Sabtu, 20 Mei 2017

Jalan-jalan: Liburan ke Tokyo

Shinjuku gyoen
Setelah galau beberapa lama, akhirnya kita putuskan "jadi" untuk jalan-jalan sekeluarga ke Tokyo, sekalian perpisahan sebelum kakak Hana masuk pesantren (note: masuk pesantrennya masih bulan Juli sih :)). Mulailah kita (tepatnya saya) 'riset' mencari obyek-obyek wisata di Tokyo yang potensial dikunjungi. Setelah terkumpul beberapa lokasi, bersama-sama kita sortir tempat mana yang paling ingin didatangi. Ibunya pingin melihat Sakura, salju dan gunung Fuji - permintaan yang bisa saja dipenuhi kalau budget dan waktu un-limited - sayangnya kali ini not the case :D. Kakak Hana dan adek Qonita dianggap ke Jepang saja sudah senang :), sedang Afnan diiming-imingi berbagai museum yang kira-kira disukai anak laki, dinosaurus, robot, pemadam kebakaran. Terkumpullah beberapa tempat wisata, dan mulailah ayahnya menyusun itinerary. Sempat juga muncul diskusi apakah kita pergi dua malam atau tiga malam, sebelum akhirnya diputuskan dua malam saja. Kimatta. :)


Di depan apartemen
Kegalauan berlanjut tentang mana yang akan dilakukan duluan, apakah pesan tiket, booking hotel atau mengurus visa. Akhirnya kita memesan hotel duluan, karena khawatir makin ke sini hotel makin penuh atau harganya naik, karena musim turis. Kita memesan hotel melalui aplikasi airbnb, dan mendapatkan apartemen di dekat stasiun Higashi Nakano, area Shinjuku (biayanya 240 Euro untuk dua malam). Sengaja kita memilih apartemen karena saat mengecek hotel, rata-rata mengharuskan sewa dua kamar untuk jumlah keluarga yang kita submit. Apartemen yang kita pilih lumayan enak, full furnished (ada mesin cuci, rice cooker, microwave, kompor, kulkas dan peralatan dapur) dan boleh ditempati maksimal hingga delapan orang - sehingga untuk dua orang dewasa dengan tiga bocil tentunya cukup lega. Selain itu host menyediakan portable wifi (lumayan bermanfaat untuk konek internet di apartemen maupun waktu jalan-jalan), memperbolehkan waktu check in dan check out yang fleksible, dan ini yang cukup penting "not cost restricted", artinya boleh cancel atau ganti hari. Menjadi penting karena kita belum yakin apakah akan mendapatkan tiket dan visa sesuai waktu yang diinginkan.

Rencana itinerary
Saat booking tiket tanggal 8-11 April, benar saja tiketnya penuh, sehingga kita geser ke tanggal 7-10 April. Sebenarnya mungkin memang lebih pas tanggal 7-10 April, karena kita cukup khawatir saat datang, musim Sakura sudah lewat. Selain itu, kalau berangkat hari Jumat (tanggal 8) sepertinya jalanan bandara akan macet. Terpaksa bookingan kita geser harinya, dan kena biaya tambahan USD 24. (kalau kita pilih yang restricted, sepertinya uang akan hangus). Untuk pengurusan visa, kita memilih dibantu mengurus lewat kantor dengan biaya Rp. 500,000 per orang. Selain tidak repot, hampir dipastikan bisa mendapatkan visa tanpa masalah.

Untuk menyusun itinerary, berbagai web kita buka, terkait biaya, waktu dan kondisi tempat yang akan dikunjungi. Beberapa yang bermanfaat:
-web tempat wisata jepang (googling aja, karena posting ini sudah setahun yang lalu, saya lupa web apa dulu yang paling bermanfaat menambah informasi, sepertinya sih www.japan-guide.com)
- web jorudan - untuk mengecek rute, biaya dan waktu untuk transportasi di Tokyo (beberapa internet menyarankan menggunakan hyperdia, tetapi saya memakai web ini karena sejak awal 2000-an lebih familiar dengan jorudan - nostalgia mode on)
- web Shinjuku Gyoen, taman di Tokyo yang kita anggap paling representatif untuk dikunjungi, dalam rangka hanami (padahal dulu tiga tahun tinggal di Tokyo, gak pernah ke situ :p)
Playground di Bandara Soekarno Hatta
- web Ueno Park
- web Tokyo Fire Musem
- web National Museum of Nature and Science Ueno
- web The National Museum of Emerging Science and Innovation (Miraikan)
- web Tokyo Tower
- web area odaiba
- web area ueno
- web area shinjuku
- web area shibuya, termasuk Tokyo Metropolitan Building
Dan tentunya google map yang selalu membantu mencarikan lokasi. Pokoknya di internet ada banyak web, yang bisa membantu membuat itinerary precisely, minute by minute :D. Dan jadilah sebelum berangkat, kita sudah punya detail jadwal selama tiga hari dua malam, dengan biaya sekeluarga sekitar 25,000 yen, di luar makan dan penginapan.

Perjalanan Bandara Haneda- Apartemen
Beberapa hari sebelum keberangkatan, kita juga rajin mengecek internet memperhatikan cuaca dan lokasi sakura berbunga (kapan sakura pertama berbunga, apakah hujan sehingga sakura nya rontok, di setiap taman berapa persen sakura sudah berbunga, dll), karena perjalanan ini considered failed kalau tidak berhasil melihat sakura :D. Kita bersiap geser lokasi yang dikunjungi, jika ternyata bunga sakura sudah rontok di taman yang akan dikunjungi. Koper dan isinya juga sudah dipersiapkan dengan baik, termasuk lauk kering (rendang), beras, indomie, beberapa cemilan, minuman susu dan teh kotak. O iya lain kali perhatikan fasilitas yang tersedia di apartemen, karena ada mesin cuci, seharusnya baju yang dibawa tidak perlu terlalu banyak. Tapi karena kemarin kurang perhatian, dibawalah baju dengan asumsi tanpa mencuci.

Sebelum keberangkatan, kita mencoba nelfon untuk online check in, namun ternyata dijawab harus tunggu 24 jam sebelumnya. Akhirnya sekitar 24 jam sebelum keberangkatan kita mencoba nelfon lagi, namun lagi-lagi gagal, dijawab untuk penerbangan luar negeri harus check in di counter. Dan ternyata saat di counter, petugasnya memberitahukan bahwa bisa online check in. Gak tau nih, mana yang bener, tapi kita bertekad pulangnya kita pastikan online check in dulu. Soalnya tanpa online check in, khawatir tempat duduknya jadi terpencar-pencar.

Sakura di pinggir sungai
Akhirnya hari keberangkatan tiba. Ayah pulang kantor teng-go dan langsung pulang ke rumah. Setelah bersih-bersih dan bersiap-siap, habis sholat Magrib kita berangkat ke bandara - lebih cepat lebih baik. Sampai di bandara, seperti biasa ayah nge-drop ibu dan anak-anak di terminal, kemudian memarkir mobil di GMF, dan lanjut naik ojek ke terminal. Berbeda dari biasanya, kali ini (mungkin semenjak ada pekerjaan di M1) sangat sulit menemukan ojek di depan GMF di malam hari, sehingga terpaksa jalan sampai M1, baru mendapat ojek. Check in di bandara cukup lancar, tidak ada drama seperti waktu jalan-jalan ke Singapura dulu. Kemudian melalui gate imigrasi dan tinggal menunggu waktu boarding.

Setelah sholat Isya, kita cukup kesulitan mencari tempat duduk kosong di area sekitar tempat boarding. Pintu menuju ruang tunggu boarding juga belum dibuka. Untunglah gak sengaja kita menemukan play ground tempat bermain anak di sisi kanan, dekat Gate E1, sehingga anaknya bisa nyaman bermain, dan ayah ibunya bisa duduk-duduk santai di kursi yang tersedia di sana.

Taman dekat apartemen
Setelah ruang tunggu boarding dibuka, kita pindah ke sana. Semuanya tidur menunggu di kursi (kecuali ayahnya dong :)) karena waktu keberangkatan masih cukup lama. Baru jam 11.30 pesawat siap diberangkatkan. Kita naik pesawat Airbus, PK-GPx (lupa registrasinya).

Hari pertama di Tokyo, Jumat tanggal 8 April 2016, kita mendarat dengan selamat di Bandara Haneda. Kemudian mengikuti saran yang pernah di-share di FB, kita mendaftar internet di bandara. Ada mesinnya untuk register, scan paspor, dan kita dapet kertas berisi kode premium untuk akses internet. Selanjutnya donlod aplikasi Travel Japan Wi-fi untuk akses internet gratisan. Namun karena terlalu banyak pindah tempat, hotspot ikut pindah-pindah, sehingga kurang reliable dan gak kita pake selama jalan-jalan di Tokyo. Alasan (utama) lainnya, apartemen yang kita sewa menyediakan pocket wireless yang ON di manapun. :)

Shinjuku gyoen
Setelah ndaftar internet, kita membeli Suica, bukan untuk cost saving, tapi untuk pertimbangan kemudahan perjalanan, karena jadi gak perlu banyak beli tiket di stasiun. Kita membeli Suica karena rute yang dituju tidak hanya dicover JR atau hanya subway, tapi campuran, termasuk monorail. Ada pilihan kartu yang khusus untuk JR, atau yang khusus untuk subway. Memang kerugian untuk pembelian Suica, kita kena biaya 500 yen, yang nantinya bisa dikembalikan 350 yen jika tidak habis. Jadi rugi 150 yen, tapi worth it lah kenyamanannya.
 
Sesuai rute yang sudah dipersiapkan di itinerary dengan seksama :D, kita harus pindah kereta dua kali untuk mencapai stasiun Higashi Nakano, stasiun terdekat menuju apartemen. Yang kurang diperhatikan saat membuat itinerary adalah, apakah saat perpindahan kereta harus berjalan jauh, naik turun tangga, atau harus pindah stasiun lewat jalan raya, kurang terlalu diperhatikan. Tapi overall itinerary nya cukup membantu. Saat pindah-pindahan kereta, sempat salah satu tas yang dibawa tertinggal di kereta, untungnya sebelum pintu kereta menutup, kita sudah sadar, sehingga sempat mengambil kembali tasnya. Otherwise, repot deh harus ngelapor ke petugas stasiun, ngabisin waktu .....

Tokyo Fire Station
Akhirnya kita sampai di Higashi Nakano, dan eng ing eng.... HP lobat :((. Padahal kita gak nge-print peta apartemen tujuan, dan rencananya rely on video yang di-share oleh pemilik apartemen di airbnb. Tapi HP nya mati, dan videonya gak bisa disetel. Untunglah kita gak culun2 amat di Jepang, jadi faham bahwa di setiap stasiun ada peta area sekitarnya. Berbekal alamat apartemen dan memperhatikan peta di stasiun, kita berhasil mengidentifikasi arah yang dituju.

Dalam perjalanan menuju apartemen (mungkin sekitar sepuluh menitan), kita ketemu bunga sakura di dekat sungai. Yey MISSION ACCOMPLISHED :)) Jadi kita anggap tujuan sudah beres - ngeliat sakura :D, selebihnya anggap aja bonus. :)   Sampai apartemen kita istirahat sebentar, masukkin teh kotak ke freezer biar agak dingin, persiapan untuk perjalanan berikutnya. Hari ini kalau di itinerary tujuannya Shinjuku Gyoen, Tokyo Fire Station dan Tokyo Metropolitan Building, sekalian ngeliat suasana area Shinjuku.

