kita skip saat menentukan itinerary sebelum berangkat ke Tokyo.

Dari Tokyo Tower, jelas kita gak sanggup ke Shinjuku - skip. Perjalanan hari ini, jalan kaki nya jauh lebih banyak daripada hari pertama. Jadi dari Tokyo Tower, kita memutuskan langsung pulang ke apartemen. Dan karena besoknya pulang, malamnya kita nyoba check in online, dan alhamdulillah berhasil.

Hari ketiga adalah hari terakhir di Tokyo. Dari itinerary kita gak bakalan sempat mampir ke mana-mana, jadi langsung dari apartemen kita berangkat ke Haneda. Alhamdulillah karena sudah check in online, antrian waktu check in di counter lebih pendek (ada jalur antrian yang berbeda antara yang sudah check in online dengan yang belum). Di bandara kita ngembaliin kartu Suica karena sisa depositnya masih banyak, dan ternyata antriannya panjang banget. Jadinya agak hectic. Lolos dari antrian kartu Suica, kita nyempetin mampir beli oleh-oleh di bandara, maklum kita gak sempat mampir Shibuya dan Shinjuku, jadi belum sempat beli oleh-oleh. Lagi-lagi antrian di sini panjang banget.

Sayonara Tokyo .....
Akhirnya dengan sisa waktu yang limited, kita terpaksa langsung boarding. Di perjalanan pulang, Afnan Hana dan Qonita mendapat boneka harimau dan gajah dari Garuda, lumayan :)

Moral of the story, kalau jalan-jalan ke Tokyo jangan membuat itinerary yang terlalu padat dan optimistis :D  Berikan spare waktu yang cukup, sehingga setiap momennya dapat lebih dinikmati, dan tidak ada spot yang terpaksa di-cancel. Apalagi kota yang pernah cukup lama ditinggali, ada banyak tempat kenangan untuk dikunjungi, ada teman yang terpaksa ditampik waktu ngajak ketemuan (gomen nasai, waktunya sangat singkat). Dan akhirnya dua malam itu terlalu singkat, dan gak sebanding dengan tujuh jam perjalanan dari Cengkareng ke Haneda. :D

Sekian catatan perjalanan ke Tokyo. Karena ini "late posting", ditulis lebih setahun setelahnya, ada banyak emosi yang tidak tersampaikan dan ada cerita yang kurang mengalir, mohon dimaafkan.
Moushiwake gozaimasen deshita.


.: aer :.