Senin, 11 Agustus 2014

Benerin Pompa Air

Seminggu terakhir adalah masa suram di rumahku, in term of ketersediaan air. Awalnya kita melihat banjir lokal di area sekitar pompa air. Setelah diselidiki, tebakan pertama kita, kebocoran terjadi pada pipa keluaran yang masuk ke dalam keramik. Dengan asumsi seperti itu, dan dengan kesadaran diri gak mungkin bisa menyemen keramik dengan rapi setelah dibobol, maka kita mencoba menghubungi tukang. Sayangnya ternyata tukang langganan kelihatannya masih libur lebaran.


 Kita coba akalin sendiri. Setelah diraba-raba, sepertinya pipa yang kita suspect sedikit pecah. Akhirnya kita lem dengan lem PVC (Isarplas). Pompa dicoba lagi, ternyata banjirnya malah meluas. Setelah dicek, ada semburan air dari bagian bawah pompa. Mungkin saat kebocoran di tempat lain kita tambal, casing pompa yang sudah tipis karena korosi mengalami pressure yang meningkat sehingga bocor. Sempat terfikir untuk dilem besi atau di-las, tapi setelah googling, ada yang tidak merekomendasikan karena jika sudah korosi, kemungkinan ditambal di satu tempat malah akan bocor di tempat lainnya.

Akhirnya kita putuskan beli pompa baru. Karena males memotong dan menyambung pipa, saya putuskan membeli pompa yang persis sama, yaitu Shimizu PS-128 BIT, harganya 380 ribu. Jadi asumsinya akan memudahkan instalasi karena posisi dan bentuk connector tidak berubah. Sedikit aneh, pada pompa yang baru dibeli tertulis debit 10-18 liter/min, sedang pada pompa yang lama tertulis kapasitas max 34 liter/min. Tapi biarlah.

 Setelah pompa baru dipasang (karena lokasinya di bawah meja kompor, perlu sedikit perjuangan), sempat menyala beberapa macet kemudian macet dan bunyi mendengung sedikit. Kita cek listrik masuk, namun ternyata putarannya seret karena kotoran/pasir. Setelah kotoran kita bersihkan dan dicoba lagi, berulang pompa menyala beberapa menit dan kemudian mati lagi. Cukup aneh karena ini sumur lama dan pompa yang lama tidak pernah bermasalah dengan kotoran/pasir. (atau mungkin impeller dan casing di pompa lama ada celah ya karena aus, sehingga kotoran tidak lagi bermasalah karena bisa nyeplos ?).

Karena lokasi sumur di bawah meja kompor dan malas melakukan effort lebih, diputuskan untuk menyaring air masukan dengan menggunakan kain di sambungan pipa. Sukses pompa air menyala tanpa gangguan, tapi ternyata alirannya sangat pelan. Perlu waktu berjam-jam untuk mengisi toren kapasitas 650 liter (sebenarnya kelihatannya torennya gak penuh-penuh). Berarti setting seperti ini belum ideal.

Terpaksalah dilakukan usaha terakhir. Menarik pipa yang menuju ke bawah (sumur). Walaupun letaknya di bawah meja kompor, untung agak ke pinggir sehingga pipa masih bisa dilendutkan dan ditarik keluar. Selain itu, terpaksa pipa dipotong di satu lokasi karena menarik pipa panjang dari bawah kompor di dalam rumah memerlukan effort tersendiri, mentok ke sana sini. Ternyata total panjang pipa 6 meter. Dulu waktu instalasi pertama gak peduli :D

 Setelah pipa berhasil dikeluarkan, ternyata tidak ada saringan pasir di bawahnya. Hanya ada pipa dengan lubang-lubang di samping (tapi bawahnya tidak ditutup?), dan check valve. Akhirnya kita tambahkan saringan pasir, dan kita install kembali semuanya. Kita coba - oops pompanya gak muter. Terpaksa kita bersihkan dulu area impeller-nya. Setelah itu dicoba lagi, eh airnya gak keluar-keluar walaupun sudah dipancing. Ternyata lupa memasang seal/packing di satu sambungan ....hehehe. Setelah dipasang, alhamdulillah akhirnya airnya mengalir juga. So far pompa gak mati dan aliran ke toren juga lebih baik dari sebelumnya.
 

.: aer :.
www.aer-reborn.blogspot.com

Sabtu, 28 Desember 2013

Jalan-jalan Ke Anyer


Liburan kali ini benar-benar tidak direncanakan. Pagi itu tanggal 26 Des, aku sudah mandi bersiap untuk berangkat ke kantor. Baju seragam kerja pun sudah disetrika licin siap untuk dipakai. Tapi godaan istri dan anak-anak akhirnya meluluhkan semangat. Baiklah, aku ngambil cuti,  dan berlibur bersama anak-anak ....horeeee .....

Akhirnya semua bersiap-siap untuk berlibur - entah ke mana :D. Packing seadanya, sekedar bekal satu baju ganti in case baju yang dipakai kotor. Mobil disiapkan, dan kitapun berangkat. Saat keluar kompleks kita masih ragu mau pergi ke mana, kiri atau kanan. Akhirnya kita belok ke kanan, menandakan bahwa kita akan pergi lewat tol JORR, mungkin ke arah Bogor. Mampir sebentar ke Alfa Midi, beli cemilan dan ngambil uang di ATM, tiba-tiba terjadi perubahan rencana. Kita ke arah Barat saja, entah Anyer, Merak atau yang lain.

Wiiiii, mobil pun berputar arah, menuju ke arah Lippo. Kita lewat dalam kompleks Gading Serpong, karena perlu mengisi bensin dulu. Bensin diisi premium 150 ribu, kemudian kita masuk tol Jakarta - Merak, kali ini tumben-tumbennya ke arah Merak :D ... Di jalan kita cap-cip-cup dulu, apakah akan ke Merak terus lanjut nyebrang ke Lampung, atau ke Anyer, atau ke Carita. Akhirnya diputuskan kita ke Anyer. Dan perlu googling dulu untuk mengetahui bahwa untuk ke Anyer kita harus keluar di Cilegon Barat.

Bayar tol dua kali, yang pertama 2 ribu sampai Cikupa, kemudian 34,500 sampai Cilegon Barat. Di beberapa tempat masih ada pekerjaan pelebaran jalan. Tapi alhamdulillah jalanan gak macet, mungkin orang-orang belum mulai berlibur - one step ahead :p. Karena baru pertama kali menyetir
ke arah barat, terasa kurang nyaman, maklum jalan tolnya hanya dua jalur, terasa sempit banget dibanding jalan tol yang ke arah Bogor.

Keluar tol kita mengikuti petunjuk jalan ke Anyer belok kiri, kemudian belok kanan dan mengikuti jalan utama. Sempat agak ragu karena mau ke Anyer kok malah wisata pabrik, karena sepanjang kiri kanan jalan banyak pabrik yang besar-besar. Tapi melihat nama jalannya 'Anyer' dan di depan kita ada mobil pelat B, kita cukup confident.

Sekitar 20 km perjalanan, kita sampai di pasar, dan tiba-tiba mobil pelat B di depan kita belok kanan ke dalam gang sempit - cukup sekitar satu setengah mobil. Di depan gang ada gapura "Pelabuhan Anyer" dan lambang Dinas Perhubungan Laut. Langsung kita ikutan belok. Sampai di ujung jalan ada lapangan kecil, dan ternyata mobil di depan kita juga berhenti celingukan. Akhirnya kita tanya tukang bakso, dan ternyata tempat wisata Anyer masih di depan - jangan belok ke sini. Memang sih di balik lapangan sudah ada laut, tapi ini bukan tempat wisatanya.

Kita balik keluar dan mengikuti jalan utama, sampai akhirnya kita melihat di kanan ada tulisan "Tempat Wisata Anyer". Langsung kita masuk dengan biaya masuk 50,000. Ternyata di dalam tidak ramai. Ada beberapa saung, dan pantai karang dengan ombak mengalun. Kita main ombak sebentar. Tapi melihat fasilitasnya yang minim dan lingkungannya yang kotor, kok ada perasaan tertipu ya.

Akhirnya kembali kita keluar dan melanjutkan perjalanan. Kali ini aku BBM teman nanya tempat yang bagus di Anyer. Disebutkan Marbella dan Nuansa Bali. Tapi kita lanjut dulu, cari makanan. Di sebelah tempat makan kita beli celana selutut, karena kebetulan gak bawa bekal ganti celana.

Habis beli makan kita melanjutkan perjalanan. Kita coba mampir ke Marbella hotel, nanya ke resepsionis, ternyata biayanya 1,2 juta semalam. Hmmm .... agak sayang kalau cuman untuk jalan-jalan iseng. Kita putar balik, mau mampir ke Nuansa Bali, tapi kurang sreg dengan stylenya. Akhirnya kita putuskan menginap di Mambruk Hotel. Biayanya cuma 600 ribu, katanya sih discount 50 persen.

Hotel cukup besar, kita dapat dua lantai, di bawah ruang tamu agak besar dan di lantai atas kamar tidur dan kamar mandi. Lumayan lega untuk berlima. Tapi sayangnya furniture dan perlengkapannya terlihat sudah tua, kudu di-refurbish. Setelah makan bekal yang tadi dibeli di rumah makan, Afnan tidur ditemani ibunya. Aku, Hana dan Qonita keliling-keliling hotel. Lumayan ada playground, catur raksasa, kolam renang dan pantai yang berbatu-batu maupun yang berpasir dan boleh dipakai berenang.