Di depan Tokyo Daigaku
Perjalanan pertama ke Shinjuku Gyoen, pemandangannya cukup indah, banyak aneka jenis sakura bermekaran, pokoknya beyond expectation, dan timingnya pas :). Ada satu kejadian unik, saat kita lagi kepikiran bagaimana caranya foto berlima, ada orang tua yang menawarkan untuk mengambilkan foto. Bahkan saking antusiasnya, beliau sampai naik ke kursi taman untuk mengambilkan foto dengan view terindah. Arigatou ojii-san. :)  Orang-orang Jepang memang ramah. Dalam perjalanan dari apartemen ke stasiun juga seorang bapak berumur ngajakin ngobrol di dekat sungai, dan ujungnya kembali kami minta tolong diambilkan foto. Berbeda dengan di Hongkong (dahulu kala), pernah saya meminta tolong diambilkan foto, tapi mereka malah menghindar.


National Museum of Nature and Science
Dari Shinjuku gyoen, kita lanjut ke Tokyo Fire Musem. Di perjalanan Afnan ketiduran dan harus dibangunin untuk menikmati museum tersebut. Karena sayang kan, tujuan ke museum ini sebenarnya hanya untuk Afnan :D. Museumnya lumayan lengkap, koleksi pemadam kebakaran dari zaman Tokyo dahulu sampai sekarang, termasuk yang masih ditarik kuda sampai helikopter. Ada beberapa lantai di sini. Tapi sayangnya agak sepi dan agak gelap, sehingga terasa kurang semarak. Dari museum ini tiba-tiba terbersit niat, bagaimana kalau mampir ke kampus ayahnya dulu, Tokyo Daigaku ..... hehehe pamer ke anak-anak. :D Kalau masalah rute perjalanan ke kampus, aman lah, walaupun gak ditulis di catatan itinerary. Di Tokyo rute keretanya sangat informatif dan lengkap sehingga insya Allah gak kesasar. [Note: Di perjalanan hari kedua juga sempat salah naik kereta (maksudnya beda dengan itinerary), namun bisa cepat recovery, karena rute kereta di Jepang sangat interconnected dan mudah difahami]. Namun sayangnya sampai di gerbang kampus, ayahnya gak pede untuk masuk kampus karena melihat tulisan Jepang yang sepertinya artinya "yang tidak berkepentingan, dilarang masuk". Sebenarnya gak terlalu yakin artinya sih, karena saat ini kemampuan membaca kanji masih tertatih-tatih. Tapi ya sudahlah, gak jadi ke gedung jam, cukup sampai di depan pintu. Setelah sampai apartemen baru ingat, ternyata ini bukan pintu utama, masih pintu masuk ke Agriculture (Nogakubu), Yayoi campus, pantesan agak kecilan :D

Di depan Nature and Science Museum, Ueno
Tapi sayangnya hari pertama ini kita gagal ke Tokyo Metropolitan Building dan area Shinjuku karena sudah kemaleman dan capek. Sebenarnya gak terlalu malam sih, tapi capeknya itu yang gak bisa dilawan. Oh ya, di Tokyo biaya kereta untuk anak-anak hanya setengah harga, dan untuk Afnan malah gratis.

Hari kedua di Tokyo, teh kotak yang dicari saat mau jalan-jalan di hari pertama ketemu juga, ternyata kita lupa kalau disimpan di freezer. Niatnya cuma sebentar, namun karena kelamaan akhirnya jadi beku deh. :D  Hari kedua rencananya sesuai itinerary kita akan ke Ueno, museum science, Odaiba, Miraikan, Megaweb Toyota City, Tokyo Tower dan Shibuya termasuk Hachiko. Rencananya kita makam malam di Shibuya sambil menikmati suasana area Shibuya. Kenyataannya ?!? ......hehehehehe.......yappari tsukareta nee

Modul ruang angkasa di Miraikan
Pagi-pagi perjalanan lancar sampai ke Ueno. Berbeda dengan di Shinjuku gyoen, kalau di Ueno Park bunga sakura sudah banyak yang rontok, namun pengunjungnya justru lebih ramai. Masyarakat Jepang banyak yang gelaran tikar sambil minum-minum menikmati bunga sakura. Kita keliling taman, termasuk ke Shinobazu pond, lokasinya gak terlalu jauh dari Tokyo Daigaku, dan dulu cukup sering dikunjungi :). Sebenarnya kita kelilling taman sambil menunggu museum science buka, karena itu salah satu tujuan utama kita. Setelah buka, kita masuk ke National Museum of Nature and Science Ueno, dan ternyata dapat potongan harga karena bisa menunjukkan booklet turis Tokyo (booklet itu bisa diambil di bandara). Lumayanlah sedikit ngirit :), padahal masuk museum ini juga gak mahal. Ternyata museum ini salah satu yang terbaik yang kita kunjungi di Tokyo kali ini. Di dalam kita bisa melihat replika fosil dinosaurus, replika berbagai binatang dalam berbagai ukuran, pameran diorama peradaban Jepang, dan yang paling menarik teater 4D. Pokoknya gak rugi deh ke sini.

Patung 'Liberty' di Odaiba
Dari Ueno, kita lanjut ke Odaiba. Di sini ada taman bunga tulip dan museum Miraikan. Di The National Museum of Emerging Science and Innovation (Miraikan) kita bisa melihat pertunjukan robot Ashimo, gerakannya luwes baik waktu berjalan maupun bermain bola. Selain itu kita melihat modul ruang angkasa, dan banyaklah hal-hal terkait sains lainnya. Kekurangannya, pada saat kunjungan beberapa area tidak bisa dikunjungi karena sedang renovasi, misalnya area robot, dan juga sepertinya museum ini  agak terlalu teknis sehingga perlu waktu yang lama - termasuk menerangkan ke anak-anak - kalau mau mengunjungi dengan lebih bermakna.

Dari Miraikan kita lanjut melihat patung Gundam, replika patung Liberty dan rainbow bridge. Agak tumben ayahnya ngerasa pegel waktu ngedorong stroller Afnan, padahal biasanya cukup terlatih jalan jauh :D. Mungkin karena sendalnya kurang pas sehingga cepat pegel. Ke depannya - kalau diulang - disarankan pakai sepatu kets biar lebih nyaman dan gak cepat capek. Di area patung Liberty anginnya kenceng banget. Semuanya kedinginan, tapi masih untung gak terbang, hehehe. Kita menyempatkan sholat di mall dekat loker. Kalau untuk makanan, kita sudah membawa bekal dari apartemen (masak nasi sendiri dong), dan tadi sudah dimakan di Ueno.


Yappari, Tokyo Tower
Dari Odaiba kita lanjut melihat Tokyo Tower. Seperti sudah dibayangkan, Tokyo Tower ya seperti itu, istilahnya kita ke sana untuk 'menggugurkan kewajiban' hehehe. Kita naik ke atas untuk menikmati pemandangan Tokyo dari ketinggian. Biasanya untuk melihat Tokyo dari ketinggian, kalau nyari yang gratisan, orang pergi ke Tokyo Metropolitan Building instead of Tokyo Tower. :D  Tapi kemarin kita gagal ke Tokyo Metropolitan Building, dan lagipula Tokyo Tower udah masuk di list itinerary. Ada lagi alternatif gedung tinggi lainnya, Tokyo Skytree. Tapi kalau ke sana mestinya digabung dengan jalan-jalan ke Asakusa dan menikmati wisata Sumida river. Alternatif itu udah kita skip saat menentukan itinerary sebelum berangkat ke Tokyo.

Dari Tokyo Tower, jelas kita gak sanggup ke Shinjuku - skip. Perjalanan hari ini, jalan kaki nya jauh lebih banyak daripada hari pertama. Jadi dari Tokyo Tower, kita memutuskan langsung pulang ke apartemen. Dan karena besoknya pulang, malamnya kita nyoba check in online, dan alhamdulillah berhasil.

Hari ketiga adalah hari terakhir di Tokyo. Dari itinerary kita gak bakalan sempat mampir ke mana-mana, jadi langsung dari apartemen kita berangkat ke Haneda. Alhamdulillah karena sudah check in online, antrian waktu check in di counter lebih pendek (ada jalur antrian yang berbeda antara yang sudah check in online dengan yang belum). Di bandara kita ngembaliin kartu Suica karena sisa depositnya masih banyak, dan ternyata antriannya panjang banget. Jadinya agak hectic. Lolos dari antrian kartu Suica, kita nyempetin mampir beli oleh-oleh di bandara, maklum kita gak sempat mampir Shibuya dan Shinjuku, jadi belum sempat beli oleh-oleh. Lagi-lagi antrian di sini panjang banget.

Sayonara Tokyo .....
Akhirnya dengan sisa waktu yang limited, kita terpaksa langsung boarding. Di perjalanan pulang, Afnan Hana dan Qonita mendapat boneka harimau dan gajah dari Garuda, lumayan :)

Moral of the story, kalau jalan-jalan ke Tokyo jangan membuat itinerary yang terlalu padat dan optimistis :D  Berikan spare waktu yang cukup, sehingga setiap momennya dapat lebih dinikmati, dan tidak ada spot yang terpaksa di-cancel. Apalagi kota yang pernah cukup lama ditinggali, ada banyak tempat kenangan untuk dikunjungi, ada teman yang terpaksa ditampik waktu ngajak ketemuan (gomen nasai, waktunya sangat singkat). Dan akhirnya dua malam itu terlalu singkat, dan gak sebanding dengan tujuh jam perjalanan dari Cengkareng ke Haneda. :D

Sekian catatan perjalanan ke Tokyo. Karena ini "late posting", ditulis lebih setahun setelahnya, ada banyak emosi yang tidak tersampaikan dan ada cerita yang kurang mengalir, mohon dimaafkan.
Moushiwake gozaimasen deshita.


.: aer :.



Minggu, 14 Mei 2017

Catatan Perjalanan ke Negeri Donald Trump

Bersantai di Homewood Suites
Tanggal 25-27 April saya dijadwalkan mengikuti training di Dayton, Ohio, yey. Lumayan, udah lama gak 'jalan-jalan' ke luar negeri - apalagi belum pernah ke USA - dan tentunya materi training nya juga cukup menarik, gak jauh-jauh dari kerjaan teknis sih.

Karena kesibukan di kantor, akhirnya baru bulan Maret saya apply visa ke USA - dengan membayar biaya 2,16 juta rupiah via Bank CIMB Niaga, dan mendapat jadwal wawancara tanggal 6 April. Sedikit was-was karena katanya visa ke USA agak unpredictable. Bisa saja tiba-tiba ditolak tanpa alasan. Yang cukup membuat tenang, pengurusan visa dibantu kantor, dan sebelumnya cukup banyak teman-teman lain yang sukses mendapatkan visa tanpa masalah. Berbekal surat pengantar dari kantor, invitation letter dari penyelenggara training, dan dokumen pendukung lainnya saya menuju Kedubes USA pada jadwal wawancara yang ditentukan. Sentimen kemenangan Trump masih sedikit membayang-bayangi, apakah akan menyebabkan pengurusan visa menjadi lebih sulit....hmmm.

