Rabu, 05 Juli 2017

Jalan-jalan: Liburan ke Kuala Lumpur

Petronas Twin Towers
Tahun ini kembali kita merencananakan liburan bersama, menyambut kakak yang pulang dari pesantren. :D  Setelah berdikusi, akhirnya kita putuskan liburan ke Malaysia, dengan pertimbangan kemudahan pengurusan karena tanpa visa dan kemudahan mencari makanan di sana - karena asumsinya banyak yang halal seperti di Indonesia. Sebenarnya ayahnya tidak terlalu excited karena membayangkan Malaysia tidak jauh berbeza dengan Indonesia, tapi gak masalah karena inti dari liburan adalah kebersamaan dengan keluarga.

Persiapan dilakukan dengan mode 'padat merayap'. Karena bulan puasa dan ayahnya selalu masuk
View dari balkon apartemen
kerja, akhirnya tidak dilakukan persiapan secara detail hingga ke lokasi yang dituju, biayanya, rute transportasinya dan rencana perjalanan dari jam ke jam. Ibunya hanya meng-kolek lokasi-lokasi yang kemungkinan akan dituju di hari pertama hingga hari terakhir, dan nantinya menyerahkan ke sikon saat liburan. Oke deh, kita nikmati saja waktunya, tidak usah menggunakan jadwal ketat seperti saat liburan di Jepang dulu. Kelemahannya mungkin nanti ada waktu yang tidak termanfaatkan dengan baik atau biaya yang tidak efisien.

Di dalam KLIA Express
Packing-packing dilakukan oleh ibu dan anak-anak beberapa hari sebelum keberangkatan. Penukaran Ringgit Malaysia dilakukan malam sebelum keberangkatan - kebetulan di seberang Summarecon Mal Serpong ada penukaran uang yang buka 24 jam. Check in juga dilakukan secara online supaya duduknya tidak terpisah. Dan akhirnya kita berangkat ke bandara besok paginya menggunakan grab. Penerbangan yang kita gunakan GA820, berangkat jam 08.35 dari Terminal 3 (first time departure from Terminal 3 :D). O iya, untuk jasa akomodasi, lagi-lagi kita menggunakan airbnb. Kemarin kita dapat apartemen dengan biaya harian 'hanya' USD 34 (plus one time biaya kebersihan), fasilitas lengkap (kompor, microwave, wifi, kecuali mesin cuci hanya ada yang berbayar), lokasi dekat dengan public of interest (jalan kaki hanya sepuluh menit ke KLCC) dan pemandangan balkon yang indah.

Kita tiba di Kuala Lumpur jam 11.50. Urusan imigrasi dan bea cukai di KLIA cukup santai. Kita
Awana SkyWay
melewati loket imigrasi "ASEAN Lane" kemudian bea cukai dilalui tanpa melewati X-Ray dan tanpa mengisi lembaran 'custom declaration' yang biasanya diisi kalau pergi ke negara lain. Antrian panjang hanya terjadi di loket imigrasinya, macam ramai pelancong nak persiar. Selesai semua urusan administrasi, mulailah kita agak bingung masalah transportasi :D. Rencana awal pakai Grab, tapi koneksi internetnya agak susah karena sinyal wifi bandara jelek. Ya sudah kita putuskan naik KLIA Express saja ke KL Sentral. Biaya tiket untuk dewasa RM55 dan untuk anak-anak RM25. Hana sudah terhitung dewasa karena di atas 12 tahun. Belakangan kita 'ngeh' pilihan ini ternyata mahal, repot (harus transit), dan lelah karena harus jalan dari stasiun terakhir ke apartemen. Tapi sebagaipelipur lara, kita anggap saja sebagai wisata naik KLIA Express. :D

Kedinginan di Snow World
Di KL Sentral kita sempatkan mampir membeli tiket bis ke Genting Highland (pp) karena besok kita berencana pagi-pagi ke Genting Highland. Sebenarnya kita berencana langsung membeli tiket gondola Awana Skyway, tapi ternyata tidak dijual di KL Sentral. Biaya tiket bis berlima RM38.6 (dewasa RM4.3, anak RM3.2 sekali jalan).  Lokasi counter yang jual tiket ke Genting ada di ujung belakang KL Sentral di lantai basement. Lepas tuh, kita beli tiket LRT ke Stasiun Dang Wangi. Dan dari stasiun Dang Wangi kita harus jalan ke apartemmen. Sebenarnya di Google Map ditulis jaraknyacuma 650 meter, namun karena harus menggeret koper, jadi lumayan berasa juga.


Snow World
Sampai apartemen sekitar jam 2 an kita leyeh-leyeh sebentar, dan dilanjut dengan jalan-jalan sore ke KLCC. Nah kalau rute ini di Google Map ditulis 1,1 km, tapi kita niatkan sebagai jalan-jalan menikmati suasana Kuala Lumpur. Setelah puas berpose-pose di sekitar jalan Ampang, kita menikmati makan siang setengah sore di restoran NZ dengan menu nasi goreng kambing. Sebenarnya tidak ada tulisan halal, tapi karena di restoran tersebut banyak kaligrafi, bismillah saja, insya Allah halal. Setelah makan, kita tengok sebentar area Suria KLCC, dan karena sudah sore - beberapa area yang sempat menjadi opsi untuk dikunjungi sudah tutup - kita putuskan pulang ke apartemen.

Pulangnya kita sempat menunggu free bus service di halte, namun anehnya tidak berhenti. Mungkin supir bis tidak melihat kita yang sedang duduk-duduk di halte. Akhirnya kita pulang jalan kaki, dan sekedar mampir membeli makan malam di Restoran Nasi Kandar Pelita.

Box telephone, Snow World
Hari kedua kita sudah membeli tiket (kemarin) untuk berangkat naik bus ke Genting Highland jam 8. Karena di sini Subuh jam 6 kurang sedikit, tidak banyak waktu berleha-leha di pagi hari. Untuk kali ini kita memutuskan naik Grab ke KL Sentral. Kebetulan di apartemen disediakan wifi gratis. Tetapi untuk memudahkan mencari informasi, akhirnya Nasri memutuskan membeli paket data seharga RM8.

Kita sampai di KL Sentral sekitar jam 7.40 dan segera menuju tempat pemberhentian bus menuju Genting Highland. Petugas bis cukup strict melarang makan di dalam bus karena khawatir ada yang mual karena bau makanan. Alhasil Afnan belum berhasil menyelesaikan sarapannya. Perjalanan bus sekitar satu jam, dengan pemberhentian terakhir di Awana Station. Dari situ kita naik Awana SkyWay dengan biaya RM8 per orang sekali jalan. Kita membeli tiket round trip dan karena masih pagi, langsung bisa naik tanpa ada antrian panjang.

Latar belakang Chin Swee Temple
Awana SkyWay, walaupun sebenarnya adalah sarana transportasi alternatif (di luar mobil) menuju puncak Genting Highland,merupakan salah satu tujuan wisata kita ke Genting Highland. Rutenya cukup jauh, sekitar 10 menit, dengan pemandangan di bawah yang seronok. Sempat terlihat juga Chin Swee Temple di kejauhan. Di beberapa tempat, gondolanya sedikit bergoyang, menambah daya tarik tersendiri.:D

Btw walaupun unplanned ternyata kita timingnya pas, karena mulai besoknya selama beberapa hari Awana SkyWay akan menjalani maintenance dan tidak beroperasi.