Tapi kita belum puas. Agak sorean kita putuskan keluar mencari pantai pasir putih yang memanjang - inget di Gold Coast :D. Kebetulan sepanjang jalan ada baliho reklame pantai pasir putih, sekitar 4 km dari hotel. Akhirnya kita putuskan mampir ke sana. Lagi-lagi kita harus bayar 50 ribu. Begitu masuk lumayan banyak mobil yang parkir. Tapi kita lihat ke arah barat, kelihatannya sunset akan tertutup oleh pepohonan. Dan di area yang dipakai berenang, airnya terlihat keruh. Sepertinya pasirnya terbawa air. Jadi terkesan pasir di sini adalah pasir yang biasa ada di toko material, bukan pasir alami. Warnanya agak abu-abu tidak putih bersih, dan tidak jernih.

Akhirnya lagi-lagi ada perasaaan tertipu :(. Ternyata di Anyer semua tempat sudah dikapling ya, entah oleh hotel atau oleh swasta lokal. Tidak berlama-lama, kita kembali ke hotel. Sunset kita  habiskan dengan berfoto bersama di hotel. Setelah itu kita kembali ke kamar hotel dan beristirahat. Aku terpaksa tidur di sofa di ruang tamu, karena terdesak oleh Hana - tidur berlima ternyata sempit juga ya :D

Esok paginya aneh hotel di fogging sekitar jam setengah lima. Batal deh rencana menghirup udara pagi yang segar. Tapi jam enam kurang hawa fogging sudah hilang, jadi kita langsung ke pantai. Kita berenang-renang di laut - eh tepatnya berendam aja sih - sampai puas, kemudian mencoba berenang di kolam renangnya. Yah, semua happy.

Selesai berenang kita kembali ke kamar hotel, mandi dan kemudian sarapan pagi di restoran hotel. Jam 9.30 kita check out ke Jakarta. Ternyata perjalanan memakan waktu 2 jam dan menempuh total sekitar 100 km. Beruntung kita liburan duluan, jadi berangkat dan pulang gak kena macet. Sampai di rumah, sholat jumat dulu, makan siang, dan tiduuuur ....hehehe.

.: aer :.
http://aer-reborn.blogspot.com

Sabtu, 15 Juni 2013

Jalan-jalan: Liburan ke Singapura


Setelah sukses jalan-jalan naik pesawat sekeluarga ke Malang, kita merencanakan untuk berlibur sekeluarga ke luar negeri. Langkah pertama yang kita lakukan adalah membuat paspor anak, walaupun sempat tertunda beberapa kali. Pokoknya lumayan juga perjuangannya. Tapi ini langkah yang penting, karena setelah paspor jadi, baru kita mulai berani merencanakan liburan dengan lebih detil.

Seperti biasa, kita sounding ke semuanya (ke Nasri, Hana, Qonita), mana lokasi wisata yang diinginkan. Syarat utamanya yang gampang dijangkau, artinya yang tidak perlu visa. Setelah mengecek obyek wisata apa saja yang bisa dikunjungi, dan mempertimbangkan mengenai masalah makanan (nyari makanan halal), akhirnya kita putuskan untuk berlibur ke Singapura, yei. :D

Langkah kedua adalah memesan tiket - tentunya kita cari tiket konsesi yang gratisan. Sebenarnya pengurusan tiket lancar, apalagi yang ngurusin di TH juga temen, jadi relatif cepat. Tapi bikin kaget juga, karena saat akan issue tiket, ternyata ada biaya tax, dll, yang jumlahnya kalau dikali lima orang jadi di atas satu juta rupiah :(. Kirain kalau gratis, sama sekali gak keluar uang, ternyata gak juga ya. Waktu itu pengurusan tiket selesai di atas jam 2, padahal jam 2 saya ngundang meeting beberapa bos dan orang Boeing. Terpaksa berapologi untuk terlambat datang. Walaupun hanya terlambat 15 menit, gak enak juga karena seharusnya jadi host. :D

Setelah tiket beres, kita mulai mikir hotel tempat tinggal. Seperti sebelumnya, kita menggunakan situs agoda. Kebanyakan hotel agak strict tentang masalah anak (sesuai tulisan di internet, gak tau kenyataannya), maksimal cuma membolehkan tambahan satu anak. Akhirnya kita memilih triple room di V Hotel Lavender, disesuaikan dengan budget, dan memperhatikan adanya buntut 3 orang anak. Jadi kapasitasnya tiga orang, plus boleh tambah satu anak lagi. Sedang Afnan gak dihitung karena masih di bawah dua tahun. Lumayan juga, biaya hotel untuk dua malam sekitar 3,5 juta. Sebelumnya sempat berfikir juga untuk nyari hotel di Johor Baru, karena dengan biaya yang sama bisa diperoleh fasilitas yang lebih bagus. Tapi setelah memperhitungkan jauhnya, dan kerepotan yang mungkin muncul saat menyeberang perbatasan dengan bawaan koper dan tiga anak, kita putuskan tetap memilih V Lavender yang lokasinya cukup strategis.

Sebelum berangkat, kita googling dulu dan menemukan beberapa situs yang lumayan bermanfaaat, seperti:
1. Public Transport : kita bisa mengecek perkiraan biaya transport untuk rute stasiun yang diinginkan, misalnya dari Changi Airport ke Stasiun Lavender berapa biayanya. Jadi kita bisa memperhitungkan budget untuk transportasi di awal.
2. Travel Singapura : Banyak informasi bermanfaat untuk turis yang mau jalan-jalan ke Singapura. Misalnya gimana caranya ke Singapore Zoo, dst.
3. SMRT : Di situs ini kita bisa mengecek biaya transportasi dan juga waktu tempuh. Selain itu juga ada peta jalur MRT yang membantu. Saya pribadi lebih senang situs ini daripada situs Public Transport di atas.
4. Street Directory: Isinya tentang peta Singapura, jadi kalau ingin tahu di area yang dituju ada apa saja, bisa klik situs ini.
5. Wisata Singapura : Informasi tambahan tentang berwisata di Singapura.
6. Situs-situs resmi obyek wisata yang dituju, seperti Singapore Zoo, Sentosa Island.

Jadi persiapan sudah komplit, informasi yang diperlukan juga sudah dikumpulkan. O iya di V Hotel Lavender gak ada internet gratis (kalau mau konek harus bayar), jadi kita print aja informasi-informasi yang kira-kira akan diperlukan.

Gak sabar menunggu tanggal keberangkatan, anak-anak sudah packing duluan. Dan akhirnya tanggal 9 Mei pagi, hari Kamis kita berangkat juga. Ke bandara kita naik mobil, walaupun sempat kepikiran naik taxi, karena dulu ternyata parkir dihitung dua ribu per jam (kalo dikali seminggu lumayan kan :p). Kita ke Terminal 2 karena naik Garuda. Sampai di sana baru ngeh ternyata kalau menginap tidak boleh di parkir biasa, harus ke parkir inap, dan agak jauh dari terminal. Tapi kita memang sudah nge-plan naro mobil di GMF, jadi gak masalah.

Sampai di bandara, masih ada waktu sekitar dua jam. Sengaja kita datang lebih awal agar tidak terburu-buru. Terus langsung check-in biar bisa bersantai. Ternyata walaupun status tiket OK, kita masuk daftar tunggu karena peak season. Petugas check in bilang, untuk tiket konsesi prioritasnya dikebelakangkan (how come ?). Kita diminta menunggu hingga setengah jam sebelum keberangkatan siapa tahu masih ada tiket kosong. Tapi kata petugasnya, peluang untuk memberangkatkan lima orang bersamaan sangat tipis, karena sudah banyak yang masuk antrian. Sebel deh, sempat kepikiran batal aja deh. Tapi hotel sudah booking, bakalan rugi biaya hotel semalam kalau dicancel. Belum biaya tiket yang sudah dikeluarkan (katanya bisa di-refund sih), dan biaya immaterial yang bisa mencapai satu milyar - hehehe.

Akhirnya empat lima menit sebelum keberangkatan, kita check in ulang dengan petugas yang berbeda, sambil complaint berat. Kalau status tiket memang waiting list, seharusnya jangan ditulis OK, karena kalau tidak jadi berangkat kita akan rugi karena sudah booking hotel dan persiapan lain-lain. Gak mungkin kan jumlah tiket OK melebihi jumlah seat. Ternyata entah bagaimana caranya, karena kita complaint atau karena kasihan :D, kita bisa juga berangkat bareng, walaupun duduknya terpisah.

Di pesawat anak-anak gak dapat boneka, berbeda dengan waktu ke Malang (kenapa ya policy nya berbeda). Perjalanan lumayan lancar, dan setelah sampai Changi, anak-anak malah bermain perosotan dulu di Bandara - pokoknya enjoy aja. Kemudian saat lewat imigrasi, lagi-lagi pasporku gak lolos, harus dicek ulang di ruangan khusus. Ini ketiga kalinya di Changi aku mengalami hal yang sama, harus ganti pasport kali ya. Imigrasi dan bea cukai nya gak ribet, kita bawa bekal nasi + lauk bisa lewat tanpa masalah.

Kita jalan ke Terminal 2 pake travellator (mestinya naik Sky Train ya), kemudian beli Ezlink (ternyata lima dollarnya gak bisa dibalikin). Pokoknya kita bayangin untuk perjalanan nanti pake Ezlink paling gak ribet, biarin lima dollar nya hilang. Kemudian kita naik MRT transfer di Tanah Merah, dan akhirnya sampai di V Hotel Lavender. Kita mendapat kamar di lantai lima. Suasananya cukup ramai. Setelah istirahat sebentar, kita nyoba melihat kolam renang sebentar bersama Hana dan Qonita, lokasinya di lantai 4. Sayangnya ternyata tidak ada yang khusus untuk anak, semua kedalamannya kira-kira sedada orang dewasa.