Memandang Wall Mart di pinggir highway
Sampai di Kedubes sekitar jam 6.30, antrian sudah cukup panjang, dan masih di luar gedung. Perlahan beringsut ke depan, hingga tak terasa satu jam menunggu baru kita berhasil masuk ke dalam
gedung Kedubes. Setelah menitipkan tas, di dalam saya mengambil nomor dan kembali antri menunggu proses pendaftaran, kalau tidak salah saya mendapat nomor urut 50. Melewati loket pertama yang cenderung hanya proses administratif, kembali kami menunggu dipanggil untuk melakukan pengambilan sidik jari. Di sini antriannya tidak selama antrian awal tadi. Gak lama setelah pengambilan sidik jari, barulah dilakukan wawancara. Secara umum pertanyaannya hanya mengenai siapa kamu dan apa tujuan kamu ke USA, dan rasanya jawaban saya sudah cukup meyakinkan. Apalagi penanya sempat mengkonfirmasi bahwa saya kerja di Garuda Group, seolah-olah dengan demikian proses akan menjadi lebih mudah. Namun ternyata akhirnya saya hanya mendapat lembar kuning, yang artinya perlu pengecekan lebih lanjut. Sebagai informasi, warna putih artinya visa di-approve dan warna merah artinya visa ditolak. Dan dari beberapa orang lainnya yang menjalani proses wawancara, saya tidak berhasil menemukan benang merah, siapa yang akan ditolak dan siapa yang akan di-approve. Sekilas, terlihat random :D  Proses di Kedubes ini selesai sekitar jam 9 pagi, tidak terlalu lama.

Tanda keberadaan di O'Hare Airport, Chicago
Pulang belum mendapat kepastian, kita sabar saja menunggu. Akhirnya setelah seminggu menunggu, iseng-iseng saya kirim imel menanyakan apakah visa diapprove atau tidak, karena rencana kepergian sudah dekat. Alhamdulillah pihak kedutaan menyatakan visa sudah di-approve dan bisa diambil. Kalau dari lembaran kuning yang diterima, sebenarnya disarankan untuk menanyakan progress setelah satu bulan, tapi karena butuh cepat, yaa kita lakukan secara progresif revolusioner. :D

Setelah visa sudah di tangan, saya booking hotel di lokasi yang sama dengan tempat trainingnya, biar transportasinya lebih mudah, di Homewood Suites. Tiket juga langsung di booking, dipilih yang waktu transitnya paling sedikit sehingga tidak terlalu menghabiskan waktu di jalan. Akhirnya saya memiilih berangkat menggunakan JAL dan pulang menggunakan Qatar Airways. Belakangan baru sadar, itu artinya perjalanan yang dilakukan adalah keliling dunia dengan terus terbang ke arah timur melewati CGK - NRT - Samudra Pasifik - ORD - DAY - ORD - Samudra Atlantik - Portugal - Spanyol - Mesir - DOH - CGK. Jadi ingat film kartun "Around the World in Eighty Days", bedanya kalau ini cuma seminggu udah termasuk trainingnya :).  Total perjalanan (termasuk transit), berangkatnya dan pulangnya masing-masing sekitar 29 jam, lumayan pegal dan pastinya jet lag :(

Naik bis menuju bandara
Seperti biasa sebelum berangkat saya mengecek peta daerah yang dituju (google maps), public transportation (RTA, tapi ternyata lari ke google maps juga kalau mengecek waktu tempuh), place of interest, makanan halal, dan juga jadwal dan arah sholat. Untuk public transportation, saya gak mengecek detil hingga jam-jam keberangkatan - seperti waktu di Jepang - karena sepertinya hanya rute bis yang tidak terlalu kompleks. Cukup saya tahu bahwa saya akan naik Rute 01 dan 43. Untuk place of interest, saya mengincar National Museum of Air Force , walaupun agak ragu karena sepertinya jadwal training-nya cukup ketat, jadi kalau sempat saja. Untuk makanan halal, ketemu Yaffa Grill, mediteranian food, yang cuma perlu nyebrang jalan dan jalan sedikit dari hotel. Lumayan untuk case emergency :D. Kalau jadwal dan arah sholat sekedar untuk referensi. Selain itu juga tanya-tanya Arif (kakak) tentang cuaca, ketat tidaknya imigrasi, makanan, dll yang bisa menambah confidence level :)
Di depan Wright State University, Dayton
Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Saya berangkat hari Minggu 23 April, ba'da magrib. Naik grab, cukup cepat sampai di CGK, sehingga masih cukup waktu untuk bersantai karena pesawatnya terbang jam 21.55. Yang agak berbeda dibanding perjalanan biasanya, saat check in, petugas counternya bilang harus menghubungi Transportation Security Administration untuk melakukan clearance. Waks kenapa pula ini, udah pengurusan visa nya gak smooth, proses check in nya juga ada prosedur tambahan. Jadi mbayangin nanti di ORD bagaimana pula nasibnya. Tapi alhamdulillah dapat clearance, dan gak masalah bisa boarding ke pesawat. Dan karena menurut petugas counternya, pesawat penuh, jadi seat saya ditingkatkan menjadi Premium Economy, lumayan lah lebih lega dibanding Economy yang normal :D

Rute berangkat saya naik B787-9 ke Narita (first time naik Dreamliner, yey), lanjut B777-300 ke Chicago dan terakhir naik CRJ 200 ke Dayton. Yang lumayan jadi perhatian adalah mengenai makanan, kalau ngeliat di web JAL sebenarnya ditulis bisa pesan makanan halal 24 jam sebelum keberangkatan. Namun karena sudah terlambat, di pesawat saya hanya bilang ke pramugarinya minta yang gak ada daging dan gak ada pork. Pramugarinya lumayan proaktif dan helpful, dengan mendahulukan saya mendapatkan makanan sebelum penumpang lain supaya kebagian yang non daging. Tapi memang tidak seyakin kalau mendapat makanan halal. Selain itu highlight lain adalah masalah sholat. Saya terpaksa beberapa kali ke toilet untuk wudhu dan sholat sambil duduk. Untuk penanda waktu sholat, cukup saya bagi tiga dengan melihat jendela. Kalau terang, saya sholat Zhuhur dan Ashar, kalau gelap saya sholat Magrib dan Isya, dan untuk Subuh saya harus nge-watch langit menanti warnanya agak kemerahan. Belakangan teman saya nge-share, kalau di ANA dia bisa request sholat di belakang yang agak sepi sambil berdiri. Hmmm, seharusnya saya coba juga waktu naik JAL dan Qatar Airways.

Menunggu bis di halte pinggir jalan
Perjalanan lumayan lancar, dari Cengkareng transit di Narita (hisashiburi, terakhir ke Narita tahun
2002 :), karena waktu jalan-jalan ke Jepang tahun lalu lewat Haneda, gak lewat Narita). Dari Narita, mendarat di Chicago. Nah di sini - seperti sudah diduga - saya disuruh masuk ruangan khusus, kembali menunggu proses clearance. Lumayan lama sehingga waktu selesai dari proses tersebut, penumpang sudah sepi dan saya tidak menemukan bagasi saya. (note: di counter check in di Cengkareng, petugasnya menginformasikan bahwa bagasi diambil di Chicago dan check in kembali). Akhirnya setelah tanya ke sana ke mari, dapat juga informasi bahwa tas saya diambilkan oleh petugas JAL dan langsung ditransfer ke penerbangan berikutnya. Blessing in disguise nya, tas saya gak diperiksa petugas bea cukai walaupun saya membawa rice cooker (bukan bom panci ya), keripik kentang, beras dan indomie.

Tapi jadi kefikiran, profiling itu sedikit racist ya, mungkin filternya dari nama. Waktu ke Singapura, 100% saya harus minggir untuk pemeriksaan tambahan, waktu ke Australia 50% dari dua kali visit, dan waktu ke USA sekali-kalinya ternyata saya juga harus minggir untuk pemeriksaan tambahan.

Sir, yes sir .... gagal ke museum USAF at WPAFB :D
Dari Chicago, penerbangan ke Dayton berjalan lancar. Sedikit terasa aneh karena pindah dari pesawat besar ke pesawat kecil. Mendarat di Dayton hari Senin jam setengah empat sore. Karena sudah sore, sudah capek, dan waktu ngecek rute bis via internet ditulis jalan kaki dulu 0.4 mil (belakangan setelah ngecek lebih detil, sebenarnya gak perlu pake jalan) saya putuskan naik taxi ke hotel. Lumayan mahal, habis USD 67 sekali jalan. Sampai hotel, setelah check in, langsung istirahat. Sayangnya karena jet lag, malamnya malah susah tidur :((

Hari Selasa adalah hari pertama training. Karena malamnya susah tidur, masih jet lag, dan trainingnya rada teoritis, alhasil ngantuk dan kurang optimal :D. Pulang training langsung bertekad istirahat biar training hari kedua lebih fresh. Dan bener, besoknya memang lumayan lebih ngampere, selain udah rada fresh, materi training nya juga kayaknya lebih manusiawi :D

Pulang training hari kedua (walaupun udah menjelang jam lima sore), iseng-iseng saya mencoba jalan kaki ke National Museum of Air Force dengan mengambil rute terdekat mengikuti peta - walaupun dari internet udah tahu museum tutup jam lima, minimal iseng-iseng foto di depannya :D. Jalanan di kota Dayton lumayan sepi, gak banyak tempat menarik yang bisa dilihat. Sepanjang jalan paling ketemu Wright State University, kantor Northrop Grumman dan akhirnya mentok di pos penjagaan WPAFB. Karena ragu mau lewat atau gak, beberapa menit termangu, akhirnya seorang tentara datang nanya mau ke mana. Alhasil dilaranglah lewat situ karena bagian dari pangkalan militer, bukan jalan publik, dan kalau mau ke museum harus lewat jalan memutar. Karena terlihat di peta lumayan jauh, akhirnya mending balik aja, dan ternyata total perjalanan sore itu sekitar 6,5 km. Lumayanlah olahraga sore. :)
Belakangan baru ngeh juga, plang WPAFB di jalan artinya Wright-Patterson Air Force Base, dan itu juga kenapa agak banyak ketemu tentara di kota ini.

Wright Stop Plaza
Hari ketiga training juga berjalan normal, materi training lumayan bisa diserap, dan pulang training, iseng-iseng nyoba nyari oleh-oleh. Karena googling gak nemu tempat yang pas, akhirnya saya nyoba ke Wall Mart yang gak terlalu jauh dari hotel (gak nyampe 1 km). Sampai di sana, muter-muter tapi gak nemu oleh-oleh yang menarik. Akhirnya pulang dengan tangan kosong. Dan karena bekal sudah menipis, iseng-iseng beli makan sore di Yaffa Grill, yang ternyata porsinya lumayan banyak dan baru bisa dihabiskan besok paginya.

Hari Jumat adalah hari terakhir, saya pulang naik bis Rute 01 arah dari hotel ke bandara. Check out jam 7.30 dan di tengah perjalanan tiba-tiba dapat ide untuk divert ke museum (masih kepikiran :)), karena pesawatnya baru terbang jam 15.30. Akhirnya turun di halte yang menuju ke museum dan berniat nyambung ke Rute 11. Tapi karena ada perpindahan halte dan perlu jalan kaki sekitar 5-10 menit, kelihatan di depan mata bis Rute 11 baru saja lewat. Akhirnya terpaksa agak lebih detil ngeliat jadwal bis berikutnya. Ternyata harus menunggu sekitar satu jam-an, jam 9.30 baru ada bis berikutnya. Sepertinya masih memungkinkan untuk ke museum. Anggap sampai museum jam 10.30, keliling-keliling dua jam, jam 12.30 jalan ke bandara, harusnya masih cukup waktu untuk ngejar jadwal pesawat. Tapi iseng-iseng ngeliat jadwal bis yang menuju bandara (rute 43), ternyata jadwalnya setelah jam 10.35 baru ada lagi jam 14:39. Artinya kalau tadi dapat bis yang menuju museum (gak ketinggalan), dengan cara apapun bakalan gak bisa ngejar bis ke bandara - alhamdulillah masih dimudahkan :D  Kefikiran nyoba sarana transportasi lain, tapi gak jadi. Kalau taxi sepertinya jarang kelihatan di jalanan. Nyoba nginstall grab dan uber, kok diminta kartu kredit, jadi males. :D

Di depan 'mushola', Dayton airport
Jadi akhirnya lanjut lagi bis Rute 1 ke Wright Stop Plaza (semacam terminal), dilanjutkan ke bis Rute 43 ke arah bandara. Sampai bandara langsung check in, dan yang agak bikin deg-degan, ternyata di boarding pass tidak ditulis nomor seat, petugasnya bilang nanti di atas (maksudnya di tempat boarding) baru dikasih nomor seat. Ngeliat counter airline sebelah, banyak penumpang yang ngantri dan gak kebagian tiket, jadi was-was juga. Kebetulan code tiket ku "V" bukan "Y", apa ada masalah ya...Kalo googling ditulis untuk kode V "might restrict advance seat assignment". Tapi alhamdulillah ternyata gak ada masalah. Pulangnya naik CRJ ke Chicago, lanjut B777-300ER ke Doha dan B787-8 ke Cengkareng. Perjalanan aman, lancar dan terkendali :). Kalau waktu berangkat saya milih window side dengan pertimbangan bisa ngeliat pemandangan waktu mendarat dan mudah mengecek waktu sholat dengan melihat matahari, waktu pulang saya milih aisle side karena lebih memudahkan untuk ke toilet, terutama untuk berwudhu.

Hal yang agak menarik di perjalanan, ternyata di bandara Dayton disediakan mushola, tepatnya prayer room yang bisa digunakan oleh agama manapun. Kalau di Qatar, jelas gampang ditemukan musholla - no wonder. Dan pelajaran lainnya, mungkin karena sering pindah pesawat, tas koperku pecah rodanya. Jadi lain kali kalau terbang jauh mungkin sebaiknya minta dipasang stiker "fragile", siapa tahu berguna menyelamatkan koper. Atau sekalian bawa aja kopernya ke kabin, karena koper ukuran tanggung begitu masih memenuhi standar untuk masuk kabin.

.: aer :.

Catatan tambahan:
Menunggu bis di Wright Stop Plaza
1-Kalau membandingkan bandara dari sisi penyediaan sarana internet (wireless), paling ramah Narita
dan Dayton yang free at all, kemudian Hamad (Qatar), free tapi harus login dengan ticket booking code, setelah itu OHare (Chicago) yang cuma ngasih free 30 menit setelah itu harus bayar, baru Cengkareng gak tau deh akses yang tersedia seperti apa.
2-Waktu pulang hari terakhir, saya beli tiket Day Pass seharga USD 5. Pertimbangan utamanya adalah kepraktisan, tidak harus mencari koin sejumlah USD 1.75 setiap naik bis. Dan ternyata saya sampai tiga kali naik bis sehingga balik modal dibanding bayar setiap naik. Tiket Day Pass bisa dibeli di bis yang pertama dinaiki.
3-Bis di kota Dayton sedikit unik karena bagian depannya ada besi yang bisa diturunkan untuk membawa sepeda, max dua buah. Jadi bagi pengendara sepeda, cukup terbantu saat naik bis dan dapat melanjutkan perjalanannya dengan sepeda.
4-Saat menunggu di Wright Stop Plaza, disediakan bangku untuk tiap jalur. Dan ada layar yang menunjukkan bis rute apa saja (termasuk jam datangnya) yang akan memasuki jalur tersebut. Saya menunggu sekitar sejam dengan cuaca cukup dingin (untuk ukuran penduduk tropis :D) dan angin yang sedikit menggigit. :D   Sekitar sepuluh menit menjelang kedatangan bis yang dicari, baru sadar ternyata ada ruang tunggu tertutup yang cukup hangat dengan berbagai kedai penganan dan minuman. Hmmfffhh, sayang sekali :(

Senin, 11 Agustus 2014

Benerin Pompa Air

Seminggu terakhir adalah masa suram di rumahku, in term of ketersediaan air. Awalnya kita melihat banjir lokal di area sekitar pompa air. Setelah diselidiki, tebakan pertama kita, kebocoran terjadi pada pipa keluaran yang masuk ke dalam keramik. Dengan asumsi seperti itu, dan dengan kesadaran diri gak mungkin bisa menyemen keramik dengan rapi setelah dibobol, maka kita mencoba menghubungi tukang. Sayangnya ternyata tukang langganan kelihatannya masih libur lebaran.


 Kita coba akalin sendiri. Setelah diraba-raba, sepertinya pipa yang kita suspect sedikit pecah. Akhirnya kita lem dengan lem PVC (Isarplas). Pompa dicoba lagi, ternyata banjirnya malah meluas. Setelah dicek, ada semburan air dari bagian bawah pompa. Mungkin saat kebocoran di tempat lain kita tambal, casing pompa yang sudah tipis karena korosi mengalami pressure yang meningkat sehingga bocor. Sempat terfikir untuk dilem besi atau di-las, tapi setelah googling, ada yang tidak merekomendasikan karena jika sudah korosi, kemungkinan ditambal di satu tempat malah akan bocor di tempat lainnya.

Akhirnya kita putuskan beli pompa baru. Karena males memotong dan menyambung pipa, saya putuskan membeli pompa yang persis sama, yaitu Shimizu PS-128 BIT, harganya 380 ribu. Jadi asumsinya akan memudahkan instalasi karena posisi dan bentuk connector tidak berubah. Sedikit aneh, pada pompa yang baru dibeli tertulis debit 10-18 liter/min, sedang pada pompa yang lama tertulis kapasitas max 34 liter/min. Tapi biarlah.

 Setelah pompa baru dipasang (karena lokasinya di bawah meja kompor, perlu sedikit perjuangan), sempat menyala beberapa macet kemudian macet dan bunyi mendengung sedikit. Kita cek listrik masuk, namun ternyata putarannya seret karena kotoran/pasir. Setelah kotoran kita bersihkan dan dicoba lagi, berulang pompa menyala beberapa menit dan kemudian mati lagi. Cukup aneh karena ini sumur lama dan pompa yang lama tidak pernah bermasalah dengan kotoran/pasir. (atau mungkin impeller dan casing di pompa lama ada celah ya karena aus, sehingga kotoran tidak lagi bermasalah karena bisa nyeplos ?).

Karena lokasi sumur di bawah meja kompor dan malas melakukan effort lebih, diputuskan untuk menyaring air masukan dengan menggunakan kain di sambungan pipa. Sukses pompa air menyala tanpa gangguan, tapi ternyata alirannya sangat pelan. Perlu waktu berjam-jam untuk mengisi toren kapasitas 650 liter (sebenarnya kelihatannya torennya gak penuh-penuh). Berarti setting seperti ini belum ideal.

Terpaksalah dilakukan usaha terakhir. Menarik pipa yang menuju ke bawah (sumur). Walaupun letaknya di bawah meja kompor, untung agak ke pinggir sehingga pipa masih bisa dilendutkan dan ditarik keluar. Selain itu, terpaksa pipa dipotong di satu lokasi karena menarik pipa panjang dari bawah kompor di dalam rumah memerlukan effort tersendiri, mentok ke sana sini. Ternyata total panjang pipa 6 meter. Dulu waktu instalasi pertama gak peduli :D

 Setelah pipa berhasil dikeluarkan, ternyata tidak ada saringan pasir di bawahnya. Hanya ada pipa dengan lubang-lubang di samping (tapi bawahnya tidak ditutup?), dan check valve. Akhirnya kita tambahkan saringan pasir, dan kita install kembali semuanya. Kita coba - oops pompanya gak muter. Terpaksa kita bersihkan dulu area impeller-nya. Setelah itu dicoba lagi, eh airnya gak keluar-keluar walaupun sudah dipancing. Ternyata lupa memasang seal/packing di satu sambungan ....hehehe. Setelah dipasang, alhamdulillah akhirnya airnya mengalir juga. So far pompa gak mati dan aliran ke toren juga lebih baik dari sebelumnya.
 

.: aer :.
www.aer-reborn.blogspot.com

Sabtu, 28 Desember 2013

Jalan-jalan Ke Anyer


Liburan kali ini benar-benar tidak direncanakan. Pagi itu tanggal 26 Des, aku sudah mandi bersiap untuk berangkat ke kantor. Baju seragam kerja pun sudah disetrika licin siap untuk dipakai. Tapi godaan istri dan anak-anak akhirnya meluluhkan semangat. Baiklah, aku ngambil cuti,  dan berlibur bersama anak-anak ....horeeee .....

Akhirnya semua bersiap-siap untuk berlibur - entah ke mana :D. Packing seadanya, sekedar bekal satu baju ganti in case baju yang dipakai kotor. Mobil disiapkan, dan kitapun berangkat. Saat keluar kompleks kita masih ragu mau pergi ke mana, kiri atau kanan. Akhirnya kita belok ke kanan, menandakan bahwa kita akan pergi lewat tol JORR, mungkin ke arah Bogor. Mampir sebentar ke Alfa Midi, beli cemilan dan ngambil uang di ATM, tiba-tiba terjadi perubahan rencana. Kita ke arah Barat saja, entah Anyer, Merak atau yang lain.

Wiiiii, mobil pun berputar arah, menuju ke arah Lippo. Kita lewat dalam kompleks Gading Serpong, karena perlu mengisi bensin dulu. Bensin diisi premium 150 ribu, kemudian kita masuk tol Jakarta - Merak, kali ini tumben-tumbennya ke arah Merak :D ... Di jalan kita cap-cip-cup dulu, apakah akan ke Merak terus lanjut nyebrang ke Lampung, atau ke Anyer, atau ke Carita. Akhirnya diputuskan kita ke Anyer. Dan perlu googling dulu untuk mengetahui bahwa untuk ke Anyer kita harus keluar di Cilegon Barat.

Bayar tol dua kali, yang pertama 2 ribu sampai Cikupa, kemudian 34,500 sampai Cilegon Barat. Di beberapa tempat masih ada pekerjaan pelebaran jalan. Tapi alhamdulillah jalanan gak macet, mungkin orang-orang belum mulai berlibur - one step ahead :p. Karena baru pertama kali menyetir
ke arah barat, terasa kurang nyaman, maklum jalan tolnya hanya dua jalur, terasa sempit banget dibanding jalan tol yang ke arah Bogor.

Keluar tol kita mengikuti petunjuk jalan ke Anyer belok kiri, kemudian belok kanan dan mengikuti jalan utama. Sempat agak ragu karena mau ke Anyer kok malah wisata pabrik, karena sepanjang kiri kanan jalan banyak pabrik yang besar-besar. Tapi melihat nama jalannya 'Anyer' dan di depan kita ada mobil pelat B, kita cukup confident.

Sekitar 20 km perjalanan, kita sampai di pasar, dan tiba-tiba mobil pelat B di depan kita belok kanan ke dalam gang sempit - cukup sekitar satu setengah mobil. Di depan gang ada gapura "Pelabuhan Anyer" dan lambang Dinas Perhubungan Laut. Langsung kita ikutan belok. Sampai di ujung jalan ada lapangan kecil, dan ternyata mobil di depan kita juga berhenti celingukan. Akhirnya kita tanya tukang bakso, dan ternyata tempat wisata Anyer masih di depan - jangan belok ke sini. Memang sih di balik lapangan sudah ada laut, tapi ini bukan tempat wisatanya.

Kita balik keluar dan mengikuti jalan utama, sampai akhirnya kita melihat di kanan ada tulisan "Tempat Wisata Anyer". Langsung kita masuk dengan biaya masuk 50,000. Ternyata di dalam tidak ramai. Ada beberapa saung, dan pantai karang dengan ombak mengalun. Kita main ombak sebentar. Tapi melihat fasilitasnya yang minim dan lingkungannya yang kotor, kok ada perasaan tertipu ya.

Akhirnya kembali kita keluar dan melanjutkan perjalanan. Kali ini aku BBM teman nanya tempat yang bagus di Anyer. Disebutkan Marbella dan Nuansa Bali. Tapi kita lanjut dulu, cari makanan. Di sebelah tempat makan kita beli celana selutut, karena kebetulan gak bawa bekal ganti celana.

Habis beli makan kita melanjutkan perjalanan. Kita coba mampir ke Marbella hotel, nanya ke resepsionis, ternyata biayanya 1,2 juta semalam. Hmmm .... agak sayang kalau cuman untuk jalan-jalan iseng. Kita putar balik, mau mampir ke Nuansa Bali, tapi kurang sreg dengan stylenya. Akhirnya kita putuskan menginap di Mambruk Hotel. Biayanya cuma 600 ribu, katanya sih discount 50 persen.

Hotel cukup besar, kita dapat dua lantai, di bawah ruang tamu agak besar dan di lantai atas kamar tidur dan kamar mandi. Lumayan lega untuk berlima. Tapi sayangnya furniture dan perlengkapannya terlihat sudah tua, kudu di-refurbish. Setelah makan bekal yang tadi dibeli di rumah makan, Afnan tidur ditemani ibunya. Aku, Hana dan Qonita keliling-keliling hotel. Lumayan ada playground, catur raksasa, kolam renang dan pantai yang berbatu-batu maupun yang berpasir dan boleh dipakai berenang.

Tapi kita belum puas. Agak sorean kita putuskan keluar mencari pantai pasir putih yang memanjang - inget di Gold Coast :D. Kebetulan sepanjang jalan ada baliho reklame pantai pasir putih, sekitar 4 km dari hotel. Akhirnya kita putuskan mampir ke sana. Lagi-lagi kita harus bayar 50 ribu. Begitu masuk lumayan banyak mobil yang parkir. Tapi kita lihat ke arah barat, kelihatannya sunset akan tertutup oleh pepohonan. Dan di area yang dipakai berenang, airnya terlihat keruh. Sepertinya pasirnya terbawa air. Jadi terkesan pasir di sini adalah pasir yang biasa ada di toko material, bukan pasir alami. Warnanya agak abu-abu tidak putih bersih, dan tidak jernih.

Akhirnya lagi-lagi ada perasaaan tertipu :(. Ternyata di Anyer semua tempat sudah dikapling ya, entah oleh hotel atau oleh swasta lokal. Tidak berlama-lama, kita kembali ke hotel. Sunset kita  habiskan dengan berfoto bersama di hotel. Setelah itu kita kembali ke kamar hotel dan beristirahat. Aku terpaksa tidur di sofa di ruang tamu, karena terdesak oleh Hana - tidur berlima ternyata sempit juga ya :D

Esok paginya aneh hotel di fogging sekitar jam setengah lima. Batal deh rencana menghirup udara pagi yang segar. Tapi jam enam kurang hawa fogging sudah hilang, jadi kita langsung ke pantai. Kita berenang-renang di laut - eh tepatnya berendam aja sih - sampai puas, kemudian mencoba berenang di kolam renangnya. Yah, semua happy.

Selesai berenang kita kembali ke kamar hotel, mandi dan kemudian sarapan pagi di restoran hotel. Jam 9.30 kita check out ke Jakarta. Ternyata perjalanan memakan waktu 2 jam dan menempuh total sekitar 100 km. Beruntung kita liburan duluan, jadi berangkat dan pulang gak kena macet. Sampai di rumah, sholat jumat dulu, makan siang, dan tiduuuur ....hehehe.

.: aer :.
http://aer-reborn.blogspot.com

Sabtu, 15 Juni 2013

Jalan-jalan: Liburan ke Singapura


Setelah sukses jalan-jalan naik pesawat sekeluarga ke Malang, kita merencanakan untuk berlibur sekeluarga ke luar negeri. Langkah pertama yang kita lakukan adalah membuat paspor anak, walaupun sempat tertunda beberapa kali. Pokoknya lumayan juga perjuangannya. Tapi ini langkah yang penting, karena setelah paspor jadi, baru kita mulai berani merencanakan liburan dengan lebih detil.

Seperti biasa, kita sounding ke semuanya (ke Nasri, Hana, Qonita), mana lokasi wisata yang diinginkan. Syarat utamanya yang gampang dijangkau, artinya yang tidak perlu visa. Setelah mengecek obyek wisata apa saja yang bisa dikunjungi, dan mempertimbangkan mengenai masalah makanan (nyari makanan halal), akhirnya kita putuskan untuk berlibur ke Singapura, yei. :D

Langkah kedua adalah memesan tiket - tentunya kita cari tiket konsesi yang gratisan. Sebenarnya pengurusan tiket lancar, apalagi yang ngurusin di TH juga temen, jadi relatif cepat. Tapi bikin kaget juga, karena saat akan issue tiket, ternyata ada biaya tax, dll, yang jumlahnya kalau dikali lima orang jadi di atas satu juta rupiah :(. Kirain kalau gratis, sama sekali gak keluar uang, ternyata gak juga ya. Waktu itu pengurusan tiket selesai di atas jam 2, padahal jam 2 saya ngundang meeting beberapa bos dan orang Boeing. Terpaksa berapologi untuk terlambat datang. Walaupun hanya terlambat 15 menit, gak enak juga karena seharusnya jadi host. :D

Setelah tiket beres, kita mulai mikir hotel tempat tinggal. Seperti sebelumnya, kita menggunakan situs agoda. Kebanyakan hotel agak strict tentang masalah anak (sesuai tulisan di internet, gak tau kenyataannya), maksimal cuma membolehkan tambahan satu anak. Akhirnya kita memilih triple room di V Hotel Lavender, disesuaikan dengan budget, dan memperhatikan adanya buntut 3 orang anak. Jadi kapasitasnya tiga orang, plus boleh tambah satu anak lagi. Sedang Afnan gak dihitung karena masih di bawah dua tahun. Lumayan juga, biaya hotel untuk dua malam sekitar 3,5 juta. Sebelumnya sempat berfikir juga untuk nyari hotel di Johor Baru, karena dengan biaya yang sama bisa diperoleh fasilitas yang lebih bagus. Tapi setelah memperhitungkan jauhnya, dan kerepotan yang mungkin muncul saat menyeberang perbatasan dengan bawaan koper dan tiga anak, kita putuskan tetap memilih V Lavender yang lokasinya cukup strategis.

Sebelum berangkat, kita googling dulu dan menemukan beberapa situs yang lumayan bermanfaaat, seperti:
1. Public Transport : kita bisa mengecek perkiraan biaya transport untuk rute stasiun yang diinginkan, misalnya dari Changi Airport ke Stasiun Lavender berapa biayanya. Jadi kita bisa memperhitungkan budget untuk transportasi di awal.
2. Travel Singapura : Banyak informasi bermanfaat untuk turis yang mau jalan-jalan ke Singapura. Misalnya gimana caranya ke Singapore Zoo, dst.
3. SMRT : Di situs ini kita bisa mengecek biaya transportasi dan juga waktu tempuh. Selain itu juga ada peta jalur MRT yang membantu. Saya pribadi lebih senang situs ini daripada situs Public Transport di atas.
4. Street Directory: Isinya tentang peta Singapura, jadi kalau ingin tahu di area yang dituju ada apa saja, bisa klik situs ini.
5. Wisata Singapura : Informasi tambahan tentang berwisata di Singapura.
6. Situs-situs resmi obyek wisata yang dituju, seperti Singapore Zoo, Sentosa Island.

Jadi persiapan sudah komplit, informasi yang diperlukan juga sudah dikumpulkan. O iya di V Hotel Lavender gak ada internet gratis (kalau mau konek harus bayar), jadi kita print aja informasi-informasi yang kira-kira akan diperlukan.

Gak sabar menunggu tanggal keberangkatan, anak-anak sudah packing duluan. Dan akhirnya tanggal 9 Mei pagi, hari Kamis kita berangkat juga. Ke bandara kita naik mobil, walaupun sempat kepikiran naik taxi, karena dulu ternyata parkir dihitung dua ribu per jam (kalo dikali seminggu lumayan kan :p). Kita ke Terminal 2 karena naik Garuda. Sampai di sana baru ngeh ternyata kalau menginap tidak boleh di parkir biasa, harus ke parkir inap, dan agak jauh dari terminal. Tapi kita memang sudah nge-plan naro mobil di GMF, jadi gak masalah.

Sampai di bandara, masih ada waktu sekitar dua jam. Sengaja kita datang lebih awal agar tidak terburu-buru. Terus langsung check-in biar bisa bersantai. Ternyata walaupun status tiket OK, kita masuk daftar tunggu karena peak season. Petugas check in bilang, untuk tiket konsesi prioritasnya dikebelakangkan (how come ?). Kita diminta menunggu hingga setengah jam sebelum keberangkatan siapa tahu masih ada tiket kosong. Tapi kata petugasnya, peluang untuk memberangkatkan lima orang bersamaan sangat tipis, karena sudah banyak yang masuk antrian. Sebel deh, sempat kepikiran batal aja deh. Tapi hotel sudah booking, bakalan rugi biaya hotel semalam kalau dicancel. Belum biaya tiket yang sudah dikeluarkan (katanya bisa di-refund sih), dan biaya immaterial yang bisa mencapai satu milyar - hehehe.

Akhirnya empat lima menit sebelum keberangkatan, kita check in ulang dengan petugas yang berbeda, sambil complaint berat. Kalau status tiket memang waiting list, seharusnya jangan ditulis OK, karena kalau tidak jadi berangkat kita akan rugi karena sudah booking hotel dan persiapan lain-lain. Gak mungkin kan jumlah tiket OK melebihi jumlah seat. Ternyata entah bagaimana caranya, karena kita complaint atau karena kasihan :D, kita bisa juga berangkat bareng, walaupun duduknya terpisah.

Di pesawat anak-anak gak dapat boneka, berbeda dengan waktu ke Malang (kenapa ya policy nya berbeda). Perjalanan lumayan lancar, dan setelah sampai Changi, anak-anak malah bermain perosotan dulu di Bandara - pokoknya enjoy aja. Kemudian saat lewat imigrasi, lagi-lagi pasporku gak lolos, harus dicek ulang di ruangan khusus. Ini ketiga kalinya di Changi aku mengalami hal yang sama, harus ganti pasport kali ya. Imigrasi dan bea cukai nya gak ribet, kita bawa bekal nasi + lauk bisa lewat tanpa masalah.

Kita jalan ke Terminal 2 pake travellator (mestinya naik Sky Train ya), kemudian beli Ezlink (ternyata lima dollarnya gak bisa dibalikin). Pokoknya kita bayangin untuk perjalanan nanti pake Ezlink paling gak ribet, biarin lima dollar nya hilang. Kemudian kita naik MRT transfer di Tanah Merah, dan akhirnya sampai di V Hotel Lavender. Kita mendapat kamar di lantai lima. Suasananya cukup ramai. Setelah istirahat sebentar, kita nyoba melihat kolam renang sebentar bersama Hana dan Qonita, lokasinya di lantai 4. Sayangnya ternyata tidak ada yang khusus untuk anak, semua kedalamannya kira-kira sedada orang dewasa.

Kemudian sorenya kita ke Merlion Park, cuma tiga stasiun dari hotel, turun di Raffles Place. Di Merlion Park kita cuma sekedar berfoto di depan patung singa, terus pulang lagi. Soalnya masih lumayan capek. Makan malam untuk hari pertama, kita masih cukup makan bekal yang dibawa dari Jakarta.

Hari kedua pagi-pagi kita beli makan di bawah hotel di Ananas Cafe, cuman dua dollar dapat nasi lemak - sangat murah :D, karena bayangan kita harga makanan sekitar lima dollar. Rencana kita hari ini adalah ke Singapore Zoo. Jadi sekitar jam delapan pagi kita berangkat. Naik MRT, kemudian transfer di City Hall dan turun di Ang Mo Kio. Kalau dari Googling sebelumnya, kita harus lanjut naik bis. Ternyata di stasiun ada 'calo' yang menawarkan tiket Singapura Zoo dengan harga yang sama (Sin $27 untuk dewasa dan Sin $17 untuk anak), namun gratis diantar naik mobil mirip Elf ke Singapore Zoo. Kita terima saja, daripada repot ke terminal (harus nyebrang jalan) dan nambah biaya untuk bis.

Di Singapura Zoo kita keliling-keliling. Karena capek, kita naik trem (sudah include di harga tiket). Tapi kalau naik trem, ternyata binatang yang kelihatan cuma sedikit. Akhirnya kita ulang lagi berputar dengan jalan kaki, capeekkk :D. Kalau dibanding-bandingin sebenarnya lebih menarik Secret Zoo di Malang, karena binatangnya kelihatan lebih lincah, dan jarak antar binatang berdekatan. Kalau di Singapore Zoo terlalu banyak pepohonan (mungkin binatangnya senang), tapi jarak antar binatang berjauhan sehingga capek jalan. Afnan paling tertarik waktu melihat badak dan jerapah. Sebenarnya kita ngincer gajah, tapi ada di pojokan yang agak jauh, dan waktu udah dekat dengan gajah, Afnan nya malah tidur :D.

Agak siangan karena laper kita mulai nyari makanan. Sebenarnya ada restoran Ah Meng yang jual nasi lemak, tapi karena pakai nama Cina, kita jadi ragu-ragu halal atau tidak. Akhirnya kita cuma makan burger di KFC yang memampang status halal MUI Singapura. Dari Singapura Zoo kita pulang naik bis ke Stasiun Ang Mo Kio dan mampir ke Orchard Road. Foto-foto sebentar, kita mampir ke Lucky Plaza dan makan lagi (soalnya yang di KFC tadi gak nendang :D). O iya, ternyata di Lucky Plaza ada mushola di lantai delapan (di atap gedung), walaupun kecil lumayanlah.

Hari ketiga kita ke Sentosa Island. Koper kita titipkan di hotel, karena kita checkout pagi (untung kita googling jadi tahu kalau koper bisa dititipin di hotel ini). Kemudian kita naik MRT, transfer di Outram Park dan turun di Harbour Front. Kita masuk mall Vivo City, dan sempat bingung. Ternyata karena kita ke Sentosa Island lewat Sentosa Boardway, cukup dari lantai satu tidak perlu naik ke lantai dua (untuk monorail/Sentosa Express). Lewat Sentosa Boardway kita ngeliat-ngeliat laut, lumayan jauh jalannya sekitar setengah kilo, tapi ada travellator. Kalau lewat Sentosa Boardway, biayanya Sin $1 per orang.

Di Sentosa Island kita foto-foto di depan Universal Studio (gak masuk :p--), jalan sambil ngeliat-ngeliat, dan berakhir di Pantai Siloso. Seneng juga anak-anak main di pantai, walaupun sebentar. Hebatnya Sentosa Island, ada mushola yang gak pake ngantri (yang sholat dikit, hehehe), disediain mukena, dan di petanya ditulisin mana tempat makan yang halal (walaupun sekarang kita bawa bekal - beli makanan di hotel, khawatir bingung lagi nyari makanan halal - soalnya 'ngeh'nya sama peta belakangan). Karena capek, pulangnya kita naik Sentosa Express dari Beach Station. Ternyata untuk arah pulang gratis gak pake bayar. Dan karena bawa Afnan (bayi) kita didahulukan naik kereta sama petugasnya. Superr deh.
 
Sampai kembali di Vivo City, jalan sedikit ke Stasiun Harbour Front, terus mampir sebentar ke hotel Lavender mengambil koper (saya aja yang keluar), langsung lanjut ke Changi. Sampai di Changi, Ezlink kita tukerin, sambil kita sisain satu untuk kalau kapan-kapan ke Singapura lagi, terus kita naik Sky Train ke Terminal 3 (note: kapan-kapan kalau banyak waktu perlu explore, kayaknya di Changi banyak place of interest juga untuk anak-anak). Di Changi waktu boarding ternyata Afnan gak diduluin sama petugasnya :(, walaupun bayi. Mungkin kita kelewat waktu denger panggilan untuk penumpang yang membawa bayi, yang jelas kita gak boleh lewat jalur penumpang Gold/business class.

Kita naik PK-GFM (livery Garuda yang lama), kebetulan registrasinya kelihatan karena ternyata di Soekarno Hatta saat landing gak pake garbarata (tumben banget). Pulang, ngambil mobil dulu di GMF kemudian jemput di bagian arrival. Agak crowded juga karena harus masuk parkir dan agak macet, apalagi cuacanya hujan. Belakangan baru tahu kalau driver GMF biasanya menjemput tamu di bagian departure (janjian dulu), karena tidak crowded. Jadi kapan-kapan kalau njemput keluarga datang, mending disuruh ke bagian departure - biar gak kena antri.

.:aer:.
http://www.aer-reborn.blogspot.com

Sabtu, 27 April 2013

Bikin Paspor Anak


Iseng-iseng, mumpung lagi ngetrend :D, kita ikutan bikin paspor untuk anak. Berbekal informasi dari teman, kita mencoba membuat paspor anak secara online lewat situs http://ipass.imigrasi.go.id:8080.  
Jadi kita mulai dari menu "Pra Permohonan Personal". Untuk No Identitas, kita isi NIK anak seperti yang tertulis di Kartu Keluarga. Kemudian kita attach dokumen Kartu Keluarga, KTP Orang tua dan Akte Kelahiran anak. Terus, tanda terima pra permohonan kita print untuk dibawa ke Kantor Imigrasi. Waktu itu kita memilih membuat paspor di Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta karena dekat kantor. Tanggal yang dipilih 14 Maret 2013 sesuai keluangan waktu.

Tepat pada hari H nya, kita sekeluarga berangkat ke kantor imigrasi. Karena rombongan tiga anak, termasuk bayi - sehingga repot persiapannya, akhirnya kita baru sampai kantor imigrasi hampir jam 8. Parkiran udah lumayan penuh, tapi kita masih bisa nyempil. Begitu masuk ke ruang tunggu ternyata sudah penuh, dan ada tulisan untuk pendaftar online dijatah 50 orang, dan pendaftar non online juga dijatah 50 orang. Setelah ditanyakan ke petugas, ternyata jatahnya sudah habis, terpaksa deh balik kanan, pulang lagi.

Gak mau putus asa, kita ulang pendaftaran online. Kali ini kita mendaftar untuk tanggal 12 April 2013, dan untuk kantor imigrasinya kita pilih Kantor Imigrasi Tangerang, dengan harapan tidak terlalu ramai. Dengan persiapan yang lebih baik, kita berhasil sampai di sana jam 7 pagi. Belum terlalu ramai, tapi kantornya baru buka jam 7.30, jadi kita menunggu dulu. Setelah kantor buka, kita diarahkan untuk membeli formulir di koperasi dan mengisinya dengan materai 6000 rupiah per satu paspor. Formulir yang diisi khusus untuk pembuatan paspor anak (di bawah 17 tahun).

Dokumen yang diperlukan juga kita fotocopy di koperasi. Sebenarnya kita sudah mempersiapkan foto copynya, namun hanya satu lembar, padahal kita akan membuat tiga paspor untuk Hana, Qonita dan Afnan.

Kalau di pengumuman, dokumen yang diperlukan untuk pembuatan paspor anak adalah Akte lahir, KTP orang tua, Kartu keluarga, STTB/Ijazah atau akte lahir orang tua, Surat nikah orang tua dan foto copy paspor orang tua yang masih berlaku. Waktu itu kita tidak membawa STTB/ijazah dan akte lahir orang tua, namun saat ditanyakan ke petugas ternyata tidak masalah.

Sekitar jam 8 formulir yang telah diisi lengkap kita kumpulkan, dan 30 menit kemudian kita dipanggil untuk mendapatkan nomor antrian. Sekitar jam 9, nomor kita dipanggil ke loket untuk penyerahan berkas. Saat itu petugas yang menerima menyampaikan bahwa foto bisa dilakukan besoknya. Duh sia-sia deh cuti sehari. Setelah sedikit berargumen, petugas menyampaikan memang begitu prosedurnya, kecuali kalau pendaftaran online baru bisa foto hari yang sama.

Langsung kita sambar, dengan menyampaikan bahwa kita mendaftar secara online. Tapi baru ngeh, waktu submit dokumen ternyata kita lupa melampirkan tanda terima pra pendafatran yang didapat waktu mendaftar online. Duh terpaksa kita submit ulang dokumennya - karena jalur antrian pendaftar online dan non online berbeda. Untungnya untuk pendaftaran online kita langsung mendapat nomor antrian, dan untungnya lagi pendaftarnya tidak sepadat di bandara. Kalau di kantor imigrasi bandara udah wasalam deh, kalau baru submit jam 9.

Menjelang jam 10, nomor kita dipanggil dan menyerahkan dokumen. Petugas menyatakan bahwa biasanya nomor antrian pembayaran keluar siang, namun karena khusus siang ini mereka ada acara keluar, nomor antrian keluar 30 menit lagi. Jam 10.30 nomor antrian Qonita dan Afnan keluar, namun nomor antrian Hana belum keluar juga. Setelah kita tanya ke beberapa petugas, akhirnya nomor antrian Hana keluar juga jam 10.45, entah tadi nyangkut di mana, terpaut sekitar 10 nomor antrian dengan Qonita/Afnan. O iya kita harus menggunakan bar code ke sebuah mesin pemindai untuk mendapatkan nomor antrian setiap proses, mulai pembayaran, pemotretan, sampai pengambilan paspor yang sudah jadi.

Kita agak gugup dan pingin buru-buru karena mengira siang ini kantor imigrasi tutup, keluar semua, sehingga khawatir proses foto tidak selesai - alamat harus cuti lagi. Alhamdulillah belakangan ternyata kita ketahui siang itu proses foto tetap berjalan.

Jam 11 Qonita dan Afnan dipanggil untuk pembayaran paspor. Dua ratus ribu untuk paspor 48 halaman dan 55 ribu untuk proses foto dan sidik jari. Tadinya kita berniat bikin paspor yang 24 halaman saja, karena toh sepertinya paspor ini tidak akan sering dipakai. Tapi ternyata sekarang paspor 24 halaman (harganya cuma 50 ribu) hanya untuk TKI, begitu informasi yang kami dengar.
Kurang lebih jam 11.30, baru Hana dipanggil untuk melakukan pembayaran. Setelah itu kantor imigrasi tutup untuk istirahat. Saya sholat Jumat, makan, dan menunggu kantor buka lagi. Alhamdulillah anak-anak gak rewel. Kita sempat membawa bola sehingga Afnan cukup mendapat asupan mainan :D

Siangnya kantor imigrasi buka jam 13.30 dan karena masih banyak yang harus foto, akhirnya petugas berinisiatif membuat tempat foto tambahan di lantai dua. Hana kebagian difoto di lantai dua ditemani ayahnya, sedang Afnan dan Qonita difoto di lantai satu bersama dengan ibunya. Akhirnya sekitar jam 3 sore perjuangan selesai dan paspor dijanjikan jadi dalam waktu tiga hari.

Begitu keluar kantor imigrasi, datang telfon dari bos, komplain kok susah ditelfon. Baru ngeh, ternyata di dalam kantor imigrasi Tangerang, sinyal Telkomsel tidak bisa ditangkap. Sedang BB yang menggunakan 3 ternyata aman-aman saja.

Hari Selasanya, tanggal 16 April, jam 12.30 siang saya sudah berada di kantor imigrasi. Namun ternyata mesin pengambil nomor antrian baru berfungsi jam 13.00, jadi terpaksa menunggu sebentar. Setelah mendapat nomor antrian, kira-kira setengah jam kemudian kita dipanggil dan selesailah proses pembuatan paspor. O iya petugas meminta kita meng-copy paspor tersebut dan menyerahkan foto copynya.

Alhamdulillah kelar juga, sekarang tinggal berfikir, kira-kira mau jalan-jalan ke mana ya :D

.: aer :.
www.aer-reborn.blogspot.com

Jumat, 08 Februari 2013

How Lucky We Are in Engineering Service

Sekedar untuk record, berikut kira-kira transcript sharing session waktu Kick off TE 2013 di kantor. Hihihi, iseng banget ya pake dicatet .....

Mungkin banyak yang heran, mengapa saya berbicara di sini - bahkan saya sendiri juga heran. Motivator ulung bukan, pakar SDM bukan, orang sukses juga bukan. Kenapa bukan Mario Teguh, atau Ari Ginanjar, Tung Desem, atau tokoh besar lainnya. Namun jika kita mengambil sisi positif, karena yang berbicara adalah orang biasa, maka kita menjadi tidak berjarak. Dan apa yang disampaikan menjadi sesuatu yang terjangkau untuk dilakukan.

Sebagai contoh jika kita mendengar cerita bahwa Nabi Muhammad selalu sholat malam hingga kakinya bengkak. Mungkin kita akan mengatakan hebat, namun kemudian kita membatin bahwa dia kan Nabi, memang orang hebat, sedang kita orang biasa. Akibatnya bisa jadi kita tidak tergerak untuk menirunya karena terlalu jauh. Bandingkan jika kita mendengar cerita, rekan kita yang selalu rutin sholat malam walaupun capek habis kerja lembur - pulang malam. Wah yang terbayang mungkin, beliau saja bisa, mestinya kita juga bisa. Tidak ada jarak. Atau kalau kita dengar Ical (Aburizal Bakrie) membeli mobil Ferrari, mungkin kita merasa biasa aja, paling cuman bergumam, wajar Ical kan konglomerat. Nah kalau tiba-tiba tetangga sebelah, atau seorang engineer muda membeli Ertiga, mungkin kita langsung 'spark', dia saja bisa, mestinya kita juga bisa.
Jadi di sini kita coba melakukan pembicaraan yang mungkin ecek-ecek, namun mudah-mudahan terjangkau untuk kita ambil pelajaran darinya. Tentu cerita tentang tokoh-tokoh hebat juga perlu untuk mengeset tujuan idealnya, tapi biarlah panitia mengalokasikan hal itu di waktu dan kesempatan yang lain.

Ada tiga hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini, tanpa perlu berpanjang lebar.
YANG PERTAMA, KITA BERUNTUNG KARENA PEKERJAAN DI ENGINEERING (TE) MULTI TASKING. Dengan demikian kita dapat mencari tugas yang dapat membakar motivasi kita, tugas yang inspiring dan memberikan passion. Bayangkan jika setiap hari pekerjaan anda sama, tentu akan terasa monoton dan membosankan. Sedang di TE, saat bosan dengan pekerjaan membuat EO, tiba-tiba terdengar ada pesawat tertabrak truk lavatory, kita bisa jalan-jalan ke apron. Capek panas-panasan di apron, kita bisa kembali ngupi di ruangan sambil menyiapkan perhitungan weight report untuk salah satu customer. Kalau kemudian masih ada sisa tenaga, silakan putar otak untuk memikirkan proyek DOA. Sangat variatif.

Intinya, dalam bekerja cari apa yang bisa memberikan passion, maka kita akan bekerja dengan performa terbaik. Dan di TE kesempatan untuk mendapatkan passion tersebut cukup besar karena bervariatifnya pekerjaan yang diberikan. Memang bukan berarti kita pilih-pilih pekerjaan. Namun tidak ada salahnya kita diskusi dengan coach untuk membalancing pekerjaan kita. Bisa saja kita bilang, coach kalau disuruh ngerjain EO, saya sebulan belum tentu kelar, tapi kalau disuruh mengerjakan proyek DOA, saya jamin dalam dua hari semua selesai lengkap dengan SA, SB dan ICA nya. Untuk case seperti ini, bisa saja kemudian kita adjust workload pekerjaannya, misal EO : DOA = 1 : 3 :D - tergantung kebijaksanaan coachnya.

Terkait pilih-pilih pekerjaan, balancing; saya mengibaratkan pekerjaan dengan makanan, di mana ada makanan yang cepat basi, ada makanan yang bergizi dan ada makanan yang enak dan mudah disantap. Makanan yang cepat basi saya maksudkan dengan pekerjaan yang deadline nya ketat, dan ini harus disegerakan untuk dikerjakan - suka atau tidak. Makanan bergizi adalah pekerjaan yang nilai tambahnya besar, misal yang memiliki bobot tinggi dalam IPP atau yang banyak disorot atasan, ini juga perlu diperhatikan. Makanan yang enak dan mudah disantap adalah pekerjaan yang sesuai dengan passion kita, sehingga kita mudah melahapnya. Ini kita kerjakan di waktu-waktu yang berat untuk dapat ignite dan men-charge kembali semangat kita. Idealnya makanan yang enak itu juga bergizi tinggi dan tidak cepat basi. Namun di dunia ini memang tidak ada yang ideal, jadi silakan memilih.

Jadi temukan passion anda. Ada orang yang rela ngulik program semaleman karena memang passionnya melakukan coding. Begitu dia berhasil menemukan kesalahan algoritma programnya, wuih rasanya puas banget. Jadi apa passion anda ? Jika setelah sekian lama bekerja di GMF, anda tetap belum mendapatkan passion, coba cari sekali lagi :D, kalau ternyata masih susah juga, cari lagi deh :D, kalau masih gak dapet juga, mungkin anda bisa propose suatu proyek di TE yang sesuai dengan passion anda, kemudian anda lead proyek tersebut.

YANG KEDUA, KITA BERUNTUNG BANYAK MASALAH DIKIRIM KE TE UNTUK DISELESAIKAN. Masalah, sebenarnya adalah panggung yang disiapkan bagi kita untuk tampil ke depan. Semakin besar masalah yang kita hadapi, semakin besar peluang kita untuk muncul. Sebagai contoh di GMF, kalau masalahnya ringan, paling kita hanya cc level Manajer atau PM. Begitu masalahnya agak berat, GM mulai di-cc. Tambah berat lagi masalahnya, yang di-cc pun makin tinggi levelnya, hingga ke VP, naik lagi ke DL, DT dan DE. Bayangkan seorang seniman yang tentunya mengharap-harap datangnya kesempatan tampil di atas pentas. Begitulah kita mensikapi datangnya masalah, ketimbang merutukinya.

Dengan mendapatkan masalah, kesempatan tampil sudah datang, tinggal bagaimana kita memainkannya. Di sini bagusnya kita dan jeleknya kita akan lebih cepat dilihat orang. Jadi ada baiknya, sebelum kesempatan tampil itu muncul, kita sudah mempersiapkan diri dengan baik. Dari sisi kompetensi kita perbanyak membaca dan memahami referensi, kita perbanyak pengalaman di lapangan, kita perbanyak jaringan pertemanan kita. Pokoknya saat bekerja maupun saat tidak bekerja, harus terus memberi nilai tambah bagi diri kita untuk menghadapi pekerjaan berikutnya.

Dan sebenarnya setiap masalah selalu memiliki solusi, hanya terkadang kita belum mengetahuinya. Saat di depan kita ada tembok dan kita disuruh melewatinya, mungkin kita langsung menyerah dan menyatakan tidak mungkin. Orang yang sedikit cerdas akan menjawab saya mencoba melompatinya namun terlalu tinggi. Orang yang lebih cerdas mengatakan saya sudah membawa tangga, namun tembok itu tingginya 10 meter dan tangganya kurang panjang. Saat dijawab pinjam saja buldozer dan hancurkan temboknya, mereka mungkin menjawab, oh boleh dirusak toh temboknya, saya kira tidak boleh. Artinya pikiran mereka telah membatasi solusi apa saja yang boleh dilakukan, tidak berani berfikir out of the box. Mirip dengan jangkrik yang disimpan dalam kotak, begitu kotaknya dibuka jangkrik itu tetap hanya mampu melompat setinggi kotak. Karena fikirannya terbiasa terkungkung, dia tidak mampu berfikir lebih lepas.

Dalam konteks di GMF, misalnya ada tawaran modifikasi untuk pesawat registrasi FAA. Mungkin kita langsung menjawab, gak mungkin soalnya DOA kita hanya approve DKUPPU. Tapi kalau mau mengambil jalan memutar, bisa jadi pekerjaan tersebut bisa kita lakukan dengan bekerja sama dengan DER. Hanya sekedar contoh bahwa ada banyak jalan ke Roma dan perlunya kita memperluas cakrawala dan wawasan.

YANG KETIGA, KITA BERUNTUNG KARENA KITA MASIH BARU DI TE. Ada yang baru masuk TE, ada yang baru diangkat jadi pegawai tetap di TE, ada yang baru menjadi manajer di TE, dst. Dalam salah satu rubrik pengembangan diri, disebutkan ada yang namanya beginner's luck, yaitu orang masih besar toleransinya terhadap performa pendatang baru. Jika melakukan kesalahan, masih dimaklumi. Tentu jika performanya bagus akan menjadi kredit tersendiri. Namun demikian bukan berarti kita boleh berbuat salah terus dan mendapatkan excuse, tetapi kita jadi berani berbuat salah. Atau kalau kita penggal, kita jadi berani berbuat.

Keberanian berbuat adalah salah satu point penting untuk kemajuan, walaupun mungkin sesekali salah, asal kemudian belajar dan tidak diulangi. Saya ingat pertama kali membuat EIS, pertama kali melakukan damage assessment ke apron, boleh dibilang lama dan tidak efisien. Tapi itulah ongkos dari sebuah pembelajaran. Makin cepat kita berbuat kesalahan, makin cepat kita belajar untuk melakukan sesuatu dengan benar.

Minggu, 08 Juli 2012

Jalan-jalan: Liburan ke Batu, Malang

Liburan kali ini kita berencana memanfaatkan tiket gratis Garuda. Lumayan juga, karena selama ini kita belum pernah pergi sekeluarga naik pesawat. Beberapa minggu sebelum liburan kita memilih beberapa kandidat tujuan, yaitu Malang, Bukit Tinggi dan Lombok. Kita coba googling, tempat wisata apa saja yang ada di sana. Setelah ketemu apa saja yang bisa dikunjungi di sana, dilakukanlah voting. Dan ternyata terpilihlah Malang sebagai tujuan wisata kali ini.

Setelah tujuannya sudah jelas, aku mulai booking tiket. Lumayan gak smooth (harus dua kali booking), tapi akhirnya berhasil juga dapat tiket konsesi. Setiap satu tiket harus membayar tax Rp.10,000 (termasuk Afnan). Sebelum tiket pesawat confirm, kita juga booking hotel lewat web Agoda. Awalnya kita berencana menginap di UMM Inn. Tapi walaupun di Agoda sudah confirmed, saat menelfon langsung hotelnya, ternyata katanya kamar sudah penuh. Akhirnya kita booking hotel Kartika Wijaya, bayarnya Rp. 1.750.000 untuk dua malam.

Tanggal 30 Juni, Sabtu pagi kita berangkat ke bandara. Setelah memarkir mobil dan check-in, kita menunggu sebentar untuk kemudian boarding pesawat PK-GHX (B737-300), jam 11.20. O, iya di bandara Soekarno-Hatta, biaya tax nya Rp.40.000 setiap orang, jadi total Rp.160.000 tidak termasuk Afnan. Kita harus naik bis dulu sebelum sampai ke pesawat. Di pesawat, ayahnya sempat deg-degan, takut anak-anak rewel atau ngerepotin. Ternyata semua ceria selalu. :D - walaupun Hana agak khawatir - permennya gak dimakan-makan karena nungguin pesawat take off. Soalnya ayah ngingetin kalau waktu take off, kuping sakit, makan aja permennya.

Di pesawat, anak-anak dapat boneka monkey - tambah senang deh naik pesawat, sedangkan bayi dapat perlengkapan bayi (pampers, tissue basah, bedak, dll), dan karena perjalanan cuma 90 menit, kita cuma mendapat roti, tidak mendapat makan nasi. Qonita duduk dekat jendela dan meja makannya agak rusak sehingga sering terbuka sendiri - untung gak niban kepala.

Sampai di Bandara Abdul Rachman Saleh (Malang), kita naik taksi menuju hotel. Taksi di Bandara tersebut cukup teratur - gak secrowded di Bandara Soekarno-Hatta, walaupun penyebabnya karena di-'monopoli' koperasi TNI AU.

 Perjalanan ke hotel sekitar 90 menit, jadi kita sampai di hotel sekitar jam 3 sore. Tapi perjalanan terasa panjang, apalagi taksinya lewat jalan tikus, jadi kerasanya kok jalanan di Malang kecil-kecil. Ternyata taksinya sengaja menghindari macet. Sampai di hotel, kita check-in, terus berasa sedikit aneh, kok gak dianter/dibawain barangnya, waktu masuk kamar. Ah mungkin waktu itu pegawainya lagi pada sibuk.

Sampai di kamar, kita makan siang bekal yang dibawa, kemudian istirahat sebentar. Setelah sholat Ashar, kita beramai-ramai ke kolam renang. Tapi karena sudah sore, hawanya terlalu dingin, sehingga kita gak kuat berlama-lama di dalam kolam renang. Akhirnya balik ke kamar, mandi dan makan malam di hotel - menunya nasi goreng Kartika, artinya banyak lauknya. O, iya air panas di kamar mandi terkadang habis sehingga kita harus komplain ke resepsionis. Menurut resepsionis penyebabnya karena ada heater yang rusak di gedung baru dan penghuni yang penuh, sehingga harus 'berebut' air panas.

Besok paginya, kita jalan-jalan ke Jatim Park 1. Kita berangkat naik taksi, bayarnya Rp. 30.000, paling 10-15 menit dari hotel. Sampai di sana, kita memilih tiket terusan Jatim Park 1 dan Jatim Park 2 (Batu Secret Zoo dan Museum Satwa), harganya Rp. 120.000 per orang, lebih murah dibanding beli tiket satuan Jatim Park 1 dan Jatim Park 2.

Di Jatim Park 1 kita mengikuti track yang disediakan, mulai dari pelajaran, seperti Ethnic Gallery, Science Centre dan History Park, kemudian masuk ke wahana permainan anak-anak, seperti Mini Jet, Sky Copter, Midi Skater, Convoy Car. Di area ini tidak terlalu banyak antrean, sehingga anak-anak bisa mencoba banyak permainan. Kemudian kita masuk ke area permainan yang lebih serius - tapi karena ibunya dan Afnan gak mungkin ikut, Hana & Qonita juga gak bakalan, dan ayahnya juga gak terlalu pingin, apalagi lumayan ngantri, gak ada permainan serius yang dicoba :D. Akhirnya kita cuman nyempetin masuk Ghost Mansion, yang ketakutan cuma Hana dan Qonita. Waktu mau nyoba Bioskop 3D, ternyata antrean terlalu panjang sehingga kita batalkan, takut gak sempat ke Jatim Park 2. Kita juga gak jadi makan di Jatim Park 1, karena tempat makannya penuh sehingga gak kebagian meja.

Siangnya kita menuju Jatim Park 2, naik kereta gratis. Tapi karena gak ada jadwalnya, kita harus menunggu lebih dari setengah jam sebelum kereta berangkat. Di Jatim Park 2, kita mengunjungi Batu Secret Zoo. Sebenarnya Batu Secret Zoo cuman kebun binatang, tapi binatangnya cukup beragam, dan penataannya lebih menarik dibanding kebun binatang kebanyakan, seperti Ragunan. Selain itu ada banyak pengetahuan tentang binatang ditempel. Sayang hari sudah siang, sehingga kita agak terburu-buru. Kemudian kita makan siang di area Fantasy Land. Sebenarnya rame juga, tapi karena gak ada pilihan lain dan hari sudah bener-bener siang, kita paksakan makan di sana. Di Batu Secret Zoo ada banyak wahan permainan juga dan juga ada kolam renang seperti di Jatim Park 1. Tapi gak ada yang kita coba karena takut kesorean.

Dari Batu Secret Zoo, kita menuju Museum Satwa, isinya diorama binatang-binatang. Cukup bagus diorama yang ditampilkan, walaupun kita cuma sekilas saja mengunjungi museum itu. Setelah difikir-fikir, kelihatannya ada banyak irisan antara Batu Secret Zoo dengan Jatim Park 1, yaitu banyak wahana permainan dan kolam renang. Jadi rekomendasi kita, kalau cuma sehari, lebih baik mengunjungi Batu Secret Zoo + Museum Satwa, jadi kita dapat kebun binatang + wahana permainan + kolam renang. Kalau Jatim Park 1 isinya etnik+science+sejarah plus wahana permainan dan kolam renang. Kalau mencoba mengunjungi dua tempat dalam satu hari, jadi agak terburu-buru.

Kita pulang saat magrib, dan jalanan di depan Jatim Park 1 benar-benar macet. Ada satu taksi sempat kita pesan, saat kita ketemu taksinya, dia menolak karena tujuan kita ke Batu bukan ke Malang. Akhirnya terpaksa naik ojek ke hotel, dua ojek bayarnya Rp. 40.000 (lebih mahal daripada taksi :D). Ternyata benar, transportasi menjadi salah satu masalah. Kalau charter mobil, kita merasa sayang karena hanya berkunjung ke dua tempat. Next time, kalau kita berniat wisata alam di Batu/Malang, mungkin lebih baik charter mobil untuk keliling-keliling.

Hari ketiga, paginya kita hanya menghabiskan waktu di hotel. Sebenarnya pemandangan di hotel cukup bagus, dengan latar belakang Gunung Arjuno. Di hari ketiga ini, anak-anak bermain outbond mini yang disediakan di hotel.

Setelah puas bermain, jam sepuluh kita check out dari hotel dan menuju bandara. Kita pulang naik mobil charteran walaupun lebih mahal (Rp. 175.000), dengan pertimbangan lebih nyaman kalau berniat mampir-mampir. Tapi paling kita cuma mampir ke bank, tempat beli oleh-oleh, dan tempat beli makan siang. Pulang ke bandara kita lewat rute jalan besar, bukan jalan tikus lagi, sehingga melewati UMM, Unisma, Univ Brawijaya, Poltek Malang. Ternyata kampus di Malang berada pada satu area ya.

Di Bandara Abdur Rachman Saleh, kita check in dan menunggu sebentar, pesawat terbang jam 13.35. Di bandara ini, airport tax cuma Rp. 11.000. Tidak berbeda dengan waktu berangkat, kita naik PK-GHX lagi, namun kali ini kita di baris ke-12 (waktu berangkat di baris ke-10). Dan waktu penerbangan pulang ini, Hana sempat mencoba pipis di toilet pesawat. Berarti udah betah ya. Tapi ada yang sedikit mengganggu, ternyata Garuda tidak standar ya. Waktu berangkat, Afnan dapat perlengkapan bayi, tetapi waktu pulang tidak. Sedang Hana dan Qonita tetap mendapat permainan, tapi kali ini mereka memilih puzzle dan mobil-mobilan, biar sedikit berbeda.

Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, kita mengambil bagasi dan pulang. Ternyata parkir 2 malam di bandara cukup mahal ya, sekitar Rp. 120 ribuan, pokoknya dua ribu per jam. Next time kalau ada rencana bepergian cukup lama, perlu dipertimbangkan menggunakan taksi daripada menginapkan mobil di bandara. Alternatif lain, taro mobil di kantor, jadi waktu pulang aku naik ojek dulu ke kantor untuk ngambil mobil, baru kemudian yang lain naik mobil.

Sekian :D:D:D

Note: Tentang Hotel Kartika, nilai plusnya ada fasilitas bermain outbond, kolam renang, pemandangan yang bagus. Sedang nilai minusnya saat datang tidak ada yang mengantar ke kamar, heaternya sedang bermasalah sehingga terkadang harus menunggu 15 menit dulu agar airnya kembali panas, ada majalah misionaris di kamar.

.: aer :.