Bukit Bintang
Sampai di tujuan akhir (SkyAvenue Station) kita agak bingung arah yang hendak dituju.Berbagai restoran dengan nama yang cukup asing bertebaran seolah mengajak segera makan siang.Namun akhirnya kita putuskan ke Snow World  sebagai tujuan wisata di Genting Highland. Sampai Snow World sekitar jam9.45, 15 menit sebelum buka. Kita membeli tiket untuk berlima seharga RM 161,7 (family packetuntuk empat orang RM129.20 + satu tiket anak RM32.50). Setelah memakai jaket dan sarung tangan, kita masuk ke dalam. Lumayan dingin, di display yang ditempel di luar arena terterasuhu -6C. Di dalam area kita berfoto-foto, naik luncur-luncuran, naik perosotan ban, danmenikmati sensasi udara dingin. Waktu bermain yang diperbolehkan sekitar satu jam, sebelumkemudian giliran batch berikutnya. Sebenarnya kita bertiga pingin lanjut, walaupun Afnan danibunya sudah menyerah karena kedinginan.


Digital City of Light, i-City
Dari Snow World kita mencari restoran untuk makan siang. Dari google sekilas, kita mendapat informasi salah satu tempat makan yang halal di Malaysian Food Street. Cukup jauh kitaberjalan, karena lokasi tempat makan tersebut di salah satu ujung mall Sky Avenue, terpisahdari tempat makan lainnya. Dan ternyata setelah sampai di sana, ada tulisan "Non Halal".Walaaah, sudah jauh-jauh berjalan. Akhirnya kita putuskan turun ke Awana Station menggunakanAwana Skyway. Perjalanannya masih tetap menarik dan bisa dinikmati. Sampai di Awana Station, masih sekitar jam 12.30, sedangkan kita booking jadwal bis ke Kuala Lumpur untuk jam 14.00, masih cukup banyak waktu tersisa. Saat turun tangga dari Awana Skyway menuju tempat bis kita
sudah celingukan mencari tempat makan, tapi gedungnya terlihat kosong. Namun saat menunggu bis, terlihat pelancong lain sedang makan nasi (take away). Akhirnya setelah mencari,ternyata gedung sebelah adalah mal Genting Highlands Premium Outlets, dan kita bisa membelimakanan Wendy's yang sudah mencantumkan logo halal resmi. Selamatlah kita dari deritastarving.

Jembatan, Taman Tasik Perdana
Pulang ke Kuala Lumpur kita naik bis ke KL Sentral, dilanjutkan dengan grab menuju apartemen.
Di apartemen kita istirahat sebentar, dan perjalanan sore hari dilanjutkan ke Bukit Bintang dengan naik free bus service. Karena hari kerja (mungkin jam pulangkerja), bis cukup penuh sehingga kita melewatkan beberapa bus. Di Bukit Bintang kita cukupbingung di mana orang-orang biasa membeli oleh-oleh, apakah Lot 10, Sungei Wang Plaza atauyang lain. Akhirnya kita putuskan membeli oleh-oleh sekedarnya di Sungei Wang Plaza. Dan pulangnya kembali kita naik Grab sampai ke apartemen. O iya di Bukit Bintang, kita sempat harus menukar uang lagi ke Ringgit Malaysia karena perbekalan sudah menipis :D. Selesailah hari kedua perjalanan di Kuala Lumpur.

Bamboo Playhouse, Taman Tasik Perdana
Hari ketiga, pagi-pagi dapat 'wangsit' pingin mencoba sholat Subuh di masjid yang terlihat dari balkon, mumpung hari ini jadwalnya gak ketat. Dari Google Map, masjid ini namanya Masjid Jamek Kampung Baru, dan jaraknya 1,2 km. Tapi begitu mbuka pintu lobby apartemen, ini apartemen kok becek, siapa yang nyiram-nyiram air. Ternyata pagi ini hujan :), gak terasa di kamar apartemen. Ya udah kita nunggu agak cerahan di apartemen sebelum kemudian berangkat ke restoran Nasi Kandar Pelita untuk sarapan. Selesai sarapan kita lanjut naik Grab ke Taman Tasik Perdana. Sampai daerah taman tersebut, supirnya bingung, turunnya di mana. Kita juga sama-sama bingung, karena sepertinya taman tersebut luas dan tidak ada biaya masuk, jadi bisa turun di mana saja. Akhirnya kita turun di salah satu taman dengan play ground, dan akan-anak sejenak menikmati permainan di sana, perosotan dan kawan-kawannya.

Berenang di apartemen
Kita keliling-keliling taman dengan tujuan ke arah Taman Burung. Sebenarnya kita juga bermaksud ke Planetarium dan Masjid Negara, namun dari hasil googling, ternyata Planetarium tutup di hari Senin (note: PetroSains juga tutup di hari Senin). Cukup banyak view yang menarik di Taman Tasik Perdana dan kita berfoto-foto ria. Setelah berjalan sekian kilo meter (mmm... mungkin gak sampai dua kilo meter sih), sampailah kita di Taman Burung. Dan saat akan membeli tiket, ternyata harga tiket dewasa RM67 dan tiket anak RM45, lebih mahal dari tempat wisata lainnya :(. Karena total akan menghabiskan RM291 dan kaget karena belum survey sebelumnya, akhirnya kita cancel. Selain itu kita juga bukan penggemar burung. :D Pemerintah Malaysia hebat juga, untuk pemegang Mykad hanya dikenakan biaya untuk dewasa RM27, dan anak-anak RM13, artinya ada policy subsidi silang dari turis asing ke warga negara Malaysia. Ini juga berlaku di tempat-tempat wisata lainnya.

'Nabrak' salju, i-City
Dari area Taman Burung, kita pulang ke apartemen naik Grab, dan sekedar melewati Planetarium (yang tutup) dan Masjid Negara. Gak jadi deh mampir sebentar di sana. Sampai apartemen, setelah istirahat sebentar, kita berenang di kolam renang indoor. Kedalaman kolam renang cuma 120cm, pas lah untuk anak-anak bermain. Setelah ujung-ujung jari mulai mengeriput, kita kembali ke kamar apartemen dan beristirahat kembali. Malamnya kita berniat ke i-City, namun agak was-was karena cuaca sangat mendung. Sayang kalau sudah sampai sana ternyata turun hujan.

Setelah confirmed dari salah satu web bahwa malam ini tidak hujan, kita berangkat makan malam ke Quill Mall City, dilanjutkan naik grab ke i-City. O iya memang disarankan ke i-City di malam hari karena lebih seronok oleh permainan cahaya. Karena berangkat di jam sibuk, ongkos grab ke i-City cukup lumayan menghabiskan RM72 termasuk biaya tol. Padahal pulangnya kita hanya menghabiskan ongkos grab termasuk tol RM29 (plus 10 point). Di i-City kita keliling-keliling, foto-foto dan naik beberapa wahana outdoor theme park. Banyak juga wahana yang tidak kita coba, tapi karena sudah malam, capek dan juga jatuhnya jadi mahal, kita skip saja :D.


Hari terakhir akhirnya sempat juga sholat Subuh di masjid, eh salah sebenarnya hanya di Surau Kampung Baru Madrasah yang jaraknya sekitar 700 meter dari apartemen (refer to Google Map). Jama'ahnya sekitar 10 orang dengan kapasitas surau mungkin cukup untuk 100 orang. Pulang sholat, pagi-pagi kita beres-beres karena harus check out. Sekilas melihat airbnb sepertinya check out diperbolehkan hingga jam 14.00. Akhirnya kita rencanakan ke Petrosains dan kalau masih sempat dilanjutkan ke Planetarium sambil menengok Masjid Negara.


Collecting marble with shadow, Petrosains
Pagi-pagi kita berangkat ke Suria KLCC, sarapan di Wendy's, tukar uang (again :D) dan lanjut ke Petrosains. Petugas di tempat pembelian tiket menjelaskan bahwa saat ini Geotime Diorama (aka dinosaurus) sedang tutup karena maintenance. Sedikit kecewa, tapi karena tanggung kita lanjutkan saja. Kebetulan ada Mid Year Promo, buy 1 adult ticket get free 1 child ticket. Jadi kita hanya membeli tiga tiket dewasa, dan karena ada maintenance, dapat korting RM6. Total kita membayar RM84.

Space, Petrosains
Di dalam Petrosains banyak obyek yang cukup menarik, ada mengenai space (ruang angkasa), mengenai kecepatan (mobil formula), mengenai kilang minyak, dan juga ada teater 3D. Banyak item yang bisa dicoba oleh anak-anak sehingga cukup menghabiskan waktu. Tak terasa sudah lewat dari jam 1 siang, dan saat mengecek HP, ternyata ada message dari pemilik apartemen bahwa waktu check out jam 12 siang. Waks, terburu-buru kita pulang ke apartemen dan akhirnya berhasil check out jam 14.00. Ternyata tadi pagi salah baca, check out memang seharusnya jam 12.00 bukan jam 14.00. :(

Setelah check out kita lanjut makan siang ke restoran Nasi Kandar Pelita (di sini lagi....hehehe), dan dilanjutkan naik grab ke bandara. Ongkos grab ke bandara berikut tolnya cuma RM75, jauh lebih murah dibandingkan naik KLIA Express :D. Sampai di bandara, antrian check in Garuda cukup panjang, tapi karena kita naik GA817 jam 19.05, masih cukup waktu, sehingga gak nervous. Sebenarnya kita juga sudah check in online dan hanya perlu drop baggage, tapi antriannya tetap panjang juga (sepertinya tidak dibedakan).

that's all folks
Selesai check in, kita lewat imigrasi dan boarding dengan lancar. Dalam perjalanan ke Cengkareng, beberapa kali goyangan pesawat cukup terasa (kita naik PK-GFF), tapi alhamdulillah semua selamat sampai ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Karena ini pertama kali mendarat di Terminal 3, terlihat lumayan bagus, dibanding suasana di Terminal 1 dan Terminal 2. Ada free Wifi, ada tempat nge-charge HP dan petunjuk jalan dalam lima bahasa. Dari terminal 3 kita naik taxi ke rumah dan istirahat dengan tenang sebelum kembali ke dunia nyata esok harinya. :)

O iya ada yang aneh di toilet di Malaysia. Baik di airport, di Genting Highland, di restoran, rata-rata ujung semprotan air di toilet dilepas sehingga jika kerannya dibuka, air langsung mengucur. Tidak ada semprotan seperti biasa yang digunakan untuk cebok. Kalau dibilang vandalisme, sepertinya gak, karena terkesan disengaja. Mungkin dianggap air terlalu kencang kalau menggunakan semprotan.

.: aer :.
www.aer-reborn.blogspot.com

Sabtu, 20 Mei 2017

Jalan-jalan: Liburan ke Tokyo

Shinjuku gyoen
Setelah galau beberapa lama, akhirnya kita putuskan "jadi" untuk jalan-jalan sekeluarga ke Tokyo, sekalian perpisahan sebelum kakak Hana masuk pesantren (note: masuk pesantrennya masih bulan Juli sih :)). Mulailah kita (tepatnya saya) 'riset' mencari obyek-obyek wisata di Tokyo yang potensial dikunjungi. Setelah terkumpul beberapa lokasi, bersama-sama kita sortir tempat mana yang paling ingin didatangi. Ibunya pingin melihat Sakura, salju dan gunung Fuji - permintaan yang bisa saja dipenuhi kalau budget dan waktu un-limited - sayangnya kali ini not the case :D. Kakak Hana dan adek Qonita dianggap ke Jepang saja sudah senang :), sedang Afnan diiming-imingi berbagai museum yang kira-kira disukai anak laki, dinosaurus, robot, pemadam kebakaran. Terkumpullah beberapa tempat wisata, dan mulailah ayahnya menyusun itinerary. Sempat juga muncul diskusi apakah kita pergi dua malam atau tiga malam, sebelum akhirnya diputuskan dua malam saja. Kimatta. :)


Di depan apartemen
Kegalauan berlanjut tentang mana yang akan dilakukan duluan, apakah pesan tiket, booking hotel atau mengurus visa. Akhirnya kita memesan hotel duluan, karena khawatir makin ke sini hotel makin penuh atau harganya naik, karena musim turis. Kita memesan hotel melalui aplikasi airbnb, dan mendapatkan apartemen di dekat stasiun Higashi Nakano, area Shinjuku (biayanya 240 Euro untuk dua malam). Sengaja kita memilih apartemen karena saat mengecek hotel, rata-rata mengharuskan sewa dua kamar untuk jumlah keluarga yang kita submit. Apartemen yang kita pilih lumayan enak, full furnished (ada mesin cuci, rice cooker, microwave, kompor, kulkas dan peralatan dapur) dan boleh ditempati maksimal hingga delapan orang - sehingga untuk dua orang dewasa dengan tiga bocil tentunya cukup lega. Selain itu host menyediakan portable wifi (lumayan bermanfaat untuk konek internet di apartemen maupun waktu jalan-jalan), memperbolehkan waktu check in dan check out yang fleksible, dan ini yang cukup penting "not cost restricted", artinya boleh cancel atau ganti hari. Menjadi penting karena kita belum yakin apakah akan mendapatkan tiket dan visa sesuai waktu yang diinginkan.

Rencana itinerary
Saat booking tiket tanggal 8-11 April, benar saja tiketnya penuh, sehingga kita geser ke tanggal 7-10 April. Sebenarnya mungkin memang lebih pas tanggal 7-10 April, karena kita cukup khawatir saat datang, musim Sakura sudah lewat. Selain itu, kalau berangkat hari Jumat (tanggal 8) sepertinya jalanan bandara akan macet. Terpaksa bookingan kita geser harinya, dan kena biaya tambahan USD 24. (kalau kita pilih yang restricted, sepertinya uang akan hangus). Untuk pengurusan visa, kita memilih dibantu mengurus lewat kantor dengan biaya Rp. 500,000 per orang. Selain tidak repot, hampir dipastikan bisa mendapatkan visa tanpa masalah.

Untuk menyusun itinerary, berbagai web kita buka, terkait biaya, waktu dan kondisi tempat yang akan dikunjungi. Beberapa yang bermanfaat:
-web tempat wisata jepang (googling aja, karena posting ini sudah setahun yang lalu, saya lupa web apa dulu yang paling bermanfaat menambah informasi, sepertinya sih www.japan-guide.com)
- web jorudan - untuk mengecek rute, biaya dan waktu untuk transportasi di Tokyo (beberapa internet menyarankan menggunakan hyperdia, tetapi saya memakai web ini karena sejak awal 2000-an lebih familiar dengan jorudan - nostalgia mode on)
- web Shinjuku Gyoen, taman di Tokyo yang kita anggap paling representatif untuk dikunjungi, dalam rangka hanami (padahal dulu tiga tahun tinggal di Tokyo, gak pernah ke situ :p)
Playground di Bandara Soekarno Hatta
- web Ueno Park
- web Tokyo Fire Musem
- web National Museum of Nature and Science Ueno
- web The National Museum of Emerging Science and Innovation (Miraikan)
- web Tokyo Tower
- web area odaiba
- web area ueno
- web area shinjuku
- web area shibuya, termasuk Tokyo Metropolitan Building
Dan tentunya google map yang selalu membantu mencarikan lokasi. Pokoknya di internet ada banyak web, yang bisa membantu membuat itinerary precisely, minute by minute :D. Dan jadilah sebelum berangkat, kita sudah punya detail jadwal selama tiga hari dua malam, dengan biaya sekeluarga sekitar 25,000 yen, di luar makan dan penginapan.

Perjalanan Bandara Haneda- Apartemen
Beberapa hari sebelum keberangkatan, kita juga rajin mengecek internet memperhatikan cuaca dan lokasi sakura berbunga (kapan sakura pertama berbunga, apakah hujan sehingga sakura nya rontok, di setiap taman berapa persen sakura sudah berbunga, dll), karena perjalanan ini considered failed kalau tidak berhasil melihat sakura :D. Kita bersiap geser lokasi yang dikunjungi, jika ternyata bunga sakura sudah rontok di taman yang akan dikunjungi. Koper dan isinya juga sudah dipersiapkan dengan baik, termasuk lauk kering (rendang), beras, indomie, beberapa cemilan, minuman susu dan teh kotak. O iya lain kali perhatikan fasilitas yang tersedia di apartemen, karena ada mesin cuci, seharusnya baju yang dibawa tidak perlu terlalu banyak. Tapi karena kemarin kurang perhatian, dibawalah baju dengan asumsi tanpa mencuci.

Sebelum keberangkatan, kita mencoba nelfon untuk online check in, namun ternyata dijawab harus tunggu 24 jam sebelumnya. Akhirnya sekitar 24 jam sebelum keberangkatan kita mencoba nelfon lagi, namun lagi-lagi gagal, dijawab untuk penerbangan luar negeri harus check in di counter. Dan ternyata saat di counter, petugasnya memberitahukan bahwa bisa online check in. Gak tau nih, mana yang bener, tapi kita bertekad pulangnya kita pastikan online check in dulu. Soalnya tanpa online check in, khawatir tempat duduknya jadi terpencar-pencar.

Sakura di pinggir sungai
Akhirnya hari keberangkatan tiba. Ayah pulang kantor teng-go dan langsung pulang ke rumah. Setelah bersih-bersih dan bersiap-siap, habis sholat Magrib kita berangkat ke bandara - lebih cepat lebih baik. Sampai di bandara, seperti biasa ayah nge-drop ibu dan anak-anak di terminal, kemudian memarkir mobil di GMF, dan lanjut naik ojek ke terminal. Berbeda dari biasanya, kali ini (mungkin semenjak ada pekerjaan di M1) sangat sulit menemukan ojek di depan GMF di malam hari, sehingga terpaksa jalan sampai M1, baru mendapat ojek. Check in di bandara cukup lancar, tidak ada drama seperti waktu jalan-jalan ke Singapura dulu. Kemudian melalui gate imigrasi dan tinggal menunggu waktu boarding.

Setelah sholat Isya, kita cukup kesulitan mencari tempat duduk kosong di area sekitar tempat boarding. Pintu menuju ruang tunggu boarding juga belum dibuka. Untunglah gak sengaja kita menemukan play ground tempat bermain anak di sisi kanan, dekat Gate E1, sehingga anaknya bisa nyaman bermain, dan ayah ibunya bisa duduk-duduk santai di kursi yang tersedia di sana.

Taman dekat apartemen
Setelah ruang tunggu boarding dibuka, kita pindah ke sana. Semuanya tidur menunggu di kursi (kecuali ayahnya dong :)) karena waktu keberangkatan masih cukup lama. Baru jam 11.30 pesawat siap diberangkatkan. Kita naik pesawat Airbus, PK-GPx (lupa registrasinya).

Hari pertama di Tokyo, Jumat tanggal 8 April 2016, kita mendarat dengan selamat di Bandara Haneda. Kemudian mengikuti saran yang pernah di-share di FB, kita mendaftar internet di bandara. Ada mesinnya untuk register, scan paspor, dan kita dapet kertas berisi kode premium untuk akses internet. Selanjutnya donlod aplikasi Travel Japan Wi-fi untuk akses internet gratisan. Namun karena terlalu banyak pindah tempat, hotspot ikut pindah-pindah, sehingga kurang reliable dan gak kita pake selama jalan-jalan di Tokyo. Alasan (utama) lainnya, apartemen yang kita sewa menyediakan pocket wireless yang ON di manapun. :)

Shinjuku gyoen
Setelah ndaftar internet, kita membeli Suica, bukan untuk cost saving, tapi untuk pertimbangan kemudahan perjalanan, karena jadi gak perlu banyak beli tiket di stasiun. Kita membeli Suica karena rute yang dituju tidak hanya dicover JR atau hanya subway, tapi campuran, termasuk monorail. Ada pilihan kartu yang khusus untuk JR, atau yang khusus untuk subway. Memang kerugian untuk pembelian Suica, kita kena biaya 500 yen, yang nantinya bisa dikembalikan 350 yen jika tidak habis. Jadi rugi 150 yen, tapi worth it lah kenyamanannya.
 
Sesuai rute yang sudah dipersiapkan di itinerary dengan seksama :D, kita harus pindah kereta dua kali untuk mencapai stasiun Higashi Nakano, stasiun terdekat menuju apartemen. Yang kurang diperhatikan saat membuat itinerary adalah, apakah saat perpindahan kereta harus berjalan jauh, naik turun tangga, atau harus pindah stasiun lewat jalan raya, kurang terlalu diperhatikan. Tapi overall itinerary nya cukup membantu. Saat pindah-pindahan kereta, sempat salah satu tas yang dibawa tertinggal di kereta, untungnya sebelum pintu kereta menutup, kita sudah sadar, sehingga sempat mengambil kembali tasnya. Otherwise, repot deh harus ngelapor ke petugas stasiun, ngabisin waktu .....

Tokyo Fire Station
Akhirnya kita sampai di Higashi Nakano, dan eng ing eng.... HP lobat :((. Padahal kita gak nge-print peta apartemen tujuan, dan rencananya rely on video yang di-share oleh pemilik apartemen di airbnb. Tapi HP nya mati, dan videonya gak bisa disetel. Untunglah kita gak culun2 amat di Jepang, jadi faham bahwa di setiap stasiun ada peta area sekitarnya. Berbekal alamat apartemen dan memperhatikan peta di stasiun, kita berhasil mengidentifikasi arah yang dituju.

Dalam perjalanan menuju apartemen (mungkin sekitar sepuluh menitan), kita ketemu bunga sakura di dekat sungai. Yey MISSION ACCOMPLISHED :)) Jadi kita anggap tujuan sudah beres - ngeliat sakura :D, selebihnya anggap aja bonus. :)   Sampai apartemen kita istirahat sebentar, masukkin teh kotak ke freezer biar agak dingin, persiapan untuk perjalanan berikutnya. Hari ini kalau di itinerary tujuannya Shinjuku Gyoen, Tokyo Fire Station dan Tokyo Metropolitan Building, sekalian ngeliat suasana area Shinjuku.

Di depan Tokyo Daigaku
Perjalanan pertama ke Shinjuku Gyoen, pemandangannya cukup indah, banyak aneka jenis sakura bermekaran, pokoknya beyond expectation, dan timingnya pas :). Ada satu kejadian unik, saat kita lagi kepikiran bagaimana caranya foto berlima, ada orang tua yang menawarkan untuk mengambilkan foto. Bahkan saking antusiasnya, beliau sampai naik ke kursi taman untuk mengambilkan foto dengan view terindah. Arigatou ojii-san. :)  Orang-orang Jepang memang ramah. Dalam perjalanan dari apartemen ke stasiun juga seorang bapak berumur ngajakin ngobrol di dekat sungai, dan ujungnya kembali kami minta tolong diambilkan foto. Berbeda dengan di Hongkong (dahulu kala), pernah saya meminta tolong diambilkan foto, tapi mereka malah menghindar.


National Museum of Nature and Science
Dari Shinjuku gyoen, kita lanjut ke Tokyo Fire Musem. Di perjalanan Afnan ketiduran dan harus dibangunin untuk menikmati museum tersebut. Karena sayang kan, tujuan ke museum ini sebenarnya hanya untuk Afnan :D. Museumnya lumayan lengkap, koleksi pemadam kebakaran dari zaman Tokyo dahulu sampai sekarang, termasuk yang masih ditarik kuda sampai helikopter. Ada beberapa lantai di sini. Tapi sayangnya agak sepi dan agak gelap, sehingga terasa kurang semarak. Dari museum ini tiba-tiba terbersit niat, bagaimana kalau mampir ke kampus ayahnya dulu, Tokyo Daigaku ..... hehehe pamer ke anak-anak. :D Kalau masalah rute perjalanan ke kampus, aman lah, walaupun gak ditulis di catatan itinerary. Di Tokyo rute keretanya sangat informatif dan lengkap sehingga insya Allah gak kesasar. [Note: Di perjalanan hari kedua juga sempat salah naik kereta (maksudnya beda dengan itinerary), namun bisa cepat recovery, karena rute kereta di Jepang sangat interconnected dan mudah difahami]. Namun sayangnya sampai di gerbang kampus, ayahnya gak pede untuk masuk kampus karena melihat tulisan Jepang yang sepertinya artinya "yang tidak berkepentingan, dilarang masuk". Sebenarnya gak terlalu yakin artinya sih, karena saat ini kemampuan membaca kanji masih tertatih-tatih. Tapi ya sudahlah, gak jadi ke gedung jam, cukup sampai di depan pintu. Setelah sampai apartemen baru ingat, ternyata ini bukan pintu utama, masih pintu masuk ke Agriculture (Nogakubu), Yayoi campus, pantesan agak kecilan :D

Di depan Nature and Science Museum, Ueno
Tapi sayangnya hari pertama ini kita gagal ke Tokyo Metropolitan Building dan area Shinjuku karena sudah kemaleman dan capek. Sebenarnya gak terlalu malam sih, tapi capeknya itu yang gak bisa dilawan. Oh ya, di Tokyo biaya kereta untuk anak-anak hanya setengah harga, dan untuk Afnan malah gratis.

Hari kedua di Tokyo, teh kotak yang dicari saat mau jalan-jalan di hari pertama ketemu juga, ternyata kita lupa kalau disimpan di freezer. Niatnya cuma sebentar, namun karena kelamaan akhirnya jadi beku deh. :D  Hari kedua rencananya sesuai itinerary kita akan ke Ueno, museum science, Odaiba, Miraikan, Megaweb Toyota City, Tokyo Tower dan Shibuya termasuk Hachiko. Rencananya kita makam malam di Shibuya sambil menikmati suasana area Shibuya. Kenyataannya ?!? ......hehehehehe.......yappari tsukareta nee

Modul ruang angkasa di Miraikan
Pagi-pagi perjalanan lancar sampai ke Ueno. Berbeda dengan di Shinjuku gyoen, kalau di Ueno Park bunga sakura sudah banyak yang rontok, namun pengunjungnya justru lebih ramai. Masyarakat Jepang banyak yang gelaran tikar sambil minum-minum menikmati bunga sakura. Kita keliling taman, termasuk ke Shinobazu pond, lokasinya gak terlalu jauh dari Tokyo Daigaku, dan dulu cukup sering dikunjungi :). Sebenarnya kita kelilling taman sambil menunggu museum science buka, karena itu salah satu tujuan utama kita. Setelah buka, kita masuk ke National Museum of Nature and Science Ueno, dan ternyata dapat potongan harga karena bisa menunjukkan booklet turis Tokyo (booklet itu bisa diambil di bandara). Lumayanlah sedikit ngirit :), padahal masuk museum ini juga gak mahal. Ternyata museum ini salah satu yang terbaik yang kita kunjungi di Tokyo kali ini. Di dalam kita bisa melihat replika fosil dinosaurus, replika berbagai binatang dalam berbagai ukuran, pameran diorama peradaban Jepang, dan yang paling menarik teater 4D. Pokoknya gak rugi deh ke sini.

Patung 'Liberty' di Odaiba
Dari Ueno, kita lanjut ke Odaiba. Di sini ada taman bunga tulip dan museum Miraikan. Di The National Museum of Emerging Science and Innovation (Miraikan) kita bisa melihat pertunjukan robot Ashimo, gerakannya luwes baik waktu berjalan maupun bermain bola. Selain itu kita melihat modul ruang angkasa, dan banyaklah hal-hal terkait sains lainnya. Kekurangannya, pada saat kunjungan beberapa area tidak bisa dikunjungi karena sedang renovasi, misalnya area robot, dan juga sepertinya museum ini  agak terlalu teknis sehingga perlu waktu yang lama - termasuk menerangkan ke anak-anak - kalau mau mengunjungi dengan lebih bermakna.

Dari Miraikan kita lanjut melihat patung Gundam, replika patung Liberty dan rainbow bridge. Agak tumben ayahnya ngerasa pegel waktu ngedorong stroller Afnan, padahal biasanya cukup terlatih jalan jauh :D. Mungkin karena sendalnya kurang pas sehingga cepat pegel. Ke depannya - kalau diulang - disarankan pakai sepatu kets biar lebih nyaman dan gak cepat capek. Di area patung Liberty anginnya kenceng banget. Semuanya kedinginan, tapi masih untung gak terbang, hehehe. Kita menyempatkan sholat di mall dekat loker. Kalau untuk makanan, kita sudah membawa bekal dari apartemen (masak nasi sendiri dong), dan tadi sudah dimakan di Ueno.


Yappari, Tokyo Tower
Dari Odaiba kita lanjut melihat Tokyo Tower. Seperti sudah dibayangkan, Tokyo Tower ya seperti itu, istilahnya kita ke sana untuk 'menggugurkan kewajiban' hehehe. Kita naik ke atas untuk menikmati pemandangan Tokyo dari ketinggian. Biasanya untuk melihat Tokyo dari ketinggian, kalau nyari yang gratisan, orang pergi ke Tokyo Metropolitan Building instead of Tokyo Tower. :D  Tapi kemarin kita gagal ke Tokyo Metropolitan Building, dan lagipula Tokyo Tower udah masuk di list itinerary. Ada lagi alternatif gedung tinggi lainnya, Tokyo Skytree. Tapi kalau ke sana mestinya digabung dengan jalan-jalan ke Asakusa dan menikmati wisata Sumida river. Alternatif itu udah kita skip saat menentukan itinerary sebelum berangkat ke Tokyo.

Dari Tokyo Tower, jelas kita gak sanggup ke Shinjuku - skip. Perjalanan hari ini, jalan kaki nya jauh lebih banyak daripada hari pertama. Jadi dari Tokyo Tower, kita memutuskan langsung pulang ke apartemen. Dan karena besoknya pulang, malamnya kita nyoba check in online, dan alhamdulillah berhasil.

Hari ketiga adalah hari terakhir di Tokyo. Dari itinerary kita gak bakalan sempat mampir ke mana-mana, jadi langsung dari apartemen kita berangkat ke Haneda. Alhamdulillah karena sudah check in online, antrian waktu check in di counter lebih pendek (ada jalur antrian yang berbeda antara yang sudah check in online dengan yang belum). Di bandara kita ngembaliin kartu Suica karena sisa depositnya masih banyak, dan ternyata antriannya panjang banget. Jadinya agak hectic. Lolos dari antrian kartu Suica, kita nyempetin mampir beli oleh-oleh di bandara, maklum kita gak sempat mampir Shibuya dan Shinjuku, jadi belum sempat beli oleh-oleh. Lagi-lagi antrian di sini panjang banget.

Sayonara Tokyo .....
Akhirnya dengan sisa waktu yang limited, kita terpaksa langsung boarding. Di perjalanan pulang, Afnan Hana dan Qonita mendapat boneka harimau dan gajah dari Garuda, lumayan :)

Moral of the story, kalau jalan-jalan ke Tokyo jangan membuat itinerary yang terlalu padat dan optimistis :D  Berikan spare waktu yang cukup, sehingga setiap momennya dapat lebih dinikmati, dan tidak ada spot yang terpaksa di-cancel. Apalagi kota yang pernah cukup lama ditinggali, ada banyak tempat kenangan untuk dikunjungi, ada teman yang terpaksa ditampik waktu ngajak ketemuan (gomen nasai, waktunya sangat singkat). Dan akhirnya dua malam itu terlalu singkat, dan gak sebanding dengan tujuh jam perjalanan dari Cengkareng ke Haneda. :D

Sekian catatan perjalanan ke Tokyo. Karena ini "late posting", ditulis lebih setahun setelahnya, ada banyak emosi yang tidak tersampaikan dan ada cerita yang kurang mengalir, mohon dimaafkan.
Moushiwake gozaimasen deshita.


.: aer :.



Minggu, 14 Mei 2017

Catatan Perjalanan ke Negeri Donald Trump

Bersantai di Homewood Suites
Tanggal 25-27 April saya dijadwalkan mengikuti training di Dayton, Ohio, yey. Lumayan, udah lama gak 'jalan-jalan' ke luar negeri - apalagi belum pernah ke USA - dan tentunya materi training nya juga cukup menarik, gak jauh-jauh dari kerjaan teknis sih.

Karena kesibukan di kantor, akhirnya baru bulan Maret saya apply visa ke USA - dengan membayar biaya 2,16 juta rupiah via Bank CIMB Niaga, dan mendapat jadwal wawancara tanggal 6 April. Sedikit was-was karena katanya visa ke USA agak unpredictable. Bisa saja tiba-tiba ditolak tanpa alasan. Yang cukup membuat tenang, pengurusan visa dibantu kantor, dan sebelumnya cukup banyak teman-teman lain yang sukses mendapatkan visa tanpa masalah. Berbekal surat pengantar dari kantor, invitation letter dari penyelenggara training, dan dokumen pendukung lainnya saya menuju Kedubes USA pada jadwal wawancara yang ditentukan. Sentimen kemenangan Trump masih sedikit membayang-bayangi, apakah akan menyebabkan pengurusan visa menjadi lebih sulit....hmmm.

Memandang Wall Mart di pinggir highway
Sampai di Kedubes sekitar jam 6.30, antrian sudah cukup panjang, dan masih di luar gedung. Perlahan beringsut ke depan, hingga tak terasa satu jam menunggu baru kita berhasil masuk ke dalam
gedung Kedubes. Setelah menitipkan tas, di dalam saya mengambil nomor dan kembali antri menunggu proses pendaftaran, kalau tidak salah saya mendapat nomor urut 50. Melewati loket pertama yang cenderung hanya proses administratif, kembali kami menunggu dipanggil untuk melakukan pengambilan sidik jari. Di sini antriannya tidak selama antrian awal tadi. Gak lama setelah pengambilan sidik jari, barulah dilakukan wawancara. Secara umum pertanyaannya hanya mengenai siapa kamu dan apa tujuan kamu ke USA, dan rasanya jawaban saya sudah cukup meyakinkan. Apalagi penanya sempat mengkonfirmasi bahwa saya kerja di Garuda Group, seolah-olah dengan demikian proses akan menjadi lebih mudah. Namun ternyata akhirnya saya hanya mendapat lembar kuning, yang artinya perlu pengecekan lebih lanjut. Sebagai informasi, warna putih artinya visa di-approve dan warna merah artinya visa ditolak. Dan dari beberapa orang lainnya yang menjalani proses wawancara, saya tidak berhasil menemukan benang merah, siapa yang akan ditolak dan siapa yang akan di-approve. Sekilas, terlihat random :D  Proses di Kedubes ini selesai sekitar jam 9 pagi, tidak terlalu lama.

Tanda keberadaan di O'Hare Airport, Chicago
Pulang belum mendapat kepastian, kita sabar saja menunggu. Akhirnya setelah seminggu menunggu, iseng-iseng saya kirim imel menanyakan apakah visa diapprove atau tidak, karena rencana kepergian sudah dekat. Alhamdulillah pihak kedutaan menyatakan visa sudah di-approve dan bisa diambil. Kalau dari lembaran kuning yang diterima, sebenarnya disarankan untuk menanyakan progress setelah satu bulan, tapi karena butuh cepat, yaa kita lakukan secara progresif revolusioner. :D

Setelah visa sudah di tangan, saya booking hotel di lokasi yang sama dengan tempat trainingnya, biar transportasinya lebih mudah, di Homewood Suites. Tiket juga langsung di booking, dipilih yang waktu transitnya paling sedikit sehingga tidak terlalu menghabiskan waktu di jalan. Akhirnya saya memiilih berangkat menggunakan JAL dan pulang menggunakan Qatar Airways. Belakangan baru sadar, itu artinya perjalanan yang dilakukan adalah keliling dunia dengan terus terbang ke arah timur melewati CGK - NRT - Samudra Pasifik - ORD - DAY - ORD - Samudra Atlantik - Portugal - Spanyol - Mesir - DOH - CGK. Jadi ingat film kartun "Around the World in Eighty Days", bedanya kalau ini cuma seminggu udah termasuk trainingnya :).  Total perjalanan (termasuk transit), berangkatnya dan pulangnya masing-masing sekitar 29 jam, lumayan pegal dan pastinya jet lag :(

Naik bis menuju bandara
Seperti biasa sebelum berangkat saya mengecek peta daerah yang dituju (google maps), public transportation (RTA, tapi ternyata lari ke google maps juga kalau mengecek waktu tempuh), place of interest, makanan halal, dan juga jadwal dan arah sholat. Untuk public transportation, saya gak mengecek detil hingga jam-jam keberangkatan - seperti waktu di Jepang - karena sepertinya hanya rute bis yang tidak terlalu kompleks. Cukup saya tahu bahwa saya akan naik Rute 01 dan 43. Untuk place of interest, saya mengincar National Museum of Air Force , walaupun agak ragu karena sepertinya jadwal training-nya cukup ketat, jadi kalau sempat saja. Untuk makanan halal, ketemu Yaffa Grill, mediteranian food, yang cuma perlu nyebrang jalan dan jalan sedikit dari hotel. Lumayan untuk case emergency :D. Kalau jadwal dan arah sholat sekedar untuk referensi. Selain itu juga tanya-tanya Arif (kakak) tentang cuaca, ketat tidaknya imigrasi, makanan, dll yang bisa menambah confidence level :)
Di depan Wright State University, Dayton
Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Saya berangkat hari Minggu 23 April, ba'da magrib. Naik grab, cukup cepat sampai di CGK, sehingga masih cukup waktu untuk bersantai karena pesawatnya terbang jam 21.55. Yang agak berbeda dibanding perjalanan biasanya, saat check in, petugas counternya bilang harus menghubungi Transportation Security Administration untuk melakukan clearance. Waks kenapa pula ini, udah pengurusan visa nya gak smooth, proses check in nya juga ada prosedur tambahan. Jadi mbayangin nanti di ORD bagaimana pula nasibnya. Tapi alhamdulillah dapat clearance, dan gak masalah bisa boarding ke pesawat. Dan karena menurut petugas counternya, pesawat penuh, jadi seat saya ditingkatkan menjadi Premium Economy, lumayan lah lebih lega dibanding Economy yang normal :D

Rute berangkat saya naik B787-9 ke Narita (first time naik Dreamliner, yey), lanjut B777-300 ke Chicago dan terakhir naik CRJ 200 ke Dayton. Yang lumayan jadi perhatian adalah mengenai makanan, kalau ngeliat di web JAL sebenarnya ditulis bisa pesan makanan halal 24 jam sebelum keberangkatan. Namun karena sudah terlambat, di pesawat saya hanya bilang ke pramugarinya minta yang gak ada daging dan gak ada pork. Pramugarinya lumayan proaktif dan helpful, dengan mendahulukan saya mendapatkan makanan sebelum penumpang lain supaya kebagian yang non daging. Tapi memang tidak seyakin kalau mendapat makanan halal. Selain itu highlight lain adalah masalah sholat. Saya terpaksa beberapa kali ke toilet untuk wudhu dan sholat sambil duduk. Untuk penanda waktu sholat, cukup saya bagi tiga dengan melihat jendela. Kalau terang, saya sholat Zhuhur dan Ashar, kalau gelap saya sholat Magrib dan Isya, dan untuk Subuh saya harus nge-watch langit menanti warnanya agak kemerahan. Belakangan teman saya nge-share, kalau di ANA dia bisa request sholat di belakang yang agak sepi sambil berdiri. Hmmm, seharusnya saya coba juga waktu naik JAL dan Qatar Airways.

Menunggu bis di halte pinggir jalan
Perjalanan lumayan lancar, dari Cengkareng transit di Narita (hisashiburi, terakhir ke Narita tahun
2002 :), karena waktu jalan-jalan ke Jepang tahun lalu lewat Haneda, gak lewat Narita). Dari Narita, mendarat di Chicago. Nah di sini - seperti sudah diduga - saya disuruh masuk ruangan khusus, kembali menunggu proses clearance. Lumayan lama sehingga waktu selesai dari proses tersebut, penumpang sudah sepi dan saya tidak menemukan bagasi saya. (note: di counter check in di Cengkareng, petugasnya menginformasikan bahwa bagasi diambil di Chicago dan check in kembali). Akhirnya setelah tanya ke sana ke mari, dapat juga informasi bahwa tas saya diambilkan oleh petugas JAL dan langsung ditransfer ke penerbangan berikutnya. Blessing in disguise nya, tas saya gak diperiksa petugas bea cukai walaupun saya membawa rice cooker (bukan bom panci ya), keripik kentang, beras dan indomie.

Tapi jadi kefikiran, profiling itu sedikit racist ya, mungkin filternya dari nama. Waktu ke Singapura, 100% saya harus minggir untuk pemeriksaan tambahan, waktu ke Australia 50% dari dua kali visit, dan waktu ke USA sekali-kalinya ternyata saya juga harus minggir untuk pemeriksaan tambahan.

Sir, yes sir .... gagal ke museum USAF at WPAFB :D
Dari Chicago, penerbangan ke Dayton berjalan lancar. Sedikit terasa aneh karena pindah dari pesawat besar ke pesawat kecil. Mendarat di Dayton hari Senin jam setengah empat sore. Karena sudah sore, sudah capek, dan waktu ngecek rute bis via internet ditulis jalan kaki dulu 0.4 mil (belakangan setelah ngecek lebih detil, sebenarnya gak perlu pake jalan) saya putuskan naik taxi ke hotel. Lumayan mahal, habis USD 67 sekali jalan. Sampai hotel, setelah check in, langsung istirahat. Sayangnya karena jet lag, malamnya malah susah tidur :((

Hari Selasa adalah hari pertama training. Karena malamnya susah tidur, masih jet lag, dan trainingnya rada teoritis, alhasil ngantuk dan kurang optimal :D. Pulang training langsung bertekad istirahat biar training hari kedua lebih fresh. Dan bener, besoknya memang lumayan lebih ngampere, selain udah rada fresh, materi training nya juga kayaknya lebih manusiawi :D

Pulang training hari kedua (walaupun udah menjelang jam lima sore), iseng-iseng saya mencoba jalan kaki ke National Museum of Air Force dengan mengambil rute terdekat mengikuti peta - walaupun dari internet udah tahu museum tutup jam lima, minimal iseng-iseng foto di depannya :D. Jalanan di kota Dayton lumayan sepi, gak banyak tempat menarik yang bisa dilihat. Sepanjang jalan paling ketemu Wright State University, kantor Northrop Grumman dan akhirnya mentok di pos penjagaan WPAFB. Karena ragu mau lewat atau gak, beberapa menit termangu, akhirnya seorang tentara datang nanya mau ke mana. Alhasil dilaranglah lewat situ karena bagian dari pangkalan militer, bukan jalan publik, dan kalau mau ke museum harus lewat jalan memutar. Karena terlihat di peta lumayan jauh, akhirnya mending balik aja, dan ternyata total perjalanan sore itu sekitar 6,5 km. Lumayanlah olahraga sore. :)
Belakangan baru ngeh juga, plang WPAFB di jalan artinya Wright-Patterson Air Force Base, dan itu juga kenapa agak banyak ketemu tentara di kota ini.

Wright Stop Plaza
Hari ketiga training juga berjalan normal, materi training lumayan bisa diserap, dan pulang training, iseng-iseng nyoba nyari oleh-oleh. Karena googling gak nemu tempat yang pas, akhirnya saya nyoba ke Wall Mart yang gak terlalu jauh dari hotel (gak nyampe 1 km). Sampai di sana, muter-muter tapi gak nemu oleh-oleh yang menarik. Akhirnya pulang dengan tangan kosong. Dan karena bekal sudah menipis, iseng-iseng beli makan sore di Yaffa Grill, yang ternyata porsinya lumayan banyak dan baru bisa dihabiskan besok paginya.

Hari Jumat adalah hari terakhir, saya pulang naik bis Rute 01 arah dari hotel ke bandara. Check out jam 7.30 dan di tengah perjalanan tiba-tiba dapat ide untuk divert ke museum (masih kepikiran :)), karena pesawatnya baru terbang jam 15.30. Akhirnya turun di halte yang menuju ke museum dan berniat nyambung ke Rute 11. Tapi karena ada perpindahan halte dan perlu jalan kaki sekitar 5-10 menit, kelihatan di depan mata bis Rute 11 baru saja lewat. Akhirnya terpaksa agak lebih detil ngeliat jadwal bis berikutnya. Ternyata harus menunggu sekitar satu jam-an, jam 9.30 baru ada bis berikutnya. Sepertinya masih memungkinkan untuk ke museum. Anggap sampai museum jam 10.30, keliling-keliling dua jam, jam 12.30 jalan ke bandara, harusnya masih cukup waktu untuk ngejar jadwal pesawat. Tapi iseng-iseng ngeliat jadwal bis yang menuju bandara (rute 43), ternyata jadwalnya setelah jam 10.35 baru ada lagi jam 14:39. Artinya kalau tadi dapat bis yang menuju museum (gak ketinggalan), dengan cara apapun bakalan gak bisa ngejar bis ke bandara - alhamdulillah masih dimudahkan :D  Kefikiran nyoba sarana transportasi lain, tapi gak jadi. Kalau taxi sepertinya jarang kelihatan di jalanan. Nyoba nginstall grab dan uber, kok diminta kartu kredit, jadi males. :D

Di depan 'mushola', Dayton airport
Jadi akhirnya lanjut lagi bis Rute 1 ke Wright Stop Plaza (semacam terminal), dilanjutkan ke bis Rute 43 ke arah bandara. Sampai bandara langsung check in, dan yang agak bikin deg-degan, ternyata di boarding pass tidak ditulis nomor seat, petugasnya bilang nanti di atas (maksudnya di tempat boarding) baru dikasih nomor seat. Ngeliat counter airline sebelah, banyak penumpang yang ngantri dan gak kebagian tiket, jadi was-was juga. Kebetulan code tiket ku "V" bukan "Y", apa ada masalah ya...Kalo googling ditulis untuk kode V "might restrict advance seat assignment". Tapi alhamdulillah ternyata gak ada masalah. Pulangnya naik CRJ ke Chicago, lanjut B777-300ER ke Doha dan B787-8 ke Cengkareng. Perjalanan aman, lancar dan terkendali :). Kalau waktu berangkat saya milih window side dengan pertimbangan bisa ngeliat pemandangan waktu mendarat dan mudah mengecek waktu sholat dengan melihat matahari, waktu pulang saya milih aisle side karena lebih memudahkan untuk ke toilet, terutama untuk berwudhu.

Hal yang agak menarik di perjalanan, ternyata di bandara Dayton disediakan mushola, tepatnya prayer room yang bisa digunakan oleh agama manapun. Kalau di Qatar, jelas gampang ditemukan musholla - no wonder. Dan pelajaran lainnya, mungkin karena sering pindah pesawat, tas koperku pecah rodanya. Jadi lain kali kalau terbang jauh mungkin sebaiknya minta dipasang stiker "fragile", siapa tahu berguna menyelamatkan koper. Atau sekalian bawa aja kopernya ke kabin, karena koper ukuran tanggung begitu masih memenuhi standar untuk masuk kabin.

.: aer :.

Catatan tambahan:
Menunggu bis di Wright Stop Plaza
1-Kalau membandingkan bandara dari sisi penyediaan sarana internet (wireless), paling ramah Narita
dan Dayton yang free at all, kemudian Hamad (Qatar), free tapi harus login dengan ticket booking code, setelah itu OHare (Chicago) yang cuma ngasih free 30 menit setelah itu harus bayar, baru Cengkareng gak tau deh akses yang tersedia seperti apa.
2-Waktu pulang hari terakhir, saya beli tiket Day Pass seharga USD 5. Pertimbangan utamanya adalah kepraktisan, tidak harus mencari koin sejumlah USD 1.75 setiap naik bis. Dan ternyata saya sampai tiga kali naik bis sehingga balik modal dibanding bayar setiap naik. Tiket Day Pass bisa dibeli di bis yang pertama dinaiki.
3-Bis di kota Dayton sedikit unik karena bagian depannya ada besi yang bisa diturunkan untuk membawa sepeda, max dua buah. Jadi bagi pengendara sepeda, cukup terbantu saat naik bis dan dapat melanjutkan perjalanannya dengan sepeda.
4-Saat menunggu di Wright Stop Plaza, disediakan bangku untuk tiap jalur. Dan ada layar yang menunjukkan bis rute apa saja (termasuk jam datangnya) yang akan memasuki jalur tersebut. Saya menunggu sekitar sejam dengan cuaca cukup dingin (untuk ukuran penduduk tropis :D) dan angin yang sedikit menggigit. :D   Sekitar sepuluh menit menjelang kedatangan bis yang dicari, baru sadar ternyata ada ruang tunggu tertutup yang cukup hangat dengan berbagai kedai penganan dan minuman. Hmmfffhh, sayang sekali :(

Senin, 11 Agustus 2014

Benerin Pompa Air

Seminggu terakhir adalah masa suram di rumahku, in term of ketersediaan air. Awalnya kita melihat banjir lokal di area sekitar pompa air. Setelah diselidiki, tebakan pertama kita, kebocoran terjadi pada pipa keluaran yang masuk ke dalam keramik. Dengan asumsi seperti itu, dan dengan kesadaran diri gak mungkin bisa menyemen keramik dengan rapi setelah dibobol, maka kita mencoba menghubungi tukang. Sayangnya ternyata tukang langganan kelihatannya masih libur lebaran.


 Kita coba akalin sendiri. Setelah diraba-raba, sepertinya pipa yang kita suspect sedikit pecah. Akhirnya kita lem dengan lem PVC (Isarplas). Pompa dicoba lagi, ternyata banjirnya malah meluas. Setelah dicek, ada semburan air dari bagian bawah pompa. Mungkin saat kebocoran di tempat lain kita tambal, casing pompa yang sudah tipis karena korosi mengalami pressure yang meningkat sehingga bocor. Sempat terfikir untuk dilem besi atau di-las, tapi setelah googling, ada yang tidak merekomendasikan karena jika sudah korosi, kemungkinan ditambal di satu tempat malah akan bocor di tempat lainnya.

Akhirnya kita putuskan beli pompa baru. Karena males memotong dan menyambung pipa, saya putuskan membeli pompa yang persis sama, yaitu Shimizu PS-128 BIT, harganya 380 ribu. Jadi asumsinya akan memudahkan instalasi karena posisi dan bentuk connector tidak berubah. Sedikit aneh, pada pompa yang baru dibeli tertulis debit 10-18 liter/min, sedang pada pompa yang lama tertulis kapasitas max 34 liter/min. Tapi biarlah.

 Setelah pompa baru dipasang (karena lokasinya di bawah meja kompor, perlu sedikit perjuangan), sempat menyala beberapa macet kemudian macet dan bunyi mendengung sedikit. Kita cek listrik masuk, namun ternyata putarannya seret karena kotoran/pasir. Setelah kotoran kita bersihkan dan dicoba lagi, berulang pompa menyala beberapa menit dan kemudian mati lagi. Cukup aneh karena ini sumur lama dan pompa yang lama tidak pernah bermasalah dengan kotoran/pasir. (atau mungkin impeller dan casing di pompa lama ada celah ya karena aus, sehingga kotoran tidak lagi bermasalah karena bisa nyeplos ?).

Karena lokasi sumur di bawah meja kompor dan malas melakukan effort lebih, diputuskan untuk menyaring air masukan dengan menggunakan kain di sambungan pipa. Sukses pompa air menyala tanpa gangguan, tapi ternyata alirannya sangat pelan. Perlu waktu berjam-jam untuk mengisi toren kapasitas 650 liter (sebenarnya kelihatannya torennya gak penuh-penuh). Berarti setting seperti ini belum ideal.

Terpaksalah dilakukan usaha terakhir. Menarik pipa yang menuju ke bawah (sumur). Walaupun letaknya di bawah meja kompor, untung agak ke pinggir sehingga pipa masih bisa dilendutkan dan ditarik keluar. Selain itu, terpaksa pipa dipotong di satu lokasi karena menarik pipa panjang dari bawah kompor di dalam rumah memerlukan effort tersendiri, mentok ke sana sini. Ternyata total panjang pipa 6 meter. Dulu waktu instalasi pertama gak peduli :D

 Setelah pipa berhasil dikeluarkan, ternyata tidak ada saringan pasir di bawahnya. Hanya ada pipa dengan lubang-lubang di samping (tapi bawahnya tidak ditutup?), dan check valve. Akhirnya kita tambahkan saringan pasir, dan kita install kembali semuanya. Kita coba - oops pompanya gak muter. Terpaksa kita bersihkan dulu area impeller-nya. Setelah itu dicoba lagi, eh airnya gak keluar-keluar walaupun sudah dipancing. Ternyata lupa memasang seal/packing di satu sambungan ....hehehe. Setelah dipasang, alhamdulillah akhirnya airnya mengalir juga. So far pompa gak mati dan aliran ke toren juga lebih baik dari sebelumnya.
 

.: aer :.
www.aer-reborn.blogspot.com