Kemudian sorenya kita ke Merlion Park, cuma tiga stasiun dari hotel, turun di Raffles Place. Di Merlion Park kita cuma sekedar berfoto di depan patung singa, terus pulang lagi. Soalnya masih lumayan capek. Makan malam untuk hari pertama, kita masih cukup makan bekal yang dibawa dari Jakarta.

Hari kedua pagi-pagi kita beli makan di bawah hotel di Ananas Cafe, cuman dua dollar dapat nasi lemak - sangat murah :D, karena bayangan kita harga makanan sekitar lima dollar. Rencana kita hari ini adalah ke Singapore Zoo. Jadi sekitar jam delapan pagi kita berangkat. Naik MRT, kemudian transfer di City Hall dan turun di Ang Mo Kio. Kalau dari Googling sebelumnya, kita harus lanjut naik bis. Ternyata di stasiun ada 'calo' yang menawarkan tiket Singapura Zoo dengan harga yang sama (Sin $27 untuk dewasa dan Sin $17 untuk anak), namun gratis diantar naik mobil mirip Elf ke Singapore Zoo. Kita terima saja, daripada repot ke terminal (harus nyebrang jalan) dan nambah biaya untuk bis.

Di Singapura Zoo kita keliling-keliling. Karena capek, kita naik trem (sudah include di harga tiket). Tapi kalau naik trem, ternyata binatang yang kelihatan cuma sedikit. Akhirnya kita ulang lagi berputar dengan jalan kaki, capeekkk :D. Kalau dibanding-bandingin sebenarnya lebih menarik Secret Zoo di Malang, karena binatangnya kelihatan lebih lincah, dan jarak antar binatang berdekatan. Kalau di Singapore Zoo terlalu banyak pepohonan (mungkin binatangnya senang), tapi jarak antar binatang berjauhan sehingga capek jalan. Afnan paling tertarik waktu melihat badak dan jerapah. Sebenarnya kita ngincer gajah, tapi ada di pojokan yang agak jauh, dan waktu udah dekat dengan gajah, Afnan nya malah tidur :D.

Agak siangan karena laper kita mulai nyari makanan. Sebenarnya ada restoran Ah Meng yang jual nasi lemak, tapi karena pakai nama Cina, kita jadi ragu-ragu halal atau tidak. Akhirnya kita cuma makan burger di KFC yang memampang status halal MUI Singapura. Dari Singapura Zoo kita pulang naik bis ke Stasiun Ang Mo Kio dan mampir ke Orchard Road. Foto-foto sebentar, kita mampir ke Lucky Plaza dan makan lagi (soalnya yang di KFC tadi gak nendang :D). O iya, ternyata di Lucky Plaza ada mushola di lantai delapan (di atap gedung), walaupun kecil lumayanlah.

Hari ketiga kita ke Sentosa Island. Koper kita titipkan di hotel, karena kita checkout pagi (untung kita googling jadi tahu kalau koper bisa dititipin di hotel ini). Kemudian kita naik MRT, transfer di Outram Park dan turun di Harbour Front. Kita masuk mall Vivo City, dan sempat bingung. Ternyata karena kita ke Sentosa Island lewat Sentosa Boardway, cukup dari lantai satu tidak perlu naik ke lantai dua (untuk monorail/Sentosa Express). Lewat Sentosa Boardway kita ngeliat-ngeliat laut, lumayan jauh jalannya sekitar setengah kilo, tapi ada travellator. Kalau lewat Sentosa Boardway, biayanya Sin $1 per orang.

Di Sentosa Island kita foto-foto di depan Universal Studio (gak masuk :p--), jalan sambil ngeliat-ngeliat, dan berakhir di Pantai Siloso. Seneng juga anak-anak main di pantai, walaupun sebentar. Hebatnya Sentosa Island, ada mushola yang gak pake ngantri (yang sholat dikit, hehehe), disediain mukena, dan di petanya ditulisin mana tempat makan yang halal (walaupun sekarang kita bawa bekal - beli makanan di hotel, khawatir bingung lagi nyari makanan halal - soalnya 'ngeh'nya sama peta belakangan). Karena capek, pulangnya kita naik Sentosa Express dari Beach Station. Ternyata untuk arah pulang gratis gak pake bayar. Dan karena bawa Afnan (bayi) kita didahulukan naik kereta sama petugasnya. Superr deh.
 
Sampai kembali di Vivo City, jalan sedikit ke Stasiun Harbour Front, terus mampir sebentar ke hotel Lavender mengambil koper (saya aja yang keluar), langsung lanjut ke Changi. Sampai di Changi, Ezlink kita tukerin, sambil kita sisain satu untuk kalau kapan-kapan ke Singapura lagi, terus kita naik Sky Train ke Terminal 3 (note: kapan-kapan kalau banyak waktu perlu explore, kayaknya di Changi banyak place of interest juga untuk anak-anak). Di Changi waktu boarding ternyata Afnan gak diduluin sama petugasnya :(, walaupun bayi. Mungkin kita kelewat waktu denger panggilan untuk penumpang yang membawa bayi, yang jelas kita gak boleh lewat jalur penumpang Gold/business class.

Kita naik PK-GFM (livery Garuda yang lama), kebetulan registrasinya kelihatan karena ternyata di Soekarno Hatta saat landing gak pake garbarata (tumben banget). Pulang, ngambil mobil dulu di GMF kemudian jemput di bagian arrival. Agak crowded juga karena harus masuk parkir dan agak macet, apalagi cuacanya hujan. Belakangan baru tahu kalau driver GMF biasanya menjemput tamu di bagian departure (janjian dulu), karena tidak crowded. Jadi kapan-kapan kalau njemput keluarga datang, mending disuruh ke bagian departure - biar gak kena antri.

.:aer:.
http://www.aer-reborn.blogspot.com

Sabtu, 27 April 2013

Bikin Paspor Anak


Iseng-iseng, mumpung lagi ngetrend :D, kita ikutan bikin paspor untuk anak. Berbekal informasi dari teman, kita mencoba membuat paspor anak secara online lewat situs http://ipass.imigrasi.go.id:8080.  
Jadi kita mulai dari menu "Pra Permohonan Personal". Untuk No Identitas, kita isi NIK anak seperti yang tertulis di Kartu Keluarga. Kemudian kita attach dokumen Kartu Keluarga, KTP Orang tua dan Akte Kelahiran anak. Terus, tanda terima pra permohonan kita print untuk dibawa ke Kantor Imigrasi. Waktu itu kita memilih membuat paspor di Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta karena dekat kantor. Tanggal yang dipilih 14 Maret 2013 sesuai keluangan waktu.

Tepat pada hari H nya, kita sekeluarga berangkat ke kantor imigrasi. Karena rombongan tiga anak, termasuk bayi - sehingga repot persiapannya, akhirnya kita baru sampai kantor imigrasi hampir jam 8. Parkiran udah lumayan penuh, tapi kita masih bisa nyempil. Begitu masuk ke ruang tunggu ternyata sudah penuh, dan ada tulisan untuk pendaftar online dijatah 50 orang, dan pendaftar non online juga dijatah 50 orang. Setelah ditanyakan ke petugas, ternyata jatahnya sudah habis, terpaksa deh balik kanan, pulang lagi.

Gak mau putus asa, kita ulang pendaftaran online. Kali ini kita mendaftar untuk tanggal 12 April 2013, dan untuk kantor imigrasinya kita pilih Kantor Imigrasi Tangerang, dengan harapan tidak terlalu ramai. Dengan persiapan yang lebih baik, kita berhasil sampai di sana jam 7 pagi. Belum terlalu ramai, tapi kantornya baru buka jam 7.30, jadi kita menunggu dulu. Setelah kantor buka, kita diarahkan untuk membeli formulir di koperasi dan mengisinya dengan materai 6000 rupiah per satu paspor. Formulir yang diisi khusus untuk pembuatan paspor anak (di bawah 17 tahun).

Dokumen yang diperlukan juga kita fotocopy di koperasi. Sebenarnya kita sudah mempersiapkan foto copynya, namun hanya satu lembar, padahal kita akan membuat tiga paspor untuk Hana, Qonita dan Afnan.

Kalau di pengumuman, dokumen yang diperlukan untuk pembuatan paspor anak adalah Akte lahir, KTP orang tua, Kartu keluarga, STTB/Ijazah atau akte lahir orang tua, Surat nikah orang tua dan foto copy paspor orang tua yang masih berlaku. Waktu itu kita tidak membawa STTB/ijazah dan akte lahir orang tua, namun saat ditanyakan ke petugas ternyata tidak masalah.

Sekitar jam 8 formulir yang telah diisi lengkap kita kumpulkan, dan 30 menit kemudian kita dipanggil untuk mendapatkan nomor antrian. Sekitar jam 9, nomor kita dipanggil ke loket untuk penyerahan berkas. Saat itu petugas yang menerima menyampaikan bahwa foto bisa dilakukan besoknya. Duh sia-sia deh cuti sehari. Setelah sedikit berargumen, petugas menyampaikan memang begitu prosedurnya, kecuali kalau pendaftaran online baru bisa foto hari yang sama.

Langsung kita sambar, dengan menyampaikan bahwa kita mendaftar secara online. Tapi baru ngeh, waktu submit dokumen ternyata kita lupa melampirkan tanda terima pra pendafatran yang didapat waktu mendaftar online. Duh terpaksa kita submit ulang dokumennya - karena jalur antrian pendaftar online dan non online berbeda. Untungnya untuk pendaftaran online kita langsung mendapat nomor antrian, dan untungnya lagi pendaftarnya tidak sepadat di bandara. Kalau di kantor imigrasi bandara udah wasalam deh, kalau baru submit jam 9.

Menjelang jam 10, nomor kita dipanggil dan menyerahkan dokumen. Petugas menyatakan bahwa biasanya nomor antrian pembayaran keluar siang, namun karena khusus siang ini mereka ada acara keluar, nomor antrian keluar 30 menit lagi. Jam 10.30 nomor antrian Qonita dan Afnan keluar, namun nomor antrian Hana belum keluar juga. Setelah kita tanya ke beberapa petugas, akhirnya nomor antrian Hana keluar juga jam 10.45, entah tadi nyangkut di mana, terpaut sekitar 10 nomor antrian dengan Qonita/Afnan. O iya kita harus menggunakan bar code ke sebuah mesin pemindai untuk mendapatkan nomor antrian setiap proses, mulai pembayaran, pemotretan, sampai pengambilan paspor yang sudah jadi.

Kita agak gugup dan pingin buru-buru karena mengira siang ini kantor imigrasi tutup, keluar semua, sehingga khawatir proses foto tidak selesai - alamat harus cuti lagi. Alhamdulillah belakangan ternyata kita ketahui siang itu proses foto tetap berjalan.

Jam 11 Qonita dan Afnan dipanggil untuk pembayaran paspor. Dua ratus ribu untuk paspor 48 halaman dan 55 ribu untuk proses foto dan sidik jari. Tadinya kita berniat bikin paspor yang 24 halaman saja, karena toh sepertinya paspor ini tidak akan sering dipakai. Tapi ternyata sekarang paspor 24 halaman (harganya cuma 50 ribu) hanya untuk TKI, begitu informasi yang kami dengar.
Kurang lebih jam 11.30, baru Hana dipanggil untuk melakukan pembayaran. Setelah itu kantor imigrasi tutup untuk istirahat. Saya sholat Jumat, makan, dan menunggu kantor buka lagi. Alhamdulillah anak-anak gak rewel. Kita sempat membawa bola sehingga Afnan cukup mendapat asupan mainan :D

Siangnya kantor imigrasi buka jam 13.30 dan karena masih banyak yang harus foto, akhirnya petugas berinisiatif membuat tempat foto tambahan di lantai dua. Hana kebagian difoto di lantai dua ditemani ayahnya, sedang Afnan dan Qonita difoto di lantai satu bersama dengan ibunya. Akhirnya sekitar jam 3 sore perjuangan selesai dan paspor dijanjikan jadi dalam waktu tiga hari.

Begitu keluar kantor imigrasi, datang telfon dari bos, komplain kok susah ditelfon. Baru ngeh, ternyata di dalam kantor imigrasi Tangerang, sinyal Telkomsel tidak bisa ditangkap. Sedang BB yang menggunakan 3 ternyata aman-aman saja.

Hari Selasanya, tanggal 16 April, jam 12.30 siang saya sudah berada di kantor imigrasi. Namun ternyata mesin pengambil nomor antrian baru berfungsi jam 13.00, jadi terpaksa menunggu sebentar. Setelah mendapat nomor antrian, kira-kira setengah jam kemudian kita dipanggil dan selesailah proses pembuatan paspor. O iya petugas meminta kita meng-copy paspor tersebut dan menyerahkan foto copynya.

Alhamdulillah kelar juga, sekarang tinggal berfikir, kira-kira mau jalan-jalan ke mana ya :D

.: aer :.
www.aer-reborn.blogspot.com

Jumat, 08 Februari 2013

How Lucky We Are in Engineering Service

Sekedar untuk record, berikut kira-kira transcript sharing session waktu Kick off TE 2013 di kantor. Hihihi, iseng banget ya pake dicatet .....

Mungkin banyak yang heran, mengapa saya berbicara di sini - bahkan saya sendiri juga heran. Motivator ulung bukan, pakar SDM bukan, orang sukses juga bukan. Kenapa bukan Mario Teguh, atau Ari Ginanjar, Tung Desem, atau tokoh besar lainnya. Namun jika kita mengambil sisi positif, karena yang berbicara adalah orang biasa, maka kita menjadi tidak berjarak. Dan apa yang disampaikan menjadi sesuatu yang terjangkau untuk dilakukan.

Sebagai contoh jika kita mendengar cerita bahwa Nabi Muhammad selalu sholat malam hingga kakinya bengkak. Mungkin kita akan mengatakan hebat, namun kemudian kita membatin bahwa dia kan Nabi, memang orang hebat, sedang kita orang biasa. Akibatnya bisa jadi kita tidak tergerak untuk menirunya karena terlalu jauh. Bandingkan jika kita mendengar cerita, rekan kita yang selalu rutin sholat malam walaupun capek habis kerja lembur - pulang malam. Wah yang terbayang mungkin, beliau saja bisa, mestinya kita juga bisa. Tidak ada jarak. Atau kalau kita dengar Ical (Aburizal Bakrie) membeli mobil Ferrari, mungkin kita merasa biasa aja, paling cuman bergumam, wajar Ical kan konglomerat. Nah kalau tiba-tiba tetangga sebelah, atau seorang engineer muda membeli Ertiga, mungkin kita langsung 'spark', dia saja bisa, mestinya kita juga bisa.
Jadi di sini kita coba melakukan pembicaraan yang mungkin ecek-ecek, namun mudah-mudahan terjangkau untuk kita ambil pelajaran darinya. Tentu cerita tentang tokoh-tokoh hebat juga perlu untuk mengeset tujuan idealnya, tapi biarlah panitia mengalokasikan hal itu di waktu dan kesempatan yang lain.

Ada tiga hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini, tanpa perlu berpanjang lebar.
YANG PERTAMA, KITA BERUNTUNG KARENA PEKERJAAN DI ENGINEERING (TE) MULTI TASKING. Dengan demikian kita dapat mencari tugas yang dapat membakar motivasi kita, tugas yang inspiring dan memberikan passion. Bayangkan jika setiap hari pekerjaan anda sama, tentu akan terasa monoton dan membosankan. Sedang di TE, saat bosan dengan pekerjaan membuat EO, tiba-tiba terdengar ada pesawat tertabrak truk lavatory, kita bisa jalan-jalan ke apron. Capek panas-panasan di apron, kita bisa kembali ngupi di ruangan sambil menyiapkan perhitungan weight report untuk salah satu customer. Kalau kemudian masih ada sisa tenaga, silakan putar otak untuk memikirkan proyek DOA. Sangat variatif.

Intinya, dalam bekerja cari apa yang bisa memberikan passion, maka kita akan bekerja dengan performa terbaik. Dan di TE kesempatan untuk mendapatkan passion tersebut cukup besar karena bervariatifnya pekerjaan yang diberikan. Memang bukan berarti kita pilih-pilih pekerjaan. Namun tidak ada salahnya kita diskusi dengan coach untuk membalancing pekerjaan kita. Bisa saja kita bilang, coach kalau disuruh ngerjain EO, saya sebulan belum tentu kelar, tapi kalau disuruh mengerjakan proyek DOA, saya jamin dalam dua hari semua selesai lengkap dengan SA, SB dan ICA nya. Untuk case seperti ini, bisa saja kemudian kita adjust workload pekerjaannya, misal EO : DOA = 1 : 3 :D - tergantung kebijaksanaan coachnya.

Terkait pilih-pilih pekerjaan, balancing; saya mengibaratkan pekerjaan dengan makanan, di mana ada makanan yang cepat basi, ada makanan yang bergizi dan ada makanan yang enak dan mudah disantap. Makanan yang cepat basi saya maksudkan dengan pekerjaan yang deadline nya ketat, dan ini harus disegerakan untuk dikerjakan - suka atau tidak. Makanan bergizi adalah pekerjaan yang nilai tambahnya besar, misal yang memiliki bobot tinggi dalam IPP atau yang banyak disorot atasan, ini juga perlu diperhatikan. Makanan yang enak dan mudah disantap adalah pekerjaan yang sesuai dengan passion kita, sehingga kita mudah melahapnya. Ini kita kerjakan di waktu-waktu yang berat untuk dapat ignite dan men-charge kembali semangat kita. Idealnya makanan yang enak itu juga bergizi tinggi dan tidak cepat basi. Namun di dunia ini memang tidak ada yang ideal, jadi silakan memilih.

Jadi temukan passion anda. Ada orang yang rela ngulik program semaleman karena memang passionnya melakukan coding. Begitu dia berhasil menemukan kesalahan algoritma programnya, wuih rasanya puas banget. Jadi apa passion anda ? Jika setelah sekian lama bekerja di GMF, anda tetap belum mendapatkan passion, coba cari sekali lagi :D, kalau ternyata masih susah juga, cari lagi deh :D, kalau masih gak dapet juga, mungkin anda bisa propose suatu proyek di TE yang sesuai dengan passion anda, kemudian anda lead proyek tersebut.

YANG KEDUA, KITA BERUNTUNG BANYAK MASALAH DIKIRIM KE TE UNTUK DISELESAIKAN. Masalah, sebenarnya adalah panggung yang disiapkan bagi kita untuk tampil ke depan. Semakin besar masalah yang kita hadapi, semakin besar peluang kita untuk muncul. Sebagai contoh di GMF, kalau masalahnya ringan, paling kita hanya cc level Manajer atau PM. Begitu masalahnya agak berat, GM mulai di-cc. Tambah berat lagi masalahnya, yang di-cc pun makin tinggi levelnya, hingga ke VP, naik lagi ke DL, DT dan DE. Bayangkan seorang seniman yang tentunya mengharap-harap datangnya kesempatan tampil di atas pentas. Begitulah kita mensikapi datangnya masalah, ketimbang merutukinya.

Dengan mendapatkan masalah, kesempatan tampil sudah datang, tinggal bagaimana kita memainkannya. Di sini bagusnya kita dan jeleknya kita akan lebih cepat dilihat orang. Jadi ada baiknya, sebelum kesempatan tampil itu muncul, kita sudah mempersiapkan diri dengan baik. Dari sisi kompetensi kita perbanyak membaca dan memahami referensi, kita perbanyak pengalaman di lapangan, kita perbanyak jaringan pertemanan kita. Pokoknya saat bekerja maupun saat tidak bekerja, harus terus memberi nilai tambah bagi diri kita untuk menghadapi pekerjaan berikutnya.

Dan sebenarnya setiap masalah selalu memiliki solusi, hanya terkadang kita belum mengetahuinya. Saat di depan kita ada tembok dan kita disuruh melewatinya, mungkin kita langsung menyerah dan menyatakan tidak mungkin. Orang yang sedikit cerdas akan menjawab saya mencoba melompatinya namun terlalu tinggi. Orang yang lebih cerdas mengatakan saya sudah membawa tangga, namun tembok itu tingginya 10 meter dan tangganya kurang panjang. Saat dijawab pinjam saja buldozer dan hancurkan temboknya, mereka mungkin menjawab, oh boleh dirusak toh temboknya, saya kira tidak boleh. Artinya pikiran mereka telah membatasi solusi apa saja yang boleh dilakukan, tidak berani berfikir out of the box. Mirip dengan jangkrik yang disimpan dalam kotak, begitu kotaknya dibuka jangkrik itu tetap hanya mampu melompat setinggi kotak. Karena fikirannya terbiasa terkungkung, dia tidak mampu berfikir lebih lepas.

Dalam konteks di GMF, misalnya ada tawaran modifikasi untuk pesawat registrasi FAA. Mungkin kita langsung menjawab, gak mungkin soalnya DOA kita hanya approve DKUPPU. Tapi kalau mau mengambil jalan memutar, bisa jadi pekerjaan tersebut bisa kita lakukan dengan bekerja sama dengan DER. Hanya sekedar contoh bahwa ada banyak jalan ke Roma dan perlunya kita memperluas cakrawala dan wawasan.

YANG KETIGA, KITA BERUNTUNG KARENA KITA MASIH BARU DI TE. Ada yang baru masuk TE, ada yang baru diangkat jadi pegawai tetap di TE, ada yang baru menjadi manajer di TE, dst. Dalam salah satu rubrik pengembangan diri, disebutkan ada yang namanya beginner's luck, yaitu orang masih besar toleransinya terhadap performa pendatang baru. Jika melakukan kesalahan, masih dimaklumi. Tentu jika performanya bagus akan menjadi kredit tersendiri. Namun demikian bukan berarti kita boleh berbuat salah terus dan mendapatkan excuse, tetapi kita jadi berani berbuat salah. Atau kalau kita penggal, kita jadi berani berbuat.

Keberanian berbuat adalah salah satu point penting untuk kemajuan, walaupun mungkin sesekali salah, asal kemudian belajar dan tidak diulangi. Saya ingat pertama kali membuat EIS, pertama kali melakukan damage assessment ke apron, boleh dibilang lama dan tidak efisien. Tapi itulah ongkos dari sebuah pembelajaran. Makin cepat kita berbuat kesalahan, makin cepat kita belajar untuk melakukan sesuatu dengan benar.

Minggu, 08 Juli 2012

Jalan-jalan: Liburan ke Batu, Malang

Liburan kali ini kita berencana memanfaatkan tiket gratis Garuda. Lumayan juga, karena selama ini kita belum pernah pergi sekeluarga naik pesawat. Beberapa minggu sebelum liburan kita memilih beberapa kandidat tujuan, yaitu Malang, Bukit Tinggi dan Lombok. Kita coba googling, tempat wisata apa saja yang ada di sana. Setelah ketemu apa saja yang bisa dikunjungi di sana, dilakukanlah voting. Dan ternyata terpilihlah Malang sebagai tujuan wisata kali ini.

Setelah tujuannya sudah jelas, aku mulai booking tiket. Lumayan gak smooth (harus dua kali booking), tapi akhirnya berhasil juga dapat tiket konsesi. Setiap satu tiket harus membayar tax Rp.10,000 (termasuk Afnan). Sebelum tiket pesawat confirm, kita juga booking hotel lewat web Agoda. Awalnya kita berencana menginap di UMM Inn. Tapi walaupun di Agoda sudah confirmed, saat menelfon langsung hotelnya, ternyata katanya kamar sudah penuh. Akhirnya kita booking hotel Kartika Wijaya, bayarnya Rp. 1.750.000 untuk dua malam.

Tanggal 30 Juni, Sabtu pagi kita berangkat ke bandara. Setelah memarkir mobil dan check-in, kita menunggu sebentar untuk kemudian boarding pesawat PK-GHX (B737-300), jam 11.20. O, iya di bandara Soekarno-Hatta, biaya tax nya Rp.40.000 setiap orang, jadi total Rp.160.000 tidak termasuk Afnan. Kita harus naik bis dulu sebelum sampai ke pesawat. Di pesawat, ayahnya sempat deg-degan, takut anak-anak rewel atau ngerepotin. Ternyata semua ceria selalu. :D - walaupun Hana agak khawatir - permennya gak dimakan-makan karena nungguin pesawat take off. Soalnya ayah ngingetin kalau waktu take off, kuping sakit, makan aja permennya.

Di pesawat, anak-anak dapat boneka monkey - tambah senang deh naik pesawat, sedangkan bayi dapat perlengkapan bayi (pampers, tissue basah, bedak, dll), dan karena perjalanan cuma 90 menit, kita cuma mendapat roti, tidak mendapat makan nasi. Qonita duduk dekat jendela dan meja makannya agak rusak sehingga sering terbuka sendiri - untung gak niban kepala.

Sampai di Bandara Abdul Rachman Saleh (Malang), kita naik taksi menuju hotel. Taksi di Bandara tersebut cukup teratur - gak secrowded di Bandara Soekarno-Hatta, walaupun penyebabnya karena di-'monopoli' koperasi TNI AU.

 Perjalanan ke hotel sekitar 90 menit, jadi kita sampai di hotel sekitar jam 3 sore. Tapi perjalanan terasa panjang, apalagi taksinya lewat jalan tikus, jadi kerasanya kok jalanan di Malang kecil-kecil. Ternyata taksinya sengaja menghindari macet. Sampai di hotel, kita check-in, terus berasa sedikit aneh, kok gak dianter/dibawain barangnya, waktu masuk kamar. Ah mungkin waktu itu pegawainya lagi pada sibuk.

Sampai di kamar, kita makan siang bekal yang dibawa, kemudian istirahat sebentar. Setelah sholat Ashar, kita beramai-ramai ke kolam renang. Tapi karena sudah sore, hawanya terlalu dingin, sehingga kita gak kuat berlama-lama di dalam kolam renang. Akhirnya balik ke kamar, mandi dan makan malam di hotel - menunya nasi goreng Kartika, artinya banyak lauknya. O, iya air panas di kamar mandi terkadang habis sehingga kita harus komplain ke resepsionis. Menurut resepsionis penyebabnya karena ada heater yang rusak di gedung baru dan penghuni yang penuh, sehingga harus 'berebut' air panas.

Besok paginya, kita jalan-jalan ke Jatim Park 1. Kita berangkat naik taksi, bayarnya Rp. 30.000, paling 10-15 menit dari hotel. Sampai di sana, kita memilih tiket terusan Jatim Park 1 dan Jatim Park 2 (Batu Secret Zoo dan Museum Satwa), harganya Rp. 120.000 per orang, lebih murah dibanding beli tiket satuan Jatim Park 1 dan Jatim Park 2.

Di Jatim Park 1 kita mengikuti track yang disediakan, mulai dari pelajaran, seperti Ethnic Gallery, Science Centre dan History Park, kemudian masuk ke wahana permainan anak-anak, seperti Mini Jet, Sky Copter, Midi Skater, Convoy Car. Di area ini tidak terlalu banyak antrean, sehingga anak-anak bisa mencoba banyak permainan. Kemudian kita masuk ke area permainan yang lebih serius - tapi karena ibunya dan Afnan gak mungkin ikut, Hana & Qonita juga gak bakalan, dan ayahnya juga gak terlalu pingin, apalagi lumayan ngantri, gak ada permainan serius yang dicoba :D. Akhirnya kita cuman nyempetin masuk Ghost Mansion, yang ketakutan cuma Hana dan Qonita. Waktu mau nyoba Bioskop 3D, ternyata antrean terlalu panjang sehingga kita batalkan, takut gak sempat ke Jatim Park 2. Kita juga gak jadi makan di Jatim Park 1, karena tempat makannya penuh sehingga gak kebagian meja.

Siangnya kita menuju Jatim Park 2, naik kereta gratis. Tapi karena gak ada jadwalnya, kita harus menunggu lebih dari setengah jam sebelum kereta berangkat. Di Jatim Park 2, kita mengunjungi Batu Secret Zoo. Sebenarnya Batu Secret Zoo cuman kebun binatang, tapi binatangnya cukup beragam, dan penataannya lebih menarik dibanding kebun binatang kebanyakan, seperti Ragunan. Selain itu ada banyak pengetahuan tentang binatang ditempel. Sayang hari sudah siang, sehingga kita agak terburu-buru. Kemudian kita makan siang di area Fantasy Land. Sebenarnya rame juga, tapi karena gak ada pilihan lain dan hari sudah bener-bener siang, kita paksakan makan di sana. Di Batu Secret Zoo ada banyak wahan permainan juga dan juga ada kolam renang seperti di Jatim Park 1. Tapi gak ada yang kita coba karena takut kesorean.

Dari Batu Secret Zoo, kita menuju Museum Satwa, isinya diorama binatang-binatang. Cukup bagus diorama yang ditampilkan, walaupun kita cuma sekilas saja mengunjungi museum itu. Setelah difikir-fikir, kelihatannya ada banyak irisan antara Batu Secret Zoo dengan Jatim Park 1, yaitu banyak wahana permainan dan kolam renang. Jadi rekomendasi kita, kalau cuma sehari, lebih baik mengunjungi Batu Secret Zoo + Museum Satwa, jadi kita dapat kebun binatang + wahana permainan + kolam renang. Kalau Jatim Park 1 isinya etnik+science+sejarah plus wahana permainan dan kolam renang. Kalau mencoba mengunjungi dua tempat dalam satu hari, jadi agak terburu-buru.

Kita pulang saat magrib, dan jalanan di depan Jatim Park 1 benar-benar macet. Ada satu taksi sempat kita pesan, saat kita ketemu taksinya, dia menolak karena tujuan kita ke Batu bukan ke Malang. Akhirnya terpaksa naik ojek ke hotel, dua ojek bayarnya Rp. 40.000 (lebih mahal daripada taksi :D). Ternyata benar, transportasi menjadi salah satu masalah. Kalau charter mobil, kita merasa sayang karena hanya berkunjung ke dua tempat. Next time, kalau kita berniat wisata alam di Batu/Malang, mungkin lebih baik charter mobil untuk keliling-keliling.

Hari ketiga, paginya kita hanya menghabiskan waktu di hotel. Sebenarnya pemandangan di hotel cukup bagus, dengan latar belakang Gunung Arjuno. Di hari ketiga ini, anak-anak bermain outbond mini yang disediakan di hotel.

Setelah puas bermain, jam sepuluh kita check out dari hotel dan menuju bandara. Kita pulang naik mobil charteran walaupun lebih mahal (Rp. 175.000), dengan pertimbangan lebih nyaman kalau berniat mampir-mampir. Tapi paling kita cuma mampir ke bank, tempat beli oleh-oleh, dan tempat beli makan siang. Pulang ke bandara kita lewat rute jalan besar, bukan jalan tikus lagi, sehingga melewati UMM, Unisma, Univ Brawijaya, Poltek Malang. Ternyata kampus di Malang berada pada satu area ya.

Di Bandara Abdur Rachman Saleh, kita check in dan menunggu sebentar, pesawat terbang jam 13.35. Di bandara ini, airport tax cuma Rp. 11.000. Tidak berbeda dengan waktu berangkat, kita naik PK-GHX lagi, namun kali ini kita di baris ke-12 (waktu berangkat di baris ke-10). Dan waktu penerbangan pulang ini, Hana sempat mencoba pipis di toilet pesawat. Berarti udah betah ya. Tapi ada yang sedikit mengganggu, ternyata Garuda tidak standar ya. Waktu berangkat, Afnan dapat perlengkapan bayi, tetapi waktu pulang tidak. Sedang Hana dan Qonita tetap mendapat permainan, tapi kali ini mereka memilih puzzle dan mobil-mobilan, biar sedikit berbeda.

Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, kita mengambil bagasi dan pulang. Ternyata parkir 2 malam di bandara cukup mahal ya, sekitar Rp. 120 ribuan, pokoknya dua ribu per jam. Next time kalau ada rencana bepergian cukup lama, perlu dipertimbangkan menggunakan taksi daripada menginapkan mobil di bandara. Alternatif lain, taro mobil di kantor, jadi waktu pulang aku naik ojek dulu ke kantor untuk ngambil mobil, baru kemudian yang lain naik mobil.

Sekian :D:D:D

Note: Tentang Hotel Kartika, nilai plusnya ada fasilitas bermain outbond, kolam renang, pemandangan yang bagus. Sedang nilai minusnya saat datang tidak ada yang mengantar ke kamar, heaternya sedang bermasalah sehingga terkadang harus menunggu 15 menit dulu agar airnya kembali panas, ada majalah misionaris di kamar.

.: aer :.


Rabu, 02 Mei 2012

Even Eagles Need A Push - Menapak Tilas Seribu Hari di GMF

Tanggal 1 Mei kemarin, genap 1000 hari saya bekerja di GMF. Menapak tilas perjalanan selama 1000 hari ini ada beberapa kata kunci yang tertanam kuat di benak. Pertama adalah tuntutan dedikasi, kedua tuntutan kompetensi dan yang ketiga adalah kesediaan untuk saling sharing.

Hari pertama bekerja di GMF, tuntutan dedikasi ini terasa sangat kuat. Ceritanya saya langsung diajak untuk ikut menimbang pesawat B747-300 milik Max Air, yang akibatnya harus pulang malam. Dan karena belum familiar dengan rute perjalanan pulang (rumah di Bogor, kerja di Cengkareng), akhirnya saya ketinggalan bis terakhir (yang saya tahu) menuju rumah. Akhirnya terpaksalah menginap di rumah saudara di Tangerang. Jadi hari pertama kerja saya sudah langsung tidak bisa pulang ke rumah.

Tuntutan akan kompetensi yang tinggi mulai terasa saat minggu kedua saya harus melakukan inspeksi scratch/bulging pada B737-300 milik Garuda di apron (terminal 3, G-15) bersama seorang mechanic. Di sini tantangannya adalah, saya belum terlalu familiar dengan manual (SRM), namun sudah dituntut untuk mengambil keputusan secara mandiri. Berbeda dengan case di hangar, di mana kita mudah bolak-balik ke ruangan kantor untuk mencari referensi atau berdiskusi dengan rekan kerja; di apron kita dituntut untuk mampu mengambil keputusan langsung.

Waktu terus berjalan... Untuk meningkatkan kompetensi, secara pribadi saya memutuskan tidak boleh ada waktu terbuang percuma. Setiap kondisi 'idle' (saat tidak ada penugasan/case), gunakan waktu untuk membaca manual/referensi, bahkan gunakan juga waktu-waktu saat perjalanan pulang di bis - kecuali tentunya kalau kantuk sudah tak tertahankan. Pernah akhirnya saya ketemu seorang alumni PN-ITB di bis yang saling menyapa hanya karena dia melihat saya membaca manual - namun sayang saya lupa namanya.

Namun hal ini tidak berjalan lama. Karena melihat tuntutan dedikasi yang tinggi, tidak lama kemudian saya memutuskan untuk kost di Tangerang, bahkan akhirnya saya sekeluarga memutuskan pindah ke Tangerang. Bisa dibilang sebagai engineer kita harus siap on call 24 jam jika ada case, walaupun memang tidak setiap hari ada case. Jadi tinggal di Tangerang kelihatannya adalah pilihan yang paling masuk akal.

Tantangan berikutnya muncul saat dinas luar ke Balikpapan - ini adalah dinas luar yang pertama. Saya ditugaskan menangani damage pada B737-300 milik Cardig Air yang rusak karena tertimpa gulungan kabel, mungkin seberat 0,5 ton. Kerusakannya lumayan parah, stringer patah dan robek pada fuselage skin. Saat itu saya sudah 1 tahun 4 bulan bekerja sehingga mungkin sudah cukup familiar dengan manual. Tantangannya adalah saya harus pergi sendiri dan mengassist mechanic dari MRO lain. Jadi saya dituntut memiliki kemampuan lapangan yang memadai. Yah walaupun sempat kepentok-pentok, finally mission accomplished. Untuk case ini, aspek non teknis ditangani tech rep Cardig.

Untungnya GMF tidak membiarkan engineernya mencari jalan sendiri. Kalau di tahun awal, peningkatan kompetensi lebih banyak diperoleh dari penugasan dan pendampingan, pada tahun kedua mulai banyak training yang saya ikuti. Mungkin sekitar 3,5 bulan waktu habis untuk training. Cukup bervariasi training yang pernah saya ikuti, mulai dari Basic Engineering, sampai Structural Repair for Engineer Part 1, 2 dan 3. Bahkan saya sempat mengikuti Training of Trainers untuk memudahkan saling berbagi - salah satu dari tiga kata kunci yang saya sebutkan di atas.

Kompetensi tentunya tidak melulu aspek teknis, dalam hal ini repair structure pesawat. Memasuki tahun kedua bekerja saya mulai terlibat menjadi PM Document untuk redelivery salah satu pesawat Garuda, B737-400. Tuntutan di sini adalah memahami output yang diperlukan (dokumen redelivery) dan menggerakkan orang-orang (specialist) untuk dapat menyiapkan dokumen tersebut on time. Yang membuat agak rumit adalah, orang-orang tersebut menjadikan pekerjaan ini sebagai sambilan dari pekerjaan utama mereka, sehingga nge-drive dan mengarahkan agar semua bisa berjalan dengan smooth, memerlukan effort lebih.

Tantangan terkini di GMF baru saja saya jalani minggu lalu. Menangani B737NG milik Garuda di Singapura yang tertabrak cargo container. Secara teknis sangat mirip dengan case di Balikpapan yang saya sebutkan di atas. Fuselage skin robek, stringer patah, dekat static port - dan lagi-lagi dari GMF saya berangkat sendiri, sedang repair dilakukan oleh MRO lain. Benar-benar de javu. Sayangnya setiap case adalah unique, sehingga ternyata experience sebelumnya tidak berhasil mempercepat pekerjaan untuk case yang sekarang. Selain aspek teknis, aspek non teknis juga perlu diperhatikan. Anyway, pesawat sudah kembali return to service, dan kita mendapat suvenir dari Garuda Singapura untuk effort yang dilakukan.

Sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa diceritakan, tentang DOA project, tentang handling NLG collapse, tentang pekerjaan rutin yang sangat bervariasi dan menghabiskan waktu. Tantangan ke depan adalah terus meningkatkan hard skill dan soft skill. Let's continue our journey.

.:aer:.
http://aer-reborn.blogspot.com

Minggu, 01 April 2012

Antara Catur dan Aircraft Engineer

Sebenarnya sebuah anomali jika Aircraft Engineer tidak menyikapi catur sebagai sesuatu yang “gue banget”. Karena sejatinya ada banyak kesamaan karakteristik antara catur dengan pekerjaan di Engineering Service. Kita simak beberapa di antaranya:

1.Visioner
Seorang pecatur dituntut untuk memiliki visi jauh ke depan, yah kalau tidak bisa 10 langkah ke depan, bolehlah cukup 2 langkah ke depan. Mengantisipasi semua probabilitas yang ada. Mengantisipasi kemungkinan serangan lawan, atau justru merancang serangan spektakuler jauh ke depan.
Tidak berbeda dengan seorang engineer yang dituntut untuk memiliki visi ke depan. Dalam jangka pendek, untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, visi ke depan diperlukan agar dapat mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin muncul (misal: ketersediaan material). Dalam jangka yang lebih panjang, visi dapat menentukan arah pekerjaan (misal: prioritas).

2.Memahami medan
Pecatur dituntut untuk memiliki penguasaan terhadap seluruh buah catur yang tersebar di papan catur, berikut langkah-langkah yang mungkin dilakukan oleh setiap buah catur. Jika pecatur terlalu memperhatikan satu sisi, dan tidak memperhatikan buah catur yang lain, maka jangan heran jika muncul serangan kejutan dari lawan. Pandangan detil maupun eagle view perlu sesekali dilayangkan.
Dalam pekerjaan, penguasaan terhadap teknis pekerjaan, pemahaman unit yang terkait termasuk capability-nya masing-masing merupakan sebuah keharusan. Semakin dalam dan integral pemahaman kita, semakin mudah kita menemukan alternatif saat menemui jalan buntu. Sebenarnya sebuah jalan disebut buntu bukan karena tidak ada jalan keluar, tetapi karena kita belum menemukan jalan keluarnya.

3.Cermat dan konsentrasi
Sering kekalahan dalam permainan catur muncul karena kita lengah dan hilang konsentrasi. Atau karena kita terlalu bernafsu sehingga kurang teliti. Para pecatur sering menebar ‘jebakan batman’ untuk menundukkan lawannya. Atau mungkin juga karena terlalu menganggap enteng lawan sehingga tidak fokus terhadap permainan.
Kita yang dalam kesehariannya sering 'meratapi' AD compliance yang njelimet atau pekerjaan sejenis, sebenarnya sudah terbiasa untuk bekerja dengan teliti, cermat dan penuh konsentrasi. Jadi saat dihadapkan dengan tantangan catur, seharusnya sudah seperti makanan sehari-hari.

4.Mencuri waktu
Dalam permainan catur, menjadi sebuah advantage jika kita mampu memanfaatkan waktu saat giliran lawan jalan. Mengantisipasi semua probabilitas dan memperkirakan langkah yang akan dilakukan lawan kita, sehingga saat giliran kita, langsung kita dapat melangkah tanpa memerlukan waktu tambahan. Dijamin lawan akan merasa tertekan atau grogi.
Dalam pekerjaan, mencuri waktu juga bisa menjadi advantage. Mengecek email di rumah saat malam hari, atau sebelum berangkat kerja, mengikuti milis-milis yang related sehingga cepat mendapatkan informasi, kesemuanya akan memberikan waktu tambahan kepada kita dalam mempersiapkan diri menghadapi pekerjaan. Sehingga saat orang berkata “tadi saya dengar ada pesawat AOG”, kita langsung bisa menjawab “oh, sudah saya evaluasi dan instruksikan untuk terbang”. Two steps ahead !!

Sebenarnya masih banyak lagi, tapi sementara itu dulu. Jadi as an aircraft engineer, dare to play chess ? :D

.: aer :.
www.aer-reborn.blogspot.com

Senin, 23 Januari 2012

Latsamapta GMF @Setukpa Polri Sukabumi

Saat menerima imel undangan Latsamapta, langsung aku suuzhon sama TH, ngapain sih ngadain Latsamapta, apa sekedar dijalanin karena sudah terlanjur di-programkan. Apa gak ada metode lain yang lebih pas untuk 'orang dewasa' seperti kita. Apalagi setelah kerja beberapa tahun aku ngerasa militansi dan kerja sama udah lumayan bagus, kok harus samapta segala. Akhirnya, saat briefing disampaikan bahwa samapta bertujuan membentuk sikap disiplin, loyal, integritas, mental yang kuat dan fisik prima. Tetap skeptis, tapi aku jalanin aja deh.

Tanggal 10 Januari, perjalanan ke Sukabumi dimulai dengan dilepas 'senior' Samapta batch sebelumnya, Mahar, Amrih, Prima. Perjalanan lumayan lama, menempuh 5 jam. Lokasi yang dituju adalah Setukpa Lemdikpol, Sukabumi, masih beberapa kilometer setelah SPN Lido, Sukabumi.

Sampai di tujuan kita ditunjukkan barak masing-masing. Lumayan sekamar berdua, aku sekamar dengan Eko Prasetyo yang datang terlambat karena masih ada urusan kantor. Satu barak diisi 24 orang dengan 10 kamar mandi. Lebih baik dari yang dikisahkan peserta Samapta batch sebelumnya (mungkin karena kita menempati barak Polwan). Fasilitas makanan juga mencukupi, makan tiga kali sehari dengan 3-4 lauk utama, sayur, buah dan kerupuk, terkadang ditambah sambel. Selain itu diselingi dua kali snack.

Esoknya Latsamapta diawali dengan upacara pembukaan dan dilanjutkan dengan materi NAC (Neuro Associative Conditioning) yang merupakan pengembangan dari training oleh Anthony Robbins. Intinya training ini membangun kepercayaan diri bahwa kita mampu menghadapi tantangan apapun. Dan saya juga menangkap, ternyata masih banyak polisi yang memiliki keinginan tulus untuk memperbaiki diri, instansinya dan masyarakat. Mudah-mudahan saja berhasil - karena aku yakin masih banyak masyarakat yang ill feel terhadap polri. Training ini dipandu oleh Kombes Suseno (Waka Setukpa), dengan salah satu event menariknya adalah 'fire walker', berjalan melewati api.

Training NAC selesai, hari ketiga diadakan tes samapta jasmani. Dengan sisa nafas yang ada (aku peserta tertua lho :D), aku cuma bisa berlari 1880 meter dalam 12 menit (hampir 5 putaran), sit up 34 kali dalam satu menit, dan push up 21 kali dalam satu menit. Tapi menurut Ariya yang menghitung push up, aku terlalu serius push up sampai bawah dibanding peserta lain yang terkadang hanya separuh turun. Pull up ditiadakan karena hujan deras.

Hari berikutnya training interpersonal skill, yang kira-kira materinya tentang ketrampilan komunikasi, observasi, dll, dilanjutkan dengan outbound keesokan harinya. Nah saat oubound, kita dibagi menjadi 3 sindikat, dan diadakan perlombaan antar sindikat. Perlombaan pertama tentang membuat yel-yel, logo dan semacamnya. Udah pasrahlah, perlombaan ini memang bukan tipeku, dan dimenangkan sindikat 3.

Perlombaan kedua tentang menempatkan 5 orang ke dalam bis dengan pekerjaan, suku, umur, hobby dan tujuan yang berbeda. Nah aku merasa perlombaan ini 'gue banget' deh. Trial pertama selesai dengan cepat, tapi setelah aku cek, kok salah. Akhirnya aku coba trial kedua, ketiga, keempat tidak ada yang pas ... dan menyerahlah aku. Apalagi sindikat lain sudah selesai, jadi biarlah temanku yang mengisi kertas untuk presentasi. Ternyata saat sindikat 2 maju mempresentasikan hasilnya, sama persis dengan trial pertamaku. Setelah aku lihat ulang, ternyata aku gak teliti saat mengecek hasil trial pertamaku: sudah benar tapi malah dikira salah. Trial berikutnya jelas makin salah, karena mencoba kombinasi yang berbeda. Yah, pelajarannya harus lebih bekerja sama (sehingga ada second opinion), walaupun dalam pekerjaan yang menurutku memerlukan konsentrasi dan kemandirian. Ternyata giliran sindikatku, aku yang diminta maju presentasi, ya sudahlah 'ngeles mode on'. Walaupun dalam hati merasa "I'm losing my favourite game" (The Cardigans).

Perlombaan ketiga tentang mengeluarkan bola dari pipa bocor dengan menuangkan air ke dalamnya. Dengan heroiknya akhirnya sindikat 1 berhasil memenangkan perlombaan ini. Aku yang kebagian mengisi air ke pipa, lumayan dapat kesempatan mandiin temen-temen ... sorry bro :D. Masih ada beberapa permainan lain dalam outbound, tapi tidak dilombakan antar sindikat.

Hari-hari berikutnya diisi dengan Perdaspol (baris-berbaris), halang rintang, SAR darat, beladiri polri, ekspedisi darat, dan beberapa materi di kelas. Sebenarnya dari samapta ini yang paling aku gak suka adalah lari dan baris-berbaris. Cukup sering kita harus berlari, dan aku harus memompa semangatku sendiri dengan nyanyi keras-keras. Gak tau deh, anggota peleton 1A yang lain jadi tambah semangat atau malah terganggu. Tentang baris-berbaris, ironisnya aku malah ikut peragaan baris-berbaris untuk penutupan, sehingga jadi harus banyak latihan baris-berbaris. Jalani sajalah :) - be professional.

Untuk halang rintang, ada 20 rintangan yang cukup menarik seperti benteng Takeshi. Sayang tidak dilombakan dan dihitung kecepatannya seperti saat tes samapta :D. Untuk SAR darat yang paling menarik adalah rapelling turun dari tower setinggi 15 meter, sebagai simulasi turun dari helikopter. Untuk beladiri polri, yang diajarkan adalah campuran karate dan judo, standar lah. Sedang ekspedisi darat sekedar jalan-jalan di sekitar kompleks Lemdikpol.

Tanggal 20 Januari, Samapta usai. Terima kasih untuk Kompol Sirait dan jajarannya, terima kasih rekan-rekan semua. Minimal dengan Latsamapta ini aku jadi kenal dengan orang-orang yang dari segi pekerjaan jarang berhubungan, selain beberapa materinya cukup menarik. Memang meninggalkan keluarga tanpa komunikasi (HP dikumpulkan) cukup menjadi perjuangan tersendiri.

Para peserta Latsamapta GMF batch 3 (kalau salah tolong dikoreksi dan ditambahin ya..., kok kayaknya ada yg kebolak-balik ya) dari kiri depan: Iptu Edy, Iptu Yadi, Ipda Letmi, Bripka Jupri, Bripka Sri, AKP Jumali, Iptu Bambang, AKP Rohandi; baris dua: Nita, Fika, Dyanti, Hesti, Mutia, Viona, Cindy, Karina, Tika; baris tiga: Denny, Rudy, Warsito, Ginanjar, Eko, Kompol Sirait, Cholik, Ibny, Fattah, Bayu, David, Angga; baris empat: Aris, Junarko, Arif, Sandro, Juni, Fauzi, Agung, Hendi, Ersyad, Cahyo; baris lima: Arie, Ismail, Ali, Asep, Dahlon, Bram, Rizki, Ozi, Dima; baris enam: Doby, Andito, Andriyono, Eko, Andy, Sugiat, Aryo, Jumadi; baris tujuh: Irtan, Rifandi, Ariya, Adit, Judo, Teguh, Yulian, saya.

.: aer :.
www.aer-reborn.blogspot.com

Sabtu, 10 Desember 2011

'Berlibur' ke Australia (Part 2 of 2)

Melanjutkan cerita sebelumnya, hari kedua training (Selasa) kita mulai lebih familiar dengan system transportasi di Brisbane. Untuk perjalanan menggunakan train, memang gampang, karena rute kereta sudah kita download sejak dari Jakarta. Tapi sayangnya sebagian besar tempat - termasuk tempat training - tidak terjangkau rute kereta, sehingga kita harus naik bis. Nah, untuk naik bis, pertama kita harus mencari jalan apa yang terdekat dengan lokasi yang dituju. Biasanya aku menggunakan situs Whereis untuk mencari lokasi. Langkah kedua, kita mencari rute terbaik untuk menuju lokasi, menggunakan situs TransLink. Karena gak ada printer, maka rutenya harus dicatat atau difoto ke kamera digital, untuk contekan di jalan - jangan lupa rute pulangnya juga, lengkap dengan jam bis berangkat di tiap halte. Ternyata di jalan kita juga ketemu cewek Inggris yang menunggu bis yang sama sambil membawa kertas contekan :D. Kita juga mulai aware untuk memakai tiket terusan - Go Card - yang bisa dipakai untuk naik kereta, bis dan ferry dengan harga lebih murah.

Pulang training kita mencoba mencari lokasi money changer, di pusat kota Brisbane - untungnya dekat dengan apartemen sehingga bisa jalan kaki. Kita menyusuri Elizabeth Street sampai Victoria Bridge, kemudian pulang menyusuri Queen Street. Sempat juga kita ketemu casino dan berfoto di Brisbane Square. Sayangnya sudah malem, sehingga session foto-foto tidak berjalan dengan baik. Ada banyak money changer di Queen Street, termasuk Travelex, tapi semua sudah tutup. Besoknya kita pulang langsung menuju money changer dan ternyata dari beberapa tempat yang kita survey, Travelex (sama dengan di bandara) adalah yang termurah.

Di tempat training kita biasa mbawa bekal untuk makan siang. Menunya 'variatif', kadang sarden, kadang kornet, kadang abon dan yang terakhir indomie. Pokoknya sesuai bekal yang dibawa :D. Untuk sholat, aku nyari pojokan dekat tempat makan dan ngegelar mushola, kurang nyaman sih. Kalau trainingnya sendiri, so far so good lah. Mirip kuliahan, tapi ada trik bagaimana mempergunakan rumus standar kuliahan untuk analisis repair di pesawat. Referensinya juga sama, Bruhn, Niu, Petterson, dll. Pesertanya sebagian besar dari Australia, walaupun ada juga dari Selandia Baru dan Rusia. Kalau ujiannya, relatif mudah karena open book, dan nilaiku termasuk yang terbaik di kelas. Hari Jum'at minggu pertama, sebelum ujian aku sempat nyobain flight simulator B727. Yah, lumayanlah untuk iseng, cuman 6 orang yang kebagian nyobain. :D

Menjelang weekend minggu pertama, ada kabar Qantas menghentikan penerbangan karena perselisihan manajemen dengan serikat pekerjanya. Kita sempat khawatir, karena rute pulang harus naik Qantas dari Brisbane ke Sydney. Untungnya beberapa hari kemudian Qantas kembali terbang, sehingga perjalanan pulang kita tidak terganggu.

Nah, waktu weekend, kita iseng jalan-jalan ke Gold Coast, sekedar menikmati suasana. Karena belum musim liburan, pantai tidak terlalu penuh, tapi malah nyaman, kita bisa jalan-jalan menikmati pasirnya yang tebal tanpa terganggu pengunjung lain. Di Goald Coast ini ada traffic light portable, lucu juga kelihatannya.

Minggu kedua untuk mencari suasana yang berbeda, kita pindah ke apartemen Pegasus di daerah Ascot. Ternyata fasilitasnya lebih jelek dibanding Oxygen Apartment, peralatannya lebih kuno. (di Oxygen Apartment, TV nya sudah flat 50" di Pegasus masih model lama, begitu juga AC, mesin cuci, dll). Padahal harga sewa apartemen sama persis. O iya, di apartemen sini standar ada mesin cuci piring, satu-satunya peralatan yang jarang aku temuin di Indonesia. Keuntungan utama apartemen Pegasus, lokasinya lebih dekat dari tempat training, sehingga bisa berangkat agak siangan.

Kalau di Oxygen, banyak tempat keramaian di sekitarnya sehingga kita bisa jalan-jalan keliling, termasuk beli oleh-oleh. Tapi begitu pindah ke Pegasus, aku nyoba keluar sekitar jam 8 malam, suasananya sudah sepi banget. Lebih rame pemukiman di Jakarta. Jadi kita jarang jalan-jalan ke tempat sekitar, paling nyoba jalan ke Brisbane River (tentu pinggiran sungainya tidak seramai di City, dekat Oxygen), sama jalan ke 7Eleven nambah bekal makanan. Kita beli beras dan sarden. Di sini beras dibungkus dalam ukuran 0.5kg, harganya sekitar AUD 2.

Hari Jum'at minggu kedua, setelah ujian aku nyoba nyari mesjid, dan ketemu yang terdekat ada di Fuller Street, sekitar satu jam dari Pegasus. Sebenarnya dari Oxygen gak terlalu jauh, cukup naik train sekali disambung naik bis sekali ke arah utara. Sebenarnya ngiri juga sih, dekat Oxygen banyak banget gereja megah dengan arsitektur kuno. Akhinya hari Sabtunya kita pulang ke bandara naik mobil travel, karena penerbangannya pagi dan kita harus keluar rumah jam 5. Sepagi itu, bis masih susah, sedang stasiun kereta jauh dari apartemen.

Pulangnya sama seperti berangkat kita naik B767 nya Qantas, dilanjut kalau gak salah PK-GPF nya Garuda, dan sampai deh di Cengkareng. O iya di bandara domestik Brisbane, ternyata kita bisa check-in Qantas via mesin yang berjejer, selain bisa juga lewat counter. Mungkin bisa ditiru Garuda untuk mengurangi antrian. Sampai Cengkareng, baru nyadar, ternyata taxi-nya sebagian besar gak mau pake argo dan jatuhnya lebih mahal. Aneh, sebelumnya aku kalau naik taxi - walaupun bukan Blue Bird - selalu pakai argo. Akhirnya aku naik Blue Bird dari lantai dua - biar gak antre ... dan sampailah ke rumah, malam lebaran Idul Adha.

.: aer :.
www.aer-reborn.blogspot